Ducati Digdaya dengan Tiga mahkota di Musim 2022

Foto : Danilo Di Giovanni/Getty Images

Semarang, Jatengkita.id –  Bagnaia memastikan gelar juara dunia setelah berhasil finish kesembilan dalam seri terakhir MotoGP di Valencia. Lawan terberatnya, Quartararo, gagal meraih podium dan hanya bisa finish keempat di belakang Alex Rins (Suzuki), Brad Binder (KTM), dan Jorge Martin (Pramac Ducati). El Diablo memulai balapan dari grid empat.

Meski kans kampiun juara dunia hampir mustahil–mengingat selisih poinnya dengan pemuncak klasemen terpaut jauh sebanyak dua puluh tiga angka, tapi di balapan seri Valencia ini Quartararo benar-benar menunjukkan tekadnya untuk memetik kemenangan. Jatuhnya Marquez dan Miller sedikit memberi angin segar. Namun, strategi full gassnya belum juga mampu merangsek di tiga besar.

Kemenangan Bagnaia ini menjadikan dominasi Ducati tak tertandingi. Tahun ini, Ducati secara hattrick berhasil memboyong gelar Constructor World Champion yang sudah lebih dulu dikunci di balapan seri Aragon dengan raihan poin 346. Di seri berikutnya, Sepang-Malaysia, Ducati Lenovo Team menambah pundi-pundi kemenangan dengan menyabet gelar Team World Champion. Triple crown akhirnya  diklaim setelah balapan di musim terakhir 2022 melalui Bagnaia sebagai kampiun juara dunia MotoGP.

Perfect Combination

Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images

Triple crown. Ditambah satu gelar lagi yang didapat dari Marco Bezzecchi sebagai Rookie of The Year musim 2022. Bonus mutlak ini seolah sebagai bentuk apresiasi besar atas kerja keras tim. Penantian Ducati selama 15 tahun setelah Casey Stoner juara dunia MotoGP di tahun 2007, akhirnya bisa direbut kembali bahkan dengan kombinasi apik dan epik. Bagnaia dan Ducati berhasil mengulang sejarah 50 tahun lalu dimana rider berkebangsaan Italia, Giacomo Agostini menjadi juara dunia dengan motor pabrikan dari Italia pula.

Sempat dihantam dengan banyak kritikan, Ducati tak ambil pusing. Mereka dinilai kemaruk karena menurunkan delapan rider dan mengubah atmosfer persaingan MotoGP menjadi Ducati GP. Tardozzi selaku manajer Ducati menanggapinya dengan tamparan telak. Ia mengungkapkan bahwa hal itu menjadi kesalahan pabrikan lain yang tidak mau memberikan support motor untuk tim satelit.

Kritikan berikutnya ditujukan untuk Pecco yang tak berkompeten menjadi juara dunia. Ia menang karena dukungan banyak faktor, bukan murni skil. Melihat statistik, Pecco menorehkan 7 kemenangan, 5 pole position, dan 10 kali podium. Capaian ini adalah yang paling banyak jika dibandingkan dengan rider lain. Tak hanya itu, celotehan juga berkutat pada strategi Team Order.

Dengan adanya Team Order ditambah jumlah rider Ducati, Pecco mendapat keistimewaan untuk bebas mengaspal tanpa gangguan dari rider Ducati lainnya. Justru ia akan banyak mendapat bantuan agar tak ada rider pabrikan lain yang menghalangi jalannya. Kenyataan di lintasan adalah Pecco berkali-kali berduel dengan rider lain dan tentu ini sudah menunjukkan kapasitasnya. Dan realitanya, hingga seri terakhir berlangsung, Ducati belum pernah mengumumkan Team Order untuk Bagnaia.

Namun di sisi lain, banyak rider dan manajer tim yang juga mengakui keunggulan Ducati dan pencapaian pengembangan motor Desmosedici yang luar biasa. Sulit untuk menandinginya.

Menengok Ducati sejak pertama bergabung dalam MotoGP hingga sekarang dengan penantian dan riset yang dahsyat, tentu kedigdayaan di musim 2022 ini benar-benar menjadi kemenangan besar. Satu mahkota Juara Dunia Konstruktor dipersembahkan untuk Sang General Manager Gigi Dall’lgna; satu mahkota Juara Dunia Tim untuk Sporting Directing Ducati Paolo Ciabatti, dan satu mahkota Juara dunia MotoGP untuk Davide Tardozzi.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *