5 Fakta Mencengangkan #IndonesiaDaruratSampah

by
Sejumlah alat berat milik Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengeruk sampah di zona III Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Jumat (22/7). Sempat terkendala karena belum dioperasikannya semua alat-alat berat, aktivitas di TPST berangsur pulih. Saat ini, ada empat titik buang yang sudah di buka, 3 titik di zona I dan 1 titik di zona III. Aditya Putra Perdana (C03) 22-07-2016

Hari ini sampah merupakan permasalahan sangat serius, bahkan di beberapa daerah sudah menjadi darurat. Apakah hanya di perkotaan? Tidak, di daerah selain Ibukota Provinsi masalah sampah justru lebih mengkhawatirkan karena pemerintah tidak mengelola dengan baik akhirnya warga membuang sampah tanpa konsep, di lahan-lahan subur, di tepi sungai, yang jauh dari keramaian, alhasil lahan tercemar semakin bertambah.

Tingginya kepadatan penduduk membuat konsumsi masyarakat pun tinggi. Di sisi lain, lahan untuk menampung sisa konsumsi terbatas. Persoalan semakin bertambah. Sampah itu ternyata banyak yang tidak mudah terurai, terutama plastik. Semakin menumpuknya sampah plastik menimbulkan pencemaran serius.

Berikut kami suguhkan fakta tentang sampah yang kebanyakan orang zaman Now tidak tahu…

1. Tidak Semua orang menyadari Indonesia Darurat Sampah

Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan (publikasi di www.sciencemag.org 12 Februari 2015) yang diunduh dari laman www.iswa.org pada 20 Januari 2016 menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem (Kompas, 23 Januari 2016).

Data hasil riset tersebut diperkuat oleh kenyataan akhir-akhir ini di sekitar masyarakat Indonesia. Di Kota Banda Aceh misalnya, sampah yang dihasilkan setiap harinya juga sangat banyak. Di ibu kota Aceh ini, sampah yang dihasilkan per harinya mencapai 200 ton. Di Kota Bekasi, setiap hari 800 ton sampah tidak terangkut. Jumlah itu hampir setengahnya dari 1.600 ton sampah yang dihasilkan kota pinggiran Jakarta itu.

Sementara volume sampah yang dihasilkan warga Ibu Kota mencapai 6.500 ton per hari. Sampah tersebut sebagian besar merupakan sampah organik (54%), dan sisanya adalah sampah kertas (15%), plastik (14%), serta kaca, logam, dan lainnya. Jumlah ini setara dengan bobot 25 ekor paus biru, mamalia terbesar yang ada di bumi.

Puluhan ternak sapi milik warga tengah asyik melahap tumpukan berbagai jenis sampah di TPA Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ~ Kompas.com Sigiranus Marutho Bere

Dari total sampah yang dihasilkan penduduk kota Jakarta tersebut, masih menurut survey Waste4Change, sebanyak 79 persen diantaranya dikirim dan diolah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). Sisanya, didaur ulang atau bahkan tidak terangkut atau bahkan dibuang di sungai. Mencemari sungai dan menjadi salah satu penyebab bencana banjir yang rajin menyambangi warga Jakarta. Sampah yang terangkut ke TPA pun sering kali masih mendatangkan berbagai masalah lingkungan lainnya.

Lari ke Bandung, Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung mendata sampah tiap harinya di kota kembang itu mencapai 1500-1650 ton perhari. Selalu tejadi peningkatan volume sampah setiap memasuki bulan Ramadan dan libur lebaran. Diproyeksikan kenaikan volume sampah berkisar antara 15-20 persen atau sekitar 300 ton per hari.

2. Setiap orang pasti membuang sampah, tapi tidak mau berurusan dengan sampah

PROTES TPA. Komisi D DPRD Jateng menemui warga desa di Pedan Klaten yang memrotes proyek TPA, Rabu (27/4/2016). (foto dok jatengkita)

Setiap orang pasti membuang sampah. Pengamat lingkungan, M Bijaksana Juneserano pernah mengungkap masyarakat Indonesia rata – rata nyampah 2.5 kilogram per hari. Hal ini tentu perlu perhatian pemerintah sebelum menjadi permasalahan yang cukup serius nantinya.

Pada 2016 lalu, puluhan warga dari Desa Kaligawe, Troketan, dan Kalangan Kecamatan Pedan Kabupaten Klaten memrotes rencana pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Desa Troketan. Protes itu ditunjukkan dengan mendatangi Gedung Berlian Jalan Pahlawan Kota Semarang.

Dalam aksinya, warga membawa beberapa spanduk diantaranya bertuliskan ‘satu tekad tolak sampah’, ‘kami ingin bernapas lega’, dan ‘Pak Ganjar bantu kami’. Setelah beberapa menit, akhirnya Komisi D DPRD Jateng menemui perwakilan warga.

Protes seperti ini tidak hanya terjadi di Jateng saja, namun hampir merata di pulau jawa yang padat penduduk. Pemerintah pun kebingungan mencari lahan yang dimana masyarakat itu tidak protes. Begitulah, setiap pribadi buang sampah berkilo-kilo setiap hari tapi tidak ada yang mau mendekat.

3. Pengelolaan sampah berbiaya mahal

Saat ini cara paling banyak yang digunakan pemerintah Kabupaten / Kota dalam pengelolaan sampah adalah dengan penimbunan sampah yang dipusatkan ditempat tertentu dengan cara pengurugan dan penimbunan (landfill) yang dianggap murah dan mudah, atau bahkan terkadang kenyataan nya sering dilakukan dengan cara penumpukan bebas (open dumping) karena tanah timbunan dan lahan yang tidak lagi mencukupi.

Dengan tidak terencana pembuangan sampah yang baik dan penimbunan nya dilakukan sembarangan, kurang profesional, tidak sesuai konsep sanitary landfill yang seharusnya sebagaimana persyaratan mutlak sebuah TPA, maka tidak jarang dijumpai sampah di TPA menjadi menggunung. Kebanyakan TPA yang ada saat ini seluruhnya masih menggunakan open dumping yang lebih besar dampak paparannya.

Pemerintah sedang mengupayakan migrasi pembuangan sampah dari open dumping menjadi sanitary landfill, dengan menggunakan teknologi Incenerator sampah dibakar lalu energi panas yang akan menjadi pembangkit listrik. Lahan yang digunakan lebih kecil, pengelolaan leachate (air buangan sampah) juga sudah terintegrasi.

Teknologi ini sudah diterapkan di Jepang dan China sejak tahun 2000 dan kita baru merisetnya. Namun biaya yang tidak diperlukan tidak sedikit. Incenerator cilik untuk rumah sakit saja bisa mencapai 1 Milyar. Apalagi untuk mega incenerator, memerlukan biaya hingga ratusan milyar untuk teknologi dan penyiapan infrastrukturnya.

Namun, permasalahan sampah tidak hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah pusat melalui hibah peralatan tetapi juga dibutuhkan kemauan daerah untuk mengelolanya.

Pengelolaan sampah sangat mahal (Sumber : capture Kompas.com)

4. Tidak akan ada bau sampah seperti saat ini, kalau …

Selalu tutup hidung setiap melewati tempat pembuangan sementara? Percayalah seharusnya sampah tidak sebau itu, kota-kota di negara berkembang prosentasi sampah yang dihasilkan 60 persen adalah organik dan 40 persen non-organik. Sebetulnya, Ketika sampah dihasilkan bisa langsung diolah dekat dengan sumbernya. Desentralisasi sampah bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Nanti sampah organiknya bisa diolah jadi kompos.Sedangkan yang non-organiknya bisa diambil oleh pemulung dan dijual didaur ulang.

Sumber https://alamendah.org

Memilah sampah bisa dilakukan dengan memisahkan antara sampah organik dengan sampah nonorganik. Antara sampah yang mudah membusuk dengan sampah yang sulit membusuk. Sampah organik dan yang mudah membusuk diantaranya adalah sampah dapur seperti sayuran, buah, atau sisa makanan, serta sampah kebun seperti dedaunan, rumput, ranting, dan lain-lain. Sedangkan sampah nonorganik atau yang sulit membusuk seperti plastik, kaca, kertas, kardus, dan logam.

Setelah dipisahkan, sampah organik dapat dibuat kompos. Pembuatan kompos bisa dilakukan secara mandiri atau sendiri (Baca : Cara Membuat Kompos Skala Rumah Tangga). Jika tidak mempunyai cukup waktu dan tempat dalam mengolah kompos sendiri, sampah organik ini dapat diserahkan pada sentra-sentra pengrajin kompos yang ada. Hasil kompos ini kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk di kebun, taman rumah, atau tanaman-tanaman dalam pot.

Sampah nonorganik yang telah dipisahkan tidak kalah manfaatnya. Jika memiliki kreatifitas dan kesempatan, sampah-sampah ini dapat didaur ulang menjadi aneka barang bernilai guna (Baca : 3R Sampah). Namun jika tidak, sampah nonorganik yang telah terkumpul bisa dijual atau disumbangkan ke pemulung, tukang rongsokan, penjual barang bekas, hingga tempat daur ulang. Sehingga barang-barang bekas tersebut bisa menghasilkan pendapatan tambahan.

Yang tidak kalah pentingnya selain memilah sampah, alangkah bijaknya jika kita mulai mengurangi sumber sampah. Cara-cara sederhana dan mudah pun dapat dilakukan untuk mengurangi sumber sampah. Cara-cara tersebut seperti :

  • Menghabiskan makanan
  • Menghindari barang-barang dengan umur pakai yang pendek
  • Memilih produk kemasan yang besar
  • Memilih produk-produk renfil (isi ulang)
  • Membawa kantong belanjaan sendiri

5. Jawa Tengah juga Darurat Sampah

Dalam sehari, sekitar 16.000 ton sehari se jawa tengah karena setiap orang mengeluarkan sampah. Dari 35 kabupaten/ kota di Jateng, ada 16 yang kritis status TPA-nya. Ambil contoh Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banyu Urip yang dikelola pemerintah kota Magelang, sudah overload.

Pemerintah setempat sedang mengupayakan menekan volume sampah yang masuk, agar lahan seluas 5,4 Hektar tersebut dapat lebih lama menampung. Tapi ternyata menurut Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan dan Tata Kota (DKPTK) Kota Magelang Arif Barata Sakti saat bertemu kru jatengkita.id mengungkapkan tren volume sampah justru bertambah.

“Pasar Rejowinangun sudah aktif kembali, juga semakin banyak pusat kuliner, jadi sebetulnya volume sampah kota Magelang itu meningkat, upaya menekan volume sampah terus jadi tidak terlihat,” katanya.

Kendala lainnya,  Arif menyatakan Kota Magelang saat ini sudah tidak memiliki lokasi untuk TPA. Bahkan, sebenarnya lahan Banyu Urip yang berlokasi di Jalan Elo Sorobayan tersebut merupakan wilayah Kabupaten Magelang.

“Kami sudah mengumpulkan seluruh lurah di Kota Magelang dan hasilnya memang sudah tidak ada lagi lahan untuk TPA,” tuturnya. Kendala lahan ini, jelas Arif, juga telah diurus pemkot dengan menembusi Kabupaten Temanggung yang notabene banyak lahan kosong namun tidak mendapat izin.

Selain itu, wilayah Banyu Urip itu, dari segi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah diatur dalam Perda Kabupaten Magelang nomor 5 tahun 2011, bahwa Desa Banyu Urip Kecamatan Tegalrejo merupakan desa pusat pertumbuhan dengan prioritas pengembangan sektor pertanian, pariwisata dan industri kecil serta sebagai Pusat Pertumbuhan Kecamatan (PPK).

“Makanya, sebetulnya tidak memungkinkan digunakan untuk Tempat Pemrosesan Akhir Sampah. Jarak dengan permukiman juga terlalu dekat, sekitar 100 meter. Padahal, regulasinya jarak minimal dengan permukiman itu 500 meter,” pungkasnya.

Lebih lanjut tentang upaya menekan sampah Kota Magelang yang dalam sehari mencapai 200 meter kubik, Arif menjelaskan sudah banyak beberapa upaya yang dilakukan. “Di beberapa kelurahan sudah ada yang namanya kampung organik, warga memilah sendiri sampah organik anorganik. Juga ada bank sampah di tempat pemrosesan sementara, hanya efektifitas mengurangi volume belum banyak, yang banyak bisa dimanfaatkan baru sampah organik, kalo anorganik sedikit,” pungkasnya.

Pilah lah sampah, maka anda menjadi Power Ranger

Ada yang salah dari persepsi kita tentang sampah. Sebenarnya kita dapat berbuat lebih baik dalam menghadapi sampah. Sampah bukanlah masalah jika diselesaikan di hulunya yakni di rumah tangga masing-masing dan mengolahnya menjadi lebih bermanfaat. Pilihan untuk memilah sampah ternyata bisa dilakukan dengan mudah dan sederhana. Anehnya, masih sedikit dari kita yang bersedia melakukannya. Biasanya karena malas, padahal dengan hal yang ringan itu kita sudah menyelamatan dunia, seperti power ranger. ATau dengan kata lain, tidak perlu jadi manusia super untuk menyelamatkan dunia.

 

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *