Asal Usul Beduk, Menjadi Simbol Akulturasi Budaya di Indonesia

Asal Usul Beduk
Beduk - Simbol kaulturasi Budaya Indonesia (FOTO : Antara)

Jatengkita.id – Siapa sih yang tidak tahu dengan beduk? Beduk merupakan sebuah alat musik perkusi yang terbuat dari kayu dan diselubungi dengan kulit binatang. Kulit yang digunakan biasanya berasal dari kulit sapi atau kambing yang diregangkan di atas cangkang kayu.

Umumnya berbentuk bulat dan besar, dengan bagian atasnya yang lebih lebar daripada bagian bawahnya. Beduk dimainkan dengan menggunakan dua batang atau pemukul yang biasanya terbuat dari kayu atau bambu.

Analisis Manfaat dari Kisah tentang Alat Musik Beduk pada Musik Iringan  Tari Melayu - Semua Halaman - Intisari

Dengan alat yang digunakan tersebut bedug memiliki suara yang khas dan berat, dengan nada yang dalam dan gemuruh.

Suaranya biasanya digunakan untuk memberikan isyarat atau panggilan kepada jamaah untuk menandakan waktu salat, terutama saat bulan Ramadan ketika digunakan untuk menandai waktu berbuka puasa atau sahur.

Selain itu, beduk juga sering dimainkan dalam upacara-upacara adat atau keagamaan sebagai bagian dari ritual atau perayaan

Dalam perkembangannya menurut laman Perpustakaan Nasional, asal usul beduk ini pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tiongkok di bawah komando Laksamana Cheng Ho.

Pada waktu itu Cheng Ho beserta pasukannya singgah ke Indonesia dengan membawa budaya memukul beduk untuk mempersiapkan barisan tentara.

Ada Bedug di Dalam Klenteng Sam Po Kong, Ini Maknanya : Okezone Travel

Sejak saat itu, beduk menjadi salah satu properti yang erat dengan masjid. Beduk sebagai alat komunikasi penanda masuk waktu shalat atau berbuka puasa kian akrab setiap harinya di kalangan masyarakat saat itu.

Beduk juga dijadikan alat untuk mengumpulkan masyarakat se-kampung jika ada kabar duka, bencana, atau ada pengumuman dari pemimpin ke rakyatnya.

Para Wali Sembilan atau mahsyur dengan sebutan Wali Songo sejatinya juga memfungsikan bedug untuk mengajak umat Islam mendirikan shalat lima waktu. Kebaradaan bedug di lingkungan masjid pun tidak pernah terpisahkan.

Dalam literasi lain disebutkan fungsi bedug pada lima abad silam di Batu Banjandjang, Kabupaten Solok. Beduk, dibuat pada 1490 sebelum jaman VOC. Menurut kepercayaan rakyat di sana, beduk dapat menolak musibah.

Sementara, Arkeolog Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono memiliki pengamatan tersendiri soal sejarah beduk.

Menurutnya, akar sejarah beduk dimulai sejak masa prasejarah, tepatnya zaman logam. Saat itu beduk dibunyikan untuk acara keagamaan, maskawin, dan upacara minta hujan.

Sedangkan Sejarawan Belanda Kees van Dijk dalam bukunya Perubahan Kontur Masjid dan Peter JM Nas dan Martien de Vletter juga dalam bukunya berjudul Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia menerangkan, asal usul beduk dahulu kala masjid-masjid di Asia Tenggara termasuk Indonesia tidak memiliki menara. Alhasil, dibutuhkan alat bunyi-bunyian untuk menandakan waktu shalat.

Selain sebagai alat musik, beduk juga memiliki makna simbolis yang dalam dalam budaya Indonesia. Suara beduk dianggap sebagai panggilan atau ajakan untuk beribadah dan meresapi spiritualitas.

Penggunaan bedug dalam berbagai upacara keagamaan atau adat juga merupakan simbol kebersamaan dan persatuan dalam masyarakat.

Meskipun beduk tradisional terbuat dari kayu dan kulit binatang, saat ini juga tersedia beduk modern yang terbuat dari bahan-bahan sintetis seperti fiberglass atau plastik yang lebih tahan lama dan mudah dirawat.

Namun, beduk tradisional tetap memiliki tempat yang istimewa dalam budaya dan tradisi Indonesia sebagai simbol keagamaan dan kebudayaan yang khas.

Di Indonesia tepatnya di Masjid Agung Kauman Purworejo memiliki salah satu benda bersejarah berupa bedug yang berukuran raksasa. Konon beduk yang diberi nama Beduk Pandowo ini sebagai salah satu beduk terbesar di dunia, berikut sejarah pembuatannya.

Disebut sebagai beduk terbesar di dunia karena berdasarkan hasil pengukuran, panjang rata-rata Beduk Pandowo ini mencapai 292 sentimeter (cm), garis tengah depan 194 cm, garing tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm.

Beduk tersebut pernah mengalami kerusakan pertama pada tanggal 3 Mei 1936, tepatnya saat berusia 102 tahun. Semula permukaan beduk tersebut dilapisi dengan kulit banteng. Akan tetapi karena rusak, permukaannya kemudian diganti dengan kulit sapi Ongale dan sapi Pamacek dari Desa Winong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo.

Beduk Pandowo ditabuh setiap hari menjelang salat Subuh, Ashar, Maghrib, dan Isya. Selain itu, bedug juga ditabuh menjelang salat Idulfitri dan Iduladha, acara-acara keagamaan Islam, dan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Beduk ini juga ditabuh sebagai tanda penghormatan.

Baca Juga Sejarah Kain Sarung dan Perkembangannya di Indonesia 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *