Atmodirono, Arsitek Pribumi yang Namanya Jadi Jalan-Jalan Kota

Atmodirono, Arsitek Pribumi yang Namanya Jadi Jalan-Jalan Kota
(Gambar: validnews.id)

Jatengkita.id – Bagi warga Semarang, nama Jalan Atmodirono tentu bukan sesuatu yang asing. Jalan ini menjadi salah satu ruas penting di kawasan tengah kota. Namun, siapa Atmodirono?

Tidak banyak yang mengetahui bahwa nama tersebut berasal dari sosok Mas Aboekassan Atmodirono. Ia adalah pribumi yang dikenal sebagai pelopor arsitektur modern pada masa Hindia Belanda.

  • Putra Wonosobo yang Menembus Dunia Pendidikan Modern

Atmodirono lahir di Wonosobo pada 18 Maret 1860. Di masa ketika akses pendidikan masih sangat terbatas bagi masyarakat pribumi, ia memperoleh kesempatan menempuh pendidikan Barat di Europeesche Lagere School (ELS).

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan teknik di Batavia. Bekal pendidikan tersebut menjadi pintu masuknya ke dunia konstruksi dan pekerjaan umum yang saat itu didominasi kalangan Eropa.

  • Karier Cemerlang di Lingkungan Pemerintahan Hindia Belanda

Karier Atmodirono berkembang ketika ia bekerja di Dinas Pengairan dan Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Kemampuannya dalam bidang teknik membuatnya dipercaya menangani berbagai proyek pembangunan dan infrastruktur.

Pencapaian ini terbilang istimewa. Pada akhir abad ke-19 sangat sedikit pribumi yang mampu menembus posisi strategis dalam birokrasi kolonial, apalagi di bidang teknik dan konstruksi.

  • Menjadi Salah Satu Arsitek Pribumi Pertama

Meski tidak menempuh pendidikan arsitektur formal seperti para arsitek Eropa, Atmodirono terus mengasah kemampuannya melalui pengalaman kerja.

Keahliannya diakui hingga ia memperoleh status sebagai arsitek dan menjadi salah satu pribumi pertama yang menempati posisi tersebut.

siapa atmodirono
(Gambar: Atourin)

Kiprahnya menunjukkan bahwa kemampuan profesional tidak selalu lahir dari jalur pendidikan yang sama, tetapi juga dari pengalaman dan dedikasi yang panjang.

  • Jejak Karya yang Masih Dikenang

Salah satu karya yang sering dikaitkan dengan namanya adalah Gedung Societeit Sasana Soeka di Surakarta.

Bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Pers Nasional itu menjadi contoh bagaimana arsitektur kolonial mulai beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Kehadiran bangunan tersebut memperlihatkan kemampuan Atmodirono dalam mengikuti perkembangan desain modern tanpa meninggalkan karakter lokal yang berkembang di Hindia Belanda.

  • Simbol Kebangkitan Profesional Pribumi

Selain meninggalkan jejak melalui bangunan, Atmodirono juga menjadi simbol perubahan sosial pada zamannya. Kehadirannya di dunia teknik membuktikan bahwa kaum pribumi mampu bersaing dalam bidang yang sebelumnya hampir sepenuhnya dikuasai kalangan Eropa.

Kisah hidupnya menjadi bagian dari sejarah munculnya kelompok profesional pribumi. Kelompok ini kemudian berperan penting dalam perkembangan Indonesia modern.

  • Nama yang Diabadikan di Kota Semarang

Atmodirono menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Semarang dan wafat pada 23 Juli 1920. Untuk mengenang jasa serta kontribusinya, nama Atmodirono kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Kota Semarang.

Di balik papan nama jalan yang setiap hari dilewati ribuan kendaraan itu, tersimpan kisah seorang putra Wonosobo yang berhasil menorehkan sejarah sebagai salah satu arsitek pribumi pertama di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *