Ika Yudha, Berdaya Lewat Sampah

by
Ika Yudha dalam acara peringatan hari sampah nasional Kota Semarang

Perempuan bersahaja itu memandang lekat tumpukan plastik di hadapannya. Pemantik api dalam genggamannya tergetar seiring getaran hatinya. bagaiaman nantinya aku harus bertanggung jawab dengan semua ini? bisik hati kecilnya. Gamang, ia pun kembali ke dalam rumah lalu duduk terpekur. Mendung menggayut di wajahnya, berkali-kali ia mengernyitkan dahi. Sesekali tangannya menyangga kepala dengan tangan kiri memainkan bolpoin yang digunakannya untuk mencatat. Langkah kaki membawanya berkeliling ruang tamu lalu kembali terpekur di depan tumpukan sampah, begitu seterusnya.

Buku kreasi sampah yang baru dibacanya membuat hatinya gelisah. Jika dulu ia selalu membakar sampah tak terurai dari rumah tangganya, kini ia tergerak untuk memanfaatkan sampah yang ada. Setelah terpekur sekian lama, ia pun tersenyum menemukan percikan ide di kepala. Semangat dan optimisme tinggi tergambar jelas di wajahnya.

Ika Yudha dalam acara peringatan hari peduli sampah nasional Kota Semarang

Perempuan itu adalah Ika Yudha Kurniasari yang akrab disapa Ika. Kegelisahannya terkait sampah plastik di rumah dan lingkungannya membuat hatinya tergerak untuk belajar memanfaatkan sampah terutama sampah plastik.

Jiwa enterpreneur-nya yang telah terasah kembali menyala. Memikirkan kelebihan, kekuatan dan peluang serta kelemahan yang dimilikinya. Semua menunjukkan kesimpulan bahwa ia harus terus maju dan belajar secara otodidak mengenai kreasi sampah.

Bahan baku sangat mudah didapatkan karena selalu ada di setiap rumah tangga. Bisa dikatakan modalnya nol karena bisa memintanya secara cuma-cuma kepada tetangga sekitar rumah.

Dengan modal belajar otodidak, ibu dengan 5 putra dan putri itu mulai mengajarkan kreasinya kepada ibu-ibu sekitar rumahnya. Tak dinyana, para tetangga antusias belajar memanfaatkan sampah menjadi barang-barang yang bermanfaat dan bisa digunakan sehari-hari.

Makin lama makin banyak tetangga yang antusias untuk belajar, sehingga beliau kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Kebutuhannya terus bertambah seiring meningkatnya jumlah ibu yang belajar kreasi sampah.

Sementara saat ia berjalan sedikit jauh dari rumahnya di Cokrokembang Semarang Barat, selalu ia dapati sampah berceceran dan berakhir di TPA (Tempat Pembuangan sampah Akhir). Bahkan tumpukan sampah di TPA menjadi masalah lingkungan yang belum juga terpecahkan.

Ika Yudha dengan kreasi sampah-nya yang bernilai seni dan bermanfaat

Dari kegelisahan inilah memunculkan satu keputusan untuk mengisi celah tersebut dengan mendirikan Bank Sampah. Bank Sampah Resik Becik (BSRB) dengan slogan ‘Gerakan Bersih dan Kreatif, bersama ciptakan kemakmuran’ itu pun di-launching pada tanggal 15 januari 2012.

Nasabah pada saat launching hanya 15 orang, terdiri dari tetangga sekitar. Ika pun harus telaten mengingatkan para tetangga untuk mulai memilah sampah rumah tangganya. Sampah kering dipisahkan dengan sampah basah, organik dan anorganik, dll. Lalu sampah kering pun dipisahkan lagi sesuai jenisnya, seperti koran, majalah, kertas, kardus, plastik kemasan, botol air mineral, dll. Semuanya bisa disetorkan ke BSRB dengan imbalan uang dan tercatat sebagai tabungan. Tabungan tersebut bisa dicairkan setiap bulan. Baru-baru ini dibuat program baru yakni program beli sembako dengan sampah dan gerakan sedekah sampah.

Berbagai cibiran dan pandangan miring banyak orang tak pernah menyurutkan niat dan langkahnya untuk mengelola sampah. Bismillah, lillah menjadi orang yang bermanfaat, tekadnya. Kegiatan demi kegiatan beliau lakukan di sekretariat BSRB yang tak lain adalah rumahnya. Berkali-kali produknya diikutkan dalam pameran kreasi untuk kampanye peduli sampah.

Sekian tahun melalui perjuangan menjaga lingkungan, harapan alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip ini mulai terwujud nyata. Kreasi sampahnya telah berkali-kali mendapatkan penghargaan. Tak hanya itu, kesadaran masyarakat terutama di lingkungan sekitar beliau semakin meningkat. Bahkan beliau mendapatkan penghargaan kalpataru tingkat Jateng 2 tahun berturut-turut dalam kategori perintis lingkungan.

Nasabah Bank Sampah Resik Becik kini telah mencapai lebih dari 400 orang dengan luas cakupan meliputi kelurahan dan kecamatan lain. Nasabah pun berupa perorangan dan komunal (kelompok masyarakat/lembaga). Beliau juga berperan aktif dalam kepengurusan Paguyuban Bank Sampah Kota Semarang sebagai wakil ketua.

Keberhasilan Ika merintis dan mengembangkan bank sampah tidaklah dilalui dengan mudah tanpa ada supporting system yang kokoh. Pengertian dan dukungan besar dari keluarga (terutama suami dan anak-anak) adalah kunci utamanya.

Namun menurut beliau, masih ada tantangan yang harus dihadapi yakni bagaimana mengubah mindset masyarakat terkait sampah dan penghargaan atas proses kreatif kreasi daur ulang sampah.

“Saya berharap ada gerakan dan komitmen bersama untuk mewujudkan Indonesia bebas sampah 2025.” Ujar perempuan yang juga aktif sebagai pengurus bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jateng ini.

Mari, peduli sampah dan peduli lingkungan demi bumi kita tercinta.

Mengajarkan cara membuat ecobrick kepada anak-anak

Sekilas Tentang kegiatan Bank Sampah Resik Becik

– Mendorong Masyarakat untuk pilah sampah

– Mengadakan tabungan sampah

– Mengelola sampah anorganik

– Pembuatan lubang biopori

– Pembuatan ecobrick

– Membuka lapangan kerja terkait kreasi sampah

– Penyuluhan  bertema lingkungan, bahaya sampah plastik, dan manajemen bank sampah

– Pelatihan ketrampilan kreasi daur ulang sampah

– Pendampingan siswa magang dan pertukaran mahasiswa

– Lokasi belajar untuk puncak tema lingkungan bagi berbagai sekolah

– Gerakan sedekah sampah

– Gerakan tukar sampah dengan sembako

 

Prestasi Ika Yudha Kurniasari

– Menjadi salah satu titik pantau penilaian Adipura kota Semarang sejak tahun 2012 hingga sekarang

– Mendapat sertifikat kalpataru tingkat Jateng kategori perintis lingkungan pada thn 2015 & 2016

– Juara 1 lomba kreasi sampah IWAPI 2014

– Mewakili bank sampah kota Semarang pada rakornas bank sampah di Palembang 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *