Airlift 2016; Penyelamatan Udara Terbesar dalam Sejarah

by

gambar dari http://www.bollywoodlife.com/

Film India.

Apa yang tergambar dalam benak teman-teman jika mendengar mengenai film india?

Mungkin kata yang pertama kali muncul adalah Bolywood. nyanyian. Joget. Percintaan. Mungkin lebay juga kali ya…

Bagaimanapun, sejak saya masih kecil, film India telah nangkring di pertelevisian kita. Setiap siang dan malam, dengan berbagai judul dan kisah cinta masing-masing. Kita jadi sangat mengenal aktor-aktress India dari Amitab bachan sampai Sarukh Khan. Nama Sarukh Khan inilah yang beberapa tahun mendominasi film india yang masuk ke Indonesia. Ini juga yang mengakibatkan film india menjadi tipikal bertema percintaan.

Saya termasuk yang awalnya memandang remeh perfilman india. Tapi sejak film karya Raj Kumar Hirani, 3 idiots, muncul dengan tema yang briliant, saya mulai mencoba menjadikan film india sebagai alternatif tontonan. Pada kenyataannya perfilman india memang sudah berprestasi sangat jauh. Beberapa bintang bahkan malang melintang bekerjasama dengan holywood. Sebut saja Irfan Khan dalam Inferno dan Dev Patel dalam Man Who Knew Infinity. Kesukaan saya pada film india hanya pada film-film tertentu, salah satunya karena pengambilan tema yang briliant, karena saya tidak suka tema percintaan India yang cenderung melankoli dan cenderung membawa cinta ke arah sakral (bagi muslim, agama yang harus disakralkan).

Salah satu film yang saya sukai adalah film yang berjudul Air Lift besutan sutradara Raja Krishna Menon. Dibintangi oleh aktor yang cukup kawakan yaitu Akhsay Kumar (Ranjit Katiyal) dan Nimrat Kaur (Amrita). Tentu saja Anjrith Singh pelantun Tum Hi Ho juga ikut memberi backsound pada salah satu lagu. Dibuat tahun 2016, dan langsung mendapat sambutan baik dari masyarakat film dengan rating imdb bolywood paling tinggi. Film ini mendapatkan pendapatan berkali lipat dari biaya  pembuatannya, dengan rincian : pendapatan kotor sebanyak 42,25 juta US dollar dan biaya pembuatan sebesar 5,67 juta Usdollar. Film ini adalah film sejarah. Diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada penduduk India yang tinggal di kuwait pada saat invasi iraq ke kuwait. Film ini di klaim telah melalui data sejarah yang sudah dioptimalkan. Walau begitu film ini tetaplah fiksi, seperti diakui oleh sutradaranya. Kisah demi kisah tetap direkayasa kembali agar lebih menarik. Di Film Indonesia kita dapat mengambil contoh yang jelas pada film Sang Kiyai. Walau sudah mengambil data yang cukup, sutradara menambahkan kisah pasangan rumah tangga muda yang diperankan Adipati Dolken yang tidak mau mentaati KH Hasyim Asyari. Seperti pengakuan sutradara, bahwa pasangan rumah tangga itu tidak pernah benar-benar ada dalam kenyataanya, itu ditambahkan untuk membantu membawa alur film / efek dramatisir. Jadi film sejarah lebih tepat disebut film fiksi sejarah, kecuali film dokumenter.

Kisah ini bercerita mnengenai kehidupan seorang pengusaha besar bernama Ranjit Katiyal, pengusaha India yang telah lama tinggal di kuwait, bahkan sampe lebih menyukai disebut orang kuwait. Ranjit pengusaha kawakan yang Sultan Kuwaitpun bekerjasama dengannya. Watak Ranjit diawal cerita adalah licin, egois dan ambisius. Tidak peduli kawan maupun lawan demi sebuah bisnis dia siap mengorbankannya. Ranjit memiliki ratusan karyawan yang berkantor di Kuwait.

Sebesar apapun seorang pengusaha dihadapan takdir selalu sama. Sejarah adalah arus air yang deras. Sejarah tak hanya membentuk politik masa kini, tetapi menentukan nasib seseorang di masa kini dan masa depan. Saat itu Politik Dunia sedang mengalami ketegangan. Amerika pasca PD II sedang ingin mengokohkan pengaruhnya di dunia. Maka negara yang tidak mau tunduk dengan Amerika dilakukan operasi, dari opererasi intelejen samapi operasi militer. Dari pemimpin boneka (intervensi pemilu), suap, sampai operasi militer. Saat itu Iraq dibawah Saddam Husain adalah salah satu yang tidak mau tunduk kepada Amerika. Mengingat musuh yang dihadapi memiliki kekuatan yang besar, maka Iraq juga memperbesar wilayahnya. Utamanya negara arab, dia menggalang kekuatan. Dengan soft diplomasi bagi yang mau kerjasama, dengan operasi militer bagi yang tidak mau. Kuwait adalah salah satu negara yang akhirnya diinvasi oleh Iraq. Dalam satu malam pasukan Iraq menembus jantung kota-kota dikuwait. Menghancurkan rumah, merusak mobil bahkan membunuhi penduduk kuwait. Lucunya para pejabat kuwait saat invasi justru pergi dari kuwait, melarikan diri. Kuwait ini ciri negara boneka yang sultan dan pejabat hanyalah simbol. Kebijakan dikendalikan oleh Amerika. Digambarkan pula Iraq keteteran dalam mencari pasukan, sampai-sampai pasukan-pasukan yang diutus adalah pemuda-pemuda tanggung yang dengan kondisi psikologis yang labil, sehingga menjadi buas di medan perang. Mudah membunuh, memperkosa, mabuk dll. Syukurnya posisi India di percaturan dunia cenderung tidak berpihak pada kubu manapun bahkan cenderung mendukung Iraq. Sehingga ada aturan, orang kuwait harus dibunuh, orang india aman.

Menghadapi kenyataan ini, Ranjit bersama sopir pribadinya segera mencari informasi ke kedutaan. Saat perjalanan ke kedutaan India, sopir Ranjit ditembak oleh pasukan Iraq karena menggunakan bahasa kuwait. Lalu Ranjit menuju kantornya, hendak melihat dana yang tersedia untuk pulang ke India. Digambarkan watak ranjit periode ini adalah egois dan narsistik. Saat itu juga Ranjit langsung ingin merencanakan dia dan keluarganya pulang ke India, tak perlu membantu yang lain. Watak dia mulai berubah perlahan saat dia mngunjungi kantor dan melihat warga India banyak mengungsi dikantornya menggantungkan nasib kepadanya. Saat itu dia membuat keputusan akan menyelamatkan pengungsi dikantornya, untuk kemudian pulang. Ranjit akhirnya menghubungi kolega-kolega bisnisnya. Membuat tempat pengungsian sementara, menyiapkan cadangan makanan, mendata seluruh pengungsi yang masuk. Ranjit semakin berkomitmen menolong saat tahu bahwa pengungsi yang masuk ditempat pengungsian mencapai 140.000an pengungsi. Hal ini mengundang konflik di keluarganya istrinya yang masih berwatak egois, marah dengan keputusa tersebut.

Pasukan Iraq makin tak terkendali, mereka mulai pragmatis mencari sumberdaya yang menipis juga. Mereka mengambil separoh sumberdaya milik pengngsi india. Pemimpin pasukannya juga minta pembayaran keamanan setiap aktivitas. Meihat itu Ranjit mulai berpikir untuk segera mengungsikan pengungsi ke India. Walau terhalang oleh pemerintah India yang belum berani bersikap. Cara pertama, melalui kapal bantuan yang bernama Tipu Sultan. Tapi cara ii gagal karena Tipu Sultan tak bisa masuk wilayah kuwait karena embargo PBB. Cara kedua, melalui kapal sampah. Memuat 400 orang. Ranjit melakukan secara sembunyi-sembunyi. Walau akhirnya ketahuan pimpinan pasukan iraq, dengan keahlian negosiasi Ranjit, pengungsian berhasil dilakukan.

Ranjit tak berputus asa menghubungi kementrian luar negeri. Menteri luar negeri tetap belum peduli. Akhirnya dibantu staff kementrian bernama Kohli. Kohli memberi opsi untuk melobi iran utnuk penyelamatan. Ternyata belum berhasil juga. Akhirnya Ranjit memutuskan untuk membawa ke yordania. Yang jaraknya 4000 km. Menggunakan bus sekolah bekas, mobil bekas dan truk bekas akhirnya ranjit membawa 130.000an pengungsi sepanjang 4000km ke yordania. Puncaknya adalah ketika sudah sampai yordania, bagaimana membawa ratusan ribu pengungsi terbang dari yordania ke India? Kohli akhirnya melobi maskapai Air India untuk melakukannya. Kohli juga melobi kementrian financial untuk membiayai penerbangan. Walau sulit akhirnya keduanya mau walau hanya sedikit pilot yang berani terbang ke daerah perang.

Dengan proses yang berbelit dan berkat usaha keras beberapa orang. Terjadilah penyelamatan pengungsi terbesar sepanjang sejarah melalui udara.  Selama 59 hari, lebih dari 488 penerbangan komersil Air India diterbangkan ke zona perang untuk mengevakuasi sekitar 130.000an warga India untuk membawa mereka kembali ke tanah India. Film ini sekaligus menjadi sebuah pengingat terhadap jasa negara, bukan hanya untuk satu atau sepuluh orang melainkan 130.000an orang. Sekaligus momen penting dalam sejarah yang sempat terlupakan dan perlu diingat kembali.

Salah satu yang saya suka dari film ini adalah Tokoh Ibrahim Durani, yang beragama Islam, yang merupakan pegawai Ranjit. Peran Ibrahim Durani ditengah kronik invasi buruk iraq ke kuwait menjadi semacam cahaya ditengah film itu. melalui Ibrahim Durani, Islam yang tulus, gesit, pemberani, setia dan altruistik tergambar dengan baik.

Tontonan yang aku beri bintang empat setengah dalam skala bintang lima!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *