Kisah Mbah Katiyah Wonogiri: Terbatas, Tapi Hafalan Qur’annya Banyak

by
Rumah Mbah Katiyah Wonogiri.
Gravatar Image
Ikuti Saya

Dwi Purnawan

Menulis adalah cara hilangkan penat, selain yang utama adalah mengingat kebesaran Nya.
Gravatar Image
Ikuti Saya
Rumah Mbah Katiyah Wonogiri.

WONOGIRI, Jatengkita.id – Sepuh usianya. Namun itu semua tak menghalangi niat baik untuk semakin mendekat kepada-Nya. Paling tidak, sekali dalam sepekan berusaha datangi majlis taklim ibu-ibu yang bertempat di masjid desa. Jangan dibayangkan kalau rumah sederhana itu letaknya berdekatan dengan masjid.

Perlu perjuangan tersendiri untuk menuju ke sana. Terlebih, bagi seorang penderita katarak sepertinya, yang akhirnya kini harus pasrah menerima satu warna saja dalam kehidupannya: hitam. Gelap. Setelah sekian lama mengikhtiarkan pengobatan untuk sakitnya.

Mbah Katiyah. Demikian nama perempuan luar biasa ini. Saat ini hanya tinggal berdua dengan suami tercinta, mbah Karnen. Di satu sudut dusun Karangasem Ngancar Giriwoyo, tepatnya di wilayah RT 03, yang dikenal sebagai wilayah tertinggi. Ngereng-ereng.

Untuk menuju masjid, mbah Katiyah harus menempuh perjalanan puluhan meter jalan yang tidak rata. Naik dan turun. Dengan kondisi yang cukup curam. Alhamdulillah, belum lama ini dua pertiga jalan yang harus dilalui sudah dibangun. Rabat beton.

Dengan dana desa dan swadaya masyarakat. Lumayan. Sedikit memudahkan proses perjalanan mbah Katiyah menuju masjid. Tongkat kayu kecillah yang menjadi teman setianya selama ini. Mengenali dan memilih jalan yang sebelumnya rusak. Nggronjal, kata orang Jawa.

Bisa dibayangkan jika kondisi hujan. Apalagi, sepertiga jalan menuju rumah beliau masih berupa tanah. Licin. Sedangkan tetangga terdekatnya hanya ada satu keluarga. Karena lingkungan tempat tinggal mbah Katiyah memang termasuk wilayah terpencil di desa Ngancar.

Justru yang banyak menyapa adalah sekawanan kera yang tinggal di hutan di atas wilayah tersebut. Terlebih jika musim kemarau tiba. Hutan meranggas, persediaan makananpun menipis. Mau tak mau, hasil perkebunan dan pertanian warga yang diincar.

Meskipun demikian, simbah yang salah satu putranya baru saja wafat ini pantang menyerah. Setiap Rabu siang selalu menghadiri majelis taklim di masjid desa.

Dengan tertatih tentunya. Jarak dan kondisi jalan tak dihiraukan. Semangat untuk tolabul ilmi itu demikian besarnya. Terlebih, mbah Katiyah termasuk satu di antara segelintir lansia yang memiliki hafalan ayat Qur’an yang cukup banyak.

Hal tersebut terbukti di acara Gebyar Muharam 1439 Hijriah lalu. Yang diselenggarakan atas support Rumah Zakat. Penghargaan terbaik untuk Lomba Sambung Ayat pun diraihnya.

Bahkan pernah salah seorang santri Rumah Qur’an menceritakan. Suatu saat, ia sedang menghafalkan surat Al-mulk di serambi masjid. Tiba-tiba sampai di ayat tertentu, mbah Katiyah mengoreksi dan membetulkan. Santri yang masih kelas 5 SD tersebut sontak terkagum-kagum.

Mbah Katiyah.

Tak ayal lagi, ketika desa berdaya Ngancar menjadi tuan rumah pengajian akbar Jum’at Kliwon tingkat kecamatan, mbah Katiyah didaulat ke atas panggung. Tak sekedar tilawah, namun tahfidzul Qur’an.

Dengan didampingi putri dan seorang tetangganya. Prestatif, karena acara pengajian tersebut dihadiri kurang lebih 7 ribuan orang. Tidak sedikit jama’ah pengajian yang menitikkan air mata karena haru. Tepatnya lagi, malu. Karena ternyata kesempurnaan fisik yang dimiliki kurang dioptimalkan.

Sebagaimana mbah Katiyah. Dengan semangatnya yang tak pernah padam. Meski harus berada dalam keterbatasan. Tetap menginspirasi. Bahwa keterbatasan itu bukanlah halangan untuk menjadi yang terdepan.

About Author: Dwi Purnawan

Gravatar Image
Menulis adalah cara hilangkan penat, selain yang utama adalah mengingat kebesaran Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *