Berusia Ratusan tahun, Inilah Masjid- Masjid Tertua di Jawa Tengah

  • Share

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, tidak heran kita dapat menjumpai banyak Masjid di setiap penjuru nusantara, salah satunya di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah sendiri, penduduk yang bergama muslim sebanyak 35 juta jiwa. Maka ketika sedang bepergian, umat muslim akan mudah menemukan masjid maupun mushola untuk beribadah.

Jawa tengah sendiri merupakan wilayah di pulau jawa yang memiliki perkembangan agama islam tercepat, khususnya pada masa walisongo, ditandai dengan adanya masjid Agung Demak. Namun, tahukah anda bahwa ada masjid yang memiliki usia ratusan tahun bahkan menjadi masjid tertua di Jawa Tengah. Berikut masjid-masjid tertua di Jawa Tengah.

  1. Masjid Sekayu
Foto: Inibaru.id

Masjid yang berlokasi di pemukiman padat penduduk, tepatnya di Kampung Sekayu, Kota Semarang. Masjid Sekayu merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah. Sebagian masyarakat mengira Majid Agung Demak merupakan masjid yang tertua di Jawa Tengah, namun ternyata Masjid Sekayu ini dibangun terlebih dahulu sebelum Masjid Agung Demak.

Berdiri pada tahun 1413, masjid ini pada awalnya bernama Masjid pekayuan. Didirikan oleh seorang ulama asal Cirebon, Kyai Kamal. Beliau adalah salah satu murid kepercayaan Sunan Gunung Jati.

Pada masa walisongo, tepatnya pada saat proses pembangunan masjid Agung Demak, kawasan ini digunakan untuk menyimpan kayu-kayu jati pilihan untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Kyai Kamal yang bertugas mengumpulkan kayu-kayu tersebut membangun masjid di sana, untuk memudahkan para pekerjanya menunaikan ibadah sholat.

Hingga saat ini, masjid Sekayu masih aktif digunakan oleh masyarakat sekitar untuk sholat berjamaah, mengaji, dan juga acara keagamaan lainnya. Masjid ini juga mengalami perbaikan pada tahun 2006-2009, sehingga tampak lebih modern. Walaupun masih ada bagian bangunan masjid yang dijaga keasliannya seperti, mustoko puncak kubah, tiang penyangga, dan pintu masuk masjid.

2. Masjid Agung Demak

Foto : Dinas Pariwisata Kabupaten Demak

Masjid Agung Demak berlokasi di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah, dan selesai dibangun pada tahun 1479 oleh Kesultanan Demak, Raden Patah. Berjarak delapan tahun dari Masjid Sekayu, Masjid Agung Demak menjadi salah satu masjid tertua di Jawa Tengah.

Masjid ini dipercaya menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama islam di pulau Jawa atau biasa disebut dengan Wali Songo. Bangunan ini memiliki 4 tiang utama yang disebut sebagai saka guru dan atapnya berbentuk limas yang ditopang 8 tiang atau biasa disebut dengan saka Majapahit.

Atap limas masjid terdiri dari lima tiga bagian yang menggambarkan; (1) Iman, (2) Islam, (3) Ihsan. Di dalam kompleks Masjid in, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Terdapat juga Museum Masjid Agung Demak yang berisi berbagai hal mengenai riwayat masjid Agung Demak. Masjid ini juga pernah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.

3. Masjid Saka Tunggal

Masjid Saka Tunggal yang terletak di desa Cikakak, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah. Didirikan oleh Kyai Mustolih pada 1288 dan keterangan berdirinya masjid ini tercatat dengan jelas di tiang utama masjid.

Namun ada beberapa  versi terkait tulisan yang terdapat dalam tiang utama masjid tersebut. Dikutip dari Muhammad Abdullah dalam Peninggalan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisi Banyumas (2011) menyebutka bahwa, masjid Saka Tunggal berdiri pada 1288 Masehi. Adapun versi lainnya mengatakan bahwa angka 1288 yang dimaksud adalah tahun dalam penanggalan hijriah atau tahun Islam, yang bila dikonversikan ke kalender masehi menunjukkan tahun 1522 M.

Masjid ini memiliki 1 tiang di bagian bawah yang menggambarkan bahwa Allah SWT itu satu. Pada mimbar masjid terdapat ukiran berupa dua buah surya mandala yang melambangkan dua pedoman umat muslim yakni, Al-Quran dan hadits. Ornamen-Ornamen yang terdapat pada masjid ini  sangat kental dengan simbol nilai-nilai islami yang bersinergi dengan adat-istiadat Jawa. Ini menggambarkan harmonisasi islam dengan budaya lokal yang sudah ada sebelumnya.

4. Masjid Menara Kudus

Foto : LPM Institut

Masjid Menara Kudus berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dibangun pada 1549 oleh Sunan Kudus, dan menjadi salah satu masjid tertua di jawa tengah.

Berbentuk seperti candi, masjid ini bisa terbilang unik. Sedangkan menaranya menggambarkan perpaduan budaya Islam dan Hindu di masa lampau. Memiliki lima buah pintu di masing-masing sisinya. Delapan tiang besar di dalam masjid yang berasal kayu jati. Masjid ini mengalami renovasi pada 1918-an, yang kini ukurannya lebih besar dari ukuran aslinya. Di dalam kompleks masjid terdapat padasan, yang merpakan peninggalan kuno dan dijadikan sebagai tepat wudhu.

Menara kudusnya sendiri, memiliki ketinggian 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan menara dihiasi dengan piring-piring bergambar berjumlah 32 buah. Terdiri dari tiga bagian; (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya.

Sampai saat ini masih banyak umat muslim yang berkunjung ke Masjid ini. Selain untuk beribadah, pengunjung juga sekaligus berziarah ke makam Sunan Kudus, yang terletak di sisi barat kompleks masjid. Pada saat menyambut bulan ramadan, biasanya masjid ini juga digunakan untuk festival Dhandangan oleh warga setempat.

5. Masjid Mantingan

Foto : Obrolan Islam dan pernak-perniknya

Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Astana Sultan Hadlirin adalah salah satu masjid kuno yang didirikan pada tahun 1559 oleh Kesultanan Demak. Masjid Mantingan berlokasi di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, yang berjarak sekitar 5 km arah selatan dari kecamatan Jepara, Jawa Tengah.

Riwayat masjid ini, berkaitan dengan Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadlirin, yang dimakamkan di sana. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa, Ratu Kalinyamat adalah putri dari Sultan Demak, Pangeran Trenggana. Menurut cerita masyarakat setempat, arsitek masjid ini adalah Chi Hui Gwan (Tjie Wie Gwan), atau Patih Sunggih Badarduwung.

Dengan gaya arsitektur China, masjid ini digunakan sebagai salah satu pusat penyebaran agama islam di pesisir pulau Jawa. Gaya arsitekturnya secara keseluruhan merupakan campuran dari kebudayaan Hindu-Budha, Jawa, dan Tionghoa. Atapnya berbentuk tumpang dan mustaka yang merupakan akulturasi masa majapahit dan Tionghoa, sedangkan kebudayaan Jawa dapat dilihat dari gapura masuk masjid dan sebuah petilasan candi di dekat masjid.

Pada tahun 1977 dan 1978, dilakukan pemugaran terhadap Majid Mantingan. Dalam pemugaran tersebut, ditemukan enam panel relief, sejumlah balok batu putih, dan fondasi bangunan kuno.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *