Stop Bicara Cadel ke Bayi! Lebih Baik Lakukan Ini

  • Share
instagram : mputrasetia
instagram : mputrasetia

JatengKita.id-amah atiit eyuut” tanpa membuka kamus bahasa manapun sedulur pasti sudah langsung bisa memahaminya. Sedulur mungkin berfikir bahasa bayi terdengar lucu dan bisa mengakrabkan orang dewasa dengan balita. Tapi tahukah sedulur, penggunaan bahasa cadel yang terlalu sering malah bisa mengakibatkan anak terlambat berbicara fasih, atau yang paling parah bahkan bisa terbawa hingga dewasa.

Berbicara cadel atau baby talk memang sesuatu yang wajar bagi bayi. Hal itu disebabkan oleh belum sempurnanya koordinasi antar organ bicara. Baby talk sendiri dapat berubah secara alamiah ketika organ bicara seperti lidah, gigi, langit-langit rongga, mulut, bibir, dan telinga bertambah lebih matang.

Namun terlalu sering berbicara cadel ke bayi bisa membentuk kebiasaan berbicara cadel pada bayi. Bayi akan terbiasa mengucapkan kata “atit” dibanding kata sebenarnya.

Karena itu, orangtua atau orang dewasa lain yang biasa berinteraksi dengan bayi disarankan untuk mendorong bayi berbicara dengan benar. Tak perlu memaksa mereka, apalagi sampai memarahi mereka saat melakukan kesalahan.

Berikut adalah tips-tips yang bisa sedulur coba untuk membentuk kebiasaan berbicara dengan benar pada bayi :

1. Berikan Contoh yang Benar

Sebagaimana kita ketahui, anak adalah peniru ulung, terutama pada usia balita. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk memberikan contoh berbicara yang benar pada anak. Tidak perlu merubahnya menjadi cadel, anak tetap akan memahami bahasa orangtua kok.

Sedulur bisa melakukannya dengan cara paraphrasing (mengulangi kata/kalimat). Saat anak berkata “Ade atit iyuut”, sedulur bisa membalas dengan “Oh, adek sakit perut ya?”

2. Tingkatkan Frekuensi Mengobrol

Sedulur mungkin sering mendapati beberapa anak yang terlalu sering diberi screen time, seperti menonton youtube atau menonton televisi mengalami keterlambatan berbicara .

Pediatric Academic Societies mengungkapkan bahwa screen time meningkatkan resiko keterlambatan bicara ekspresif (mengungkapka sesuatu secara verbal).

Hal tersebut wajar terjadi karena anak tidak mendapatkan stimulasi berbicara, melainkan hanya stimulasi melihat dan mendengar. Semakin sering anak mendengar orangtua berbicara dengan benar, anak akan terstimulasi untuk ikut berbicara dengan benar.

Untuk itu, penting bagi sedulur untuk meperbanyak interaksi dengan anak, terutama dengan bahasa yang baik dan benar.

3. Perlambat Pengucapan

Saat mengobrol dengan anak, usahakan untuk berbicara dalam kalimat pendek dengan perlahan ya, agar anak dapat mendengar dengan jelas masing-masing kata atau kalimat. Jangan lupa beri jeda sambil memperhatikan ekspresi dan respon anak.

4. Perjelas Artikulasi Kata

Sedulur jangan nggremeng ya kalau bicara dengan bayi. Perjelas pengucapan atau bunyi saat berbicara. Iringi dengan gerakan mulut dan bibir untuk mempertegas pengucapan kata.

5. Perkeras Suara

Bukan dengan berteriak-teriak ya, hanya dengan meningkatkan volume. Ingat organ pendengaran bayi masih dalam tahap proses perkembangan, jadi hindari berbisik-bisik ya.

6. Berikan Intonasi yang Tepat

Jangan datar-datar ya, sedulur sedang berbicara dengan anak, bukan berpidato. Intonasi dapat membantu anak memahami dengan lebih baik maksud dan arti perkataan orangtua. Kata “Ayo” sebaiknya diucapkan dengan intonasi pendek dan bersemangat sementara kalimat tanya diucapkan dengan nada menggantung.

7. Pilih Kata yang Sederhana

Kata-kata intelek di kantor tidak perlu dibawa bermain dengan anak, pilih kata-kata yang mudah dipahami anak saja. Sedulur bisa meningkatkan pilihan kata secara bertahap sesuai perkembangan kemampuan berbicara dan berfikir anak ya. Hal serupa juga berlaku untuk orangtua yang ingin melatih berbahasa asing pada anak.

Naah itu dia tadi tips-tips melatih berbicara pada anak. Ingat, anak adalah peniru yang ulung, berikan teladan yang baik dan perbanyak bersabar ya. Selamat berlatih menjadi orangtua yang baik!

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.