Buatlah Hatinya Mengangkasa!

by

@Baba Ali M.ChN

Sepulang dari luar kota, seringkali kudapati gurat-gurat kelelahan memenuhi wajah ayu istriku. Ya, ia mengerjakan semua sendiri. Mulai dari mengurusi krucil-krucil kami yang kreatif (baca: banyak tingkah) dan idealis (baca: keras kepala. Konon katanya, itu warisan dari abinya sebelum insyaf. Hehe!). Mengurusi rumah. Mulai dari cucian, masak, dan bersih-bersih. Belum lagi mengurusi orderan, hingga jadwal seminar dan training saya.

Rasa iba bercampur bangga dan bahagia memenuhi relung jiwaku. Saya peluk ia, sembari berbisik ke telinganya, “Terimakasih ya, Cinta. Aku mencintaimu seperti matahari mencintai bumi, menyinari untuk selama-lamanya. Tersenyumlah sayang, ketulusan dalam balutan lelahmu membuat ridhaku padamu tumpah untukmu semua. Aku ridha padamu. Teruslah shalihah di hatiku.”

Selang beberapa menit, segelas teh hangat terhidang manis untuk diteguk. Ia hidangkan untukku. Tak hanya itu, peralatan mandi pun disiapkan, dan makan malam pun sudah kinclong dalam tudung nasi. Setelah menyeruput beberapa teguk teh hangat, saya memijitnya pelan-pelan, sembari dalam hati menguntai do’a, “Ya Rabb, kumpulkanlah kami kelak di surgaMu.”

Dari awal pernikahan, kami sepakat untuk tidak menggunakan jasa pembantu. Kami tak ingin ada orang ketiga dalam rumah kami, kecuali yang patut-patut (keluarga dekat). Dan, itu pun sifatnya bertamu sementara. Sebab, saya tidak setuju ada orang lain dalam keluarga kami. Ini sudah final.

Memang berat, tetapi kami merasa nyaman dan menikmatinya. Kami selalu bekerjasama dalam mengurusi pekerjaan rumah. Ada sinergi diantara kami berdua. Tatkala istri memasak, saya membantunya mengulek sambal. Saat istri bersih-bersih rumah, saya bantu mengepel lantai. Tatkala istri menggarap thesisnya, saya mengajak anak jalan-jalan.

Saat istri tak mampu membendung emosinya. Sensitif time, katanya. Saya selalu pilih diam, menjadi pendengar terbaik. Tanpa protes, tanpa komentar apapun. Setelah api kemarahan itu meredup, saya mendekatinya sembari berkata, “Beri ma’af, kanda ya!”. Bila ia menunjukan sinyal positif, saya pun memeluknya. Berbisik padanya dari hati terdalam, “ Abi mencintaimu, seperti embun yang mencintai pagi. Tulus dan suci.” Setelah itu, ia akan berbalik meminta maaf berkali-kali, mohon pemakluman, ridho, dan do’a. Begitulah istri shalihah, cepat sadarnya. Cepat insyaf, dan berjanji untuk lebih baik. Bagi saya pribadi, ini adalah hal yang lumrah.

Saya sudah memahami perasaan wanita jauh sebelum menikah, dan insyaallah mampu mengendalikannya dengan baik.Kepedean ya? Hehehe!!!

Ya, saya tak pernah bosan mengatakan padanya kalimat “Aku cinta padamu”, walau sudah diulang beribu-ribu kali. Dari raut mukanya, dan dari pancaran hatinya nampak sekali bahwa ia begitu menyenangi kalimat sakti itu.

Terkadang bau kompor yang nempel di dasternya pun saya jadikan ajang membuat ia senang. Kukatakan, “Kali ini aku mencium bau surga di dastermu, dik.” Ia akan berbalik komentar dengan manyun, “Ah yang bener?” Dengan penuh yakin, kembali saya katakan,”Iya. Iya bener! Nih wanginya masih tersisa di pojok hatiku.” Saya memang begitu adanya, suka menggombal. (Baca: menyenangkan hati istri).

Saat anak-anak sudah tertidur, istri tidur di sebelahku yang tengah asyik menari dengan kata-kata. Menulis naskah buku, atau materi seminar yang diminta oleh panitia. Memandang wajahnya yang polos itu. Gurat-gurat kelelahan, kebahagiaan, dan keteduhan yang merona dari aura wajahnya, tak jarang membuat mataku berkaca-kaca.

Lelahnya fisik istri bisa diobati dengan banyak istirahat, makanan bergizi, pijit, tamasya, atau shopping. Namun, lelahnya jiwa seorang wanita butuh pujian, pengakuan, kata-kata manis dan indah dari pasangannya. Selain ibadah kepada Allah, hanya lisan suamilah yang ampuh mengobati kelelahan seorang istri. Lisan yang manis dari seorang suami mampu menguasai perasaan istrinya. Membuat hatinya mengangkasa, melayang indah penuh kebahagiaan serasa di taman-taman surga. Subhanallah!

Saya menyadari hal ini sepenuhnya. Inilah yang membuat saya senantiasa menggombalnya. Mendo’akannya. Bertutur lembut padanya.

Tak jarang saya mengatakan padanya,”Sayang, mencintaimu membuatku merasa sudah mengambil semua jatah kebahagiaanku dari dunia ini.”

Wahai para suami sadarilah bahwa Allah telah berfirman, “…Dan bergaullah dengan istri-istrimu secara baik.” (Qs 4:19)

Begitupula halnya dengan Rasulullah. Sang Manusia terbaik, suami terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Telah mewanti-wanti kita dengan haditsnya. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Saw bersabda, “Amal yang terbaik di sisi Allah SWT setelah hal yang fardhu adalah membuat seorang muslim berbahagia.” (HR Ath Tabrani)

Lebih khusus lagi, Rasulullah Saw tekankan bahwa, “Seorang mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik dari yang paling baik akhlaknya tersebut adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Wallahu alam bisshowab!

(Penulis adalah Praktisi Ketahanan Keluarga, Pengasuh Samara Center)

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *