Bulan Juni Masih Sering Hujan, Ini Penyebabnya

  • Share

Jatengkita.id – Akhir- akhir ini cuaca ekstrem melanda beberapa wilayah di Indonesia. Memasuki musim kemarau namun masih sering terjadi hujan. Sampai ada yang mengatakan bahwa bulan Juni seperti bulan Januari. Karena hujan yang masih mengguyur di sejumlah wilayah, khususnya di Semarang.

Bulan Juni yang seharusnya sudah musim kemarau namun masih sering mendung dan turun hujan. Sehingga terlontar pertanyaan dari seseorang mengapa di bulan Juni masih saja turun hujan di Kota Semarang?

Di Kota Lumpia ini walaupun sudah masuk musim kemarau, tapi yang terjadi adalah cuaca yang berawan hingga hujan lebat. Khususnya saat menjelang sore sampai malam hari.

Dilansir dari ayosemarang.com, menurut Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, Iis Widya Harmoko, membenarkan adanya fenomena cuaca yang terjadi belakangan ini. Hal ini dikarenakan suhu muka laut di wilayah Indonesia memang sedang hangat.

Menurut analisis Iis, “Suhu yang hangat tersebut dapat menyebabkan tingginya penguapan air laut. Secara otomatis keadaan itu mengakibatkan proses pembentukan awan. Setelah awan terbentuk, dibawa angin timur ke daratan. Sehingga hal tersebut menjadikan penyebab mengapa di Semarang masih diguyur hujan walaupun sudah masuk musim kemarau. Dan kondisi ini merupakan hal yang wajar – wajar saja”, ungkap Iis.

Sejak beberapa minggu yang lalu BMKG telah memantau kondisi ini. Iis juga mengungkapkan bahwa, suhu muka laut normal menuju dingin. Hal ini diperkirakan karena sirkulasi air laut yang hangat dari wilayah Utara Ekuatornya mengalir serta mengumpul di wilayah Indonesia. Terutama di wilayah selatan Jawa.

Hujan lokal yang seringkali terjadi juga disebabkan karena kondisi tersebut. Tetapi walaupun demikian, musim kemarau pada tahun 2021 ini tidak sekering tahun 2019 dan tidak sebasah seperti di tahun 2020.

Iis juga memberikan himbauan kepada masyarakat untuk terus waspada dengan perubahan cuaca yang sedang terjadi akhir – akhir ini. Sebab hujan musim kemarau di tahun 2021 ini, layaknya hujan ketika masa transisi. Masyarakat diharapkan untuk tetap menjaga kesehatan, serta banyak makan makanan yang bergizi.

Peneliti Klimatologi PSTA-Lapan Erma Yulihastin, mengatakan bahwa terdapat alasan yang melatarbelakangi akan hal ini. Sedangakan menurut Lapan, yang dilansir dari akun instagram resminya, musim kemarau kali ini berpotensi (kembali) Basah.

Fenomena hujan yang masih terjadi di musim kemarau pada tahun ini karena adanya pengaruh dinamika laut atmosfer Samudera Hindia. Dinamika itu merujuk pada pembentukan pusat tekanan rendah yang berupa pusaran angin (vorteks).

Vorteks ini terjadi di dekat pesisir barat Jawa dan Sumatera, tepatnya di selatan ekuator. Menurut prediksi pembetukan dari vorteks sudah sangat intensif mulai awal Juni di Samudera Hindia. Hal tersebut mengakibatkan anomali musim kemarau cenderung basah di bulan Juli hingga Oktober 2021. Prediksi dari Lapan juga diperkuat dengan adanya pembentukan Dipole Mode negatif yang terdapat di Samudera Hindia.

Dipole Mode negatif ini selain menimbulkan fase basah pada wilayah Indonesia bagian barat, juga menjadi tanda bahwa suhu di permukaan laut Samudera Hindia yang dekat dengan Sumatera menjadi hangat.

Sementara itu, di dekat Afrika terjadi pendinginan suhu di permukaan air laut. Sehingga mengakibatkan pemusatan aktivitas dari awan dan hujan di Samudera Hindia pada bagian barat Sumatera. Adanya pemusatan itu mengakibatkan terjadinya hujan pada musim kemarau di beberapa wilayah Indonesia saat ini.

Selain itu, peningkatan suhu di permukaan laut Samudera Hindia yang mengalami penghangatan di bagian barat Sumatera juga sebagai dampak dari adanya La Nina yang terjadi di Samudera Pasifik.

Meskipun demikian, Dipole Mode negatif diprediksi akan terjadi dalam waktu yang singkat, Juli hingga Agustus. Maka Erma mengatakan bahwa hal itu belum memenuhi kriteria Dipole Mode negatif yang terjadi tiga bulan berturut-turut. Kemudian untuk vorteks dan penghangatan suhu permukaan air laut ini akan terus eksis hingga Oktober mendatang.

  • Share
Exit mobile version