W.R. Supratman, Sang Maestro Lagu Indonesia Raya

  • Share

Sebagai warga negara Indonesia, kita mengenal lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan kita. Lagu Indonesia Raya sering dikumandangkan diberbagai kesempatan. Saat masih di bangku sekolah misalnya, kita pasti sering menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika upacara bendera di hari Senin. Ketika menyanyikan lagu nasional tersebut ada rasa patriotisme yang terasa dalam diri kita. Dibalik lagu Indonesia Raya yang mengagumkan, ada sosok pencipta lagu yang begitu menginspirasi, yaitu Wage Rudolf Supratman atau yang kita kenal dengan W. R Supratman. Mungkin sebagian dari kita hanya mengenal sosoknya sebagai pencipta lagu Indonesia Raya saja, namun lebih dari itu W.R. Supratman memiliki sejarah hidup menarik untuk diketahui. Berikut beberapa fakta mengenai W. R Supratman yang perlu Anda ketahui,

  1. Sejarah Singkat Hidup W.R. Supratman

Wage Rudolf Supratman merupakan anak dari pasangan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, seorang tentara KNIL Belanda dan ibunya bernama Siti Senen. W. R Supratman merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara dan kakak sulungnya bernama Roekijem. Secara resmi W. R Supratman tercatat lahir di Meester Cornelis (sekarang bernama Jatinegara) pada tanggal 9 Maret 1903 dan tanggal tersebut diresmikan sebagai Hari Musik Nasional oleh Megawati Soekarnoputri.

Namun pada tanggal 29 Maret 2007, Pengadilan Negeri Purworejo memutuskan bahwa tanggal lahir W. R Supratman adalah 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. W. R Supratman memang lahir di Somongari, Puwerejo, namun pada usia tiga bulan setelah lahir Supratman dibawa pindah ke Jatinegara, maka dari itu sang ayah mendaftarkan kelahirannya saat di Jatinegara.

W.R. Supratman memulai pendidikannya pada saat usia 4 tahun dengan bersekolah di Frobelschool (Taman Kanak Kanak) di Jakarta pada tahun 1907. Kemudian ia tinggal di Makassar bersama kakaknya Ny. Rukiyem dan melanjutkan pendidikan di Tweede Inlandscheschool (Sekolah Angka Dua) dan menyelesaikannya pada tahun 1917. Selanjutnya pada tahun 1919, W. R Supratman lulus ujian Klein Ambtenaar Examen (KAE, ujian untuk calon pegawai rendahan). Setlah lulus ia melanjutkan pendidikan ke Normaalschool (Sekolah Pendidikan Guru).

Mulai tahun 1933-1937 W. R Supratman hidup secara berpindah-pindah mulai dari Jakarta sampai ke Cimahi, lalu ke Pemalang. Kemudian pada bulan April tahun 1937, W. R Supratman dibawa oleh kakaknya Ny. Rukiyem ke Surabaya dalam keadaan sakit.  Pada tanggal 7 Agustus 1938, W. R Supratman ditangkap Belanda di Studio Radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep) di Jalan Embong Malang Surabaya. Ia ditangkap lantaran lagunya yang berjudul “Matahari Terbit” dinyanyikan pandu-pandu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) di radio tersebut dan dianggap sebagai wujud simpati terhadap Jepang, yang kemudian dilepaskan karena kurangnya bukti-bukti.

Pada tanggal 17 Agustus tahun 1938 hari Rabu Wage, W. R Supratman meninggal dunia karena kondisi kesehatannya yang semakin menurun akibat gangguan jantung yang dideritanya. W. R Supratman meninggal di Jalan Mangga No. 21 Tambak Sari, Surabaya dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kapasan, Jalan Tambak Segaran Wetan, Surabaya.

Atas jasa-jasa beliau, W. R Suprataman mendapatkan penghargaan berupa pemindahan dan perbaikan makam. Pada tanggal 17 Agustus 1960 pemerintah Republik Indonesia memberikan anugerah Bintang Mahaputra Anumerta III. Kemudian melalui surat Keputusan Presiden RI No.16/SK/1971 pada tanggal 20 Mei 1971 menganugerahkan gelar “Pahlawan Nasional” kepada W. R Supratman serta melalui Surat Keputusan Presiden RI no.017/TK/1974 pada tanggal 19 Juni 1974 Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama kepada W. R Supratman.

  1. Perjalanan Karir W. R Supratman

Kecintaan W. R Supratman terhadap musik sudah ada sejak remaja. Pada saat ulang tahunnya yang ke-17, ia mendapatkan hadiah berupa gitar dan biola dari kakak iparnya yaitu Willem Van Eldick. Kemudian pada tahun 1920, tepatnya saat menetap di Makassar ia membuat sebuah band jazz bernama Black and White bersama kakak iparnya tersebut. Band Black and Whitepun tumbuh menjadi idola pada masanya.

Jalan karir lain yang ditekuni oleh W. R Supratman adalah menjadi seorang guru dan juga sesekali bermain teater untuk mencari tambahan penghasilan. Selain itu, W. R Supratman muda juga memiliki karir gemilang di bidang jurnalistik. Pada tahun 1924 W. R Supratman pindah dari Makassar ke Bandung dan bekerja menjadi jurnalis untuk koran Kaoem Moeda yang sempat di pimpin oleh Abdoel Moeis seorang tokoh nasional pada masa itu. Setahun kemudian, setelah dari koran Kaoem Moeda, W. R supratman melanjutkan karir sebagai jurnalis untuk koran Sin Po yang berada di Jakarta.

  1. Lagu Indonesia Raya

Kepiawaian W. R Supratman dalam bermusik melahirkan berbagai karya lagu-lagu perjuangan, yang salah satunya adalah lagu nasional kita, Indonesia Raya. Awal mula W.R. Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya karena merasa tertantang dengan tulisan yang terdapat di majalah Timbul, dimana penulis menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan sebuah lagu kebangsaan.

Setelah mulai bekerja di Sin Po, W. R Supratman sering menghadiri rapat-rapat organisasi pemuda dan rapat-rapat partai poltik yang diadakan di Gedung Pertemuan di Batavia serta mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan. Yang kemudian membawa W. R Supratman ikut terlibat dalam Kongres Pemuda Kedua pada tanggal 27-28 Oktober 1928, dimana untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya diperdengarkan. W.R. Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan iringan biolanya di depan seluruh peserta kongres pada waktu itu.

Foto : Grid.Id

Lagu tersebut dimainkan sebelum dibacakannya putusan Kongres Pemuda yang sekarang kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda. Setelah memperdengarkan lagu Indonesia Raya, W. R Supratman mulai dimata-matai Belanda dikarenakan pada lagu tersebut terdapat kata “Merdeka, Merdeka”. Sehingga pada tahun 1930, Pemerintah Belanda melarang rakyat Indonesia untuk menyanyika lagu Indonesia Raya.

Itulah kisah hidup sang maestro lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman yang penuh dengan inspirasi dan patriotisme. Sebagai masyarakat Indonesia sudah sepatutnya kita mengenal jasa-jasa para tokoh pahlawan terdahulu dan mengambil banyak pembelajaran terutama dalam hal kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *