Yuk! Kenalan Lebih Dekat dengan Demak

  • Share

Jatengkita.id – Kabupaten Demak merupakan daerah di provinsi Jawa Tengah yang tepatnya berada di sebelah timur Semarang. Secara bahasa nama Demak sebenarnya berasal dari bahasa arab yaitu “Dhima” yang memiliki arti rawa. Sesuai dengan namanya memang benar adanya jika dahulu tanah di Demak merupakan rawa. Sehingga tidak heran ketika musim hujan sering tergenang air dan seringkali juga jalanan di sana rusak akibat tanahnya yang labil dan bekas rawa.

Demak yang memiliki luas kurang lebih 800 km2 dan jumlah penduduk kurang lebih sebanyak 1,2 juta jiwa ini, terkenal dengan wisata religinya sehingga diberi julukan sebagai Kota Wali. Selain diberi julukan sebagai Kota Wali, Demak juga dijuluki sebagai Kota Jambu, Kota Belimbing serta Kota Beramal. Julukan – julukan itu menunjukkan ciri khas tersendiri dari Demak. Untuk lebih mengenal dekat dengan Demak, yuk kita bahas!

Sejarah Demak

Berbicara tentang sejarah Demak maka akan diawali dengan kisah pada 6 abad yang lalu mengenai Raden Patah dengan Sunan Ampel. Pada mulanya Raden Patah melaksanakan perintah untuk pergi ke arah Barat. Kemudian dalam perjalannya singgah di sebuah tempat yang mana tempat tersebut kaya akan jenis tanaman Gelagah Wangi. Tanaman Gelagah Wangi tepatnya berada di Sungai Tuntang. Sungai yang populer di daerah Ambarawa dan suangi ini pun bersumber dari Gunung Merbabu, Salatiga.

Asal muasal nama Demak dalam bahasa Jawa Kuno dari asal kata “damak” yang berarti anugerah. Sedangkan menurut bahasa Arab,  Demak dari Dummu yang berarti perjuangan atsa masa yang susah serta beratnya perjuangan umat muslim dan mubaligh di dalam menyebarkan Islam di Demak. Mereka berusaha untuk bekerja keras dalam berdakwah dan melakukan munajat kepada Allah SWT agar dikuatkan dan dilindungi.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Demak dahulu merupakan sebuah Kesultanan ke-empat se Asia Tenggara dan nomor 3 di Tanah Air. Kala itu Demak sebagai pusat Pemerintahan serta pusat penyebaran agama Islam oleh para Walisongo. Pada saat itu bertepatan juga dengan kedatangan Portugis ke Tanah Air setelah usainya Kerajaan Majapahit. Sampai pada akhirnya pengaruh dari Demak menyebar ke Aceh.

Demak apabila ditinjau dari penamaannya, maka akan semakin paham bahwa bagaimana sejarah itu ada dan tercipta. Saat ditinjau dari beberapa penjelasan kemudian dikaitkan dengan meluasnya penyebaran Islam oleh mubaligh serta penyiarnya kala itu, sampai pada akhirnya muncul nama Demak karena faktor dari struktur geografisnya yang wilayahnya itu berasal dari rawa serta perairan yang melimpah sumber daya air.

Brown Canyon-nya Demak

Wisata religi di Demak sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas. Namun, perlu diketahui selain adanya wisata religi di Demak ternyata juga mempunyai tempat wisata alam yang tidak kalah menarik. Nama tempat wisata itu adalah Brown Canyon. Brown Cayon terletak di sebuah desa yang bernama Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Demak.

Hal yang menarik dari wisata alam Brown Canyon ini adalah adanya tebing – tebing terjal yang indah. Tempat itu pada asalnya adalah galian C bekas tambang. Lalu dari sisa – sisa galian tambang itulah membentuk panorama seperti Grand Canyon di Amerika Serikat. Pemandangan semakin menawan dengan adanya beberapa bukit yang menjulang dengan warna cokelat yang berasal dari batu cadas.

Menikmati pesona alam di Brown Canyon ini cocok dijadikan salah satu daftar tujuan liburan anda. Sehingga dapat melepas penat dan mengembalikan produktivitas. Untuk alamt lengakapnya berada di sebuah desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Agar lebih memudahkan dalam pencariannya lokasinya maka untuk mengunjunginya bisa terlebih dahulu melakukan pencarian di google maps.

Masjid Agung Demak

Salah satu bagian yang ikonik dari Kota Beramal adalah adanya masjid kuno dan tertua di Tanah Air, yaitu Masjid Agung Demak. Masjid ini dibangun sejak abad 15 Masehi oleh Kerajaan Demak pada era pemerintahan Raden Patah dan dibantu juga Walisongo. Lokasi dari masjinya berada di Kampung Kauman, Bintoro, Demak, Jawa Tengah. Tepatnya berada di Alun – alun sehingga tidak susah untuk mencarinya.

Berdasarkan cerita yang ada di masyarakat sekitar, adanya Masjid Agung Demak ini pada mulanya merupakan tempat para Walisongo berkumpul dan kemudian mereka menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sehingga ini yang juga sebagai latar belakang mengapa Demak dinamakan sebagai Kota Wali. Masjid Agung Demak memiliki arsitektur yang unik. Meski sederhana namun terlihat megah, indah dan kharismatik. Pada bagian atapnya memiliki bentuk 3 limas yang tersusun, sebagai gambaran mengenai akidah dalam agama Islam yang terdiri dari Islam, Iman dan Ihsan. Tiang penyangga utamanya teridiri dari empat tiang yang dibuat oleh para Walisongo secara langsung. Tiang yang berada di sebelah Timur Laut dibuat Sunan Kalijaga, Tiang sebelah Tenggara dibuat oleh Sunan Ampel, Barat Daya dibuat oleg Sunan Gunung Jati dan bagian Barat laut dibuat oleh Sunan Bonang.

Hal yang paling menarik lainnya adalah pada bagian pintunya yang konon dapat menangkal petir, sehingga disebut dengan Pintu Bledheg. Pintu tersebut adalah prasasti Candra Sengkala yang dibuat Ki Ageng Selo, yang bunyinya Nogo Mulat Sarira Wani dan bermakna tahun 1466 Masehi (1388 Saka). Lalu pada bagian terasnya ada delapan tiang yang menopang teras Masjid Agung Demak dan dinamakan Saka Majapahit.

Kota Jambu dan Kota Belimbing

Selain terkenal dengan julukan Kota Wali, Demak juga dijuluki dengan Kota Buah Jambu dan Belimbing. Hal yang mendasari dari julukan itu tentu saja karena di sana dapat dengan mudah menemukan kedua buah tersebut. Karena banyaknya pohon belimbing di sana maka terciptalah suatu agrowisata budi daya belimbing tepatnya di Desa Betokan, Demak. Rasa yang membedakan belimbing di Demak dengan yang lainnya adalah terasa manis dan segar.

Kemudian untuk jambu terdapat beberapa jenis, seperti Jambu Citra, Jambu Delima, dan Jambu Madu. Ketiganya memiliki rasa yang berbeda, untuk Jambu Citra cenderung lebih basah/berair, agak masam namun segar. Kemudian Jambu Delima memiliki warna merah, rasa manis, segar dan teksturnya sedang. Sedangkan Jambu Madu, memiliki perpaduan antara kedua jambu sebelumnya yaitu ukurannya besar, rasanya manis dan segar. Jambu Madu ini merupakan hasil persilangan antara dua varietas Jambu Delima dan Jambu Citra. Sehingga menghasilkan varietas unggulan. Namun, apapun jenis varietas jambunya maka kembali lagi ke peminatnya karena pilihan selera rasa setiap orang tentu berbeda – beda. Bisa disesuaikan dengan kondisi orangnya ataupun olahan apa yang cocok dari jambu itu.

Yang terpenting dari buah jambu atau belimbing ini adalah ciri khas dari Demak yang sangat penting untuk dikembangkan demi kemakmuran masyarakatnya. Sehingga mampu mendatangkan manfaat bersama, baik dari sektor pendidikan, sosial, ekonomi maupun pariwisatanya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *