Elysum 2013; Sebuah Koloni Elit di Atmosfer yang Memarginalkn Koloni Miskin Bumi

by

Pernahkah membayangkan bahwa suatu saat bumi akan mengalami kerusakan alam yang parah? Sehingga sumber daya hidup sudah tidak lagi cocok untuk digunakan? Air sudah tercemar, Udara penuh Polusi, pepohonan rusak, pertanian kalah dengan industrialisasi. Tidak hanya ilmuwan yang mengkhawatirkan itu, para seniman juga mengkhawatirkannya. Tapi mereka berbeda dalam mengekspresikan prediksi itu. Ada Leonardo Dicaprio yang membuat film dokumenter mengenai Kerusakan Alam dan Perubahan Iklim Global. Ada pula yag mengekspresikannya dengan membuat film ber genre sci-fi mengenai hal itu.

Beberapa film yang menggambarkan tentang prediksi bumi masa depan diantaranya film Interstellar dan Elysum. Kedua film ini mirip dari segi alur. Kondisi bumi yang memprihatinkan dan adanya upaya manusia untuk membangun koloni yang sehat di luar angkasa. Saya akan membahas tentang film Elysum, yang mana ada bumbu sosial politik didalamnya.

Saya menyukai film sci-fi karena dia tidak sekedar hiburan, tapi bagaimana realisme dan pakem-pakem ilmiah tetap diperhatikan. Beda dengan yang murni fiksi misalkan film superhero (kecuali trio The Dark Night). Kita ambil contoh untuk membedakan. Misal kita lihat di Film Fantastic Four dan Hulk, mengapa mereka jadi super hero? Karena mereka terkena radiasi zat kimia. Padahal dalam ilmu kimia, zat radioaktif ini berbahaya. Efek ringan terjadi mutasi sel sehingga menyebabkan penyakit dalam parah bahkan kematian. Bandingkan dengan di film elysum ini. Ketika Max (Matt Damon) terkena radiasi, ya dia di vonis 5 hari lagi akan meninggal. Jelas bedanyakan? Yang satu melenceng dari pakem ilmiah dan yang satu tetap dlam pakem ilmiah. Hemat saya film sci-fi terbaik adalah film dimana batas ilmiah diperjelas dan dimodelkan dengan imajinasi seniman.

Dampak dari film yang murni fiksi adalah terjadinya hiperrealitas. Yaitu realitas maya yang dipercaya sebagai relitas nyata. Misalkan mungkin sebagian kita ada yang percaya bahwa alien itu ada dan mengawasi kita akibat dari film-film sperti starwars, stratoptroopes, alien dll.

Oke kita kembali ke film Elysum. DI masa depan nanti kerusakan alam akan pada puncaknya. Sampah tak terkelola dengan baik, sumberdaya pokok mengalami kerusakan, industriaisasi melaju tanpa batas. Dan hal ini memang sudah diramalkan ilmuawan masa kini. Kegiatan manusia dalam mengambil sumber daya lebih besar dibanding kemampuan bumi untuk meregenerasi sumberdayanya. Akibatnya kekurangan sumber daya itu diambil dari bumi tapi berakibat merusak bumi. Nah Max (Matt Damon) hidup dalam puncak kerusakan bumi. Tentunya kerusakan alam dan kelangkaan sumber daya seperti itu megnakibatkan kerusakan sosial pula. Kemiskinan, kriminalitas, kesenjangan sosial. Max kecil hidup di panti asuhan dengan nilai-nilai religius yang kuat. Tapi karena kemiskinan Max besar menjadi pencuri mobil. Dia bertobat karena tertangkap dan menjalani bebas bersyarat. Dalam pertobatannya Max bekerja dalam perusahaan Multinasional Armadyne, Perusahaan IT dan Robotic milik orang Elysum.

Elysum adalah koloni masyarakat bumi yang tinggal di atmosfer. Sebuah pesawat raksasa yang mengorbit di atmosfir bumi. Dibuat sebagai hunian yang nyaman pasca kerusakan bumi. Tapi hanya orang-orang tertentu yang tinggal disana. Yang mampu membayar mahal biayanya, karena pengembangnya adalah swasta . Di Elysum fasilitasnya serba mewah, taman yang luas dan asri, rumah yang nyaman, kolam renang pribadi, hotel berbintang dll. Salah satu fasilitas yang hebat adalah alat penyembuh segala penyakit. Sebuah alat dengan pancaran gelombang elektromagnetik yang dapat mematikan virus atau bakteri penyebab penyakit dan dapat merekayasa siklus sel dengan cepat. Sebut saja penyakit leukimia stadium puncak dapat disembuhkan. Alat ini nanti menjadi obsesi manusia bumi untuk menyembuhkan penduduknya yang sakit parah. Nah tetapi, tidak diijinkan oleh Elysum, karena mereka bukan penduduk elysum. Disinilah kesenjangan sosial menganga. Penduduk bumi yang sakit dan miskin membuat kriminalitas meningkat.

Kembali ke Max, Max bekerja di Armadyne. Milik orang Elysum. Beginilah tabiat kapitalisme global, mereka hidup mewah dari memeras orang-orang yang termarginalkan. Max bekerja sebagai operator instrumen radioaktif. Suatu hari Max terjebak masuk ke ruang radiasi dan divonis akan meninggal dalam 5 hari. Ingin sembuh Max, datang ke Spider (Wagner Moura), seorang pemimpin revolusioner yang punya misi membuat elysum tanpa kelas, agar bisa dinikmati semua manusia. Sosok ini digambarkan seperti sosok che guavara. Max meminta Spider mengirimkan dia ke Elysum untuk pengobatan. Spider setuju tapi dengan syarat Max bekerja pada dia untuk membajak data penting petinggi Elysum. Dipilihlah CEO Armadyne yang merupakan orang dekat Menteri Pertahanan Elysum, Delacourt, yang diperankan oleh Jodie Foster, Artis Senior peraih Academy Award. Delacourt ini ambisius. Demi kepentingan Elysum dia rela melakukan apasaja, bahkan termasuk mengaktifkan agen ilegal.

Yang menarik adalah ternyata sebelumnya CEO Armadyne ada kesepakatan dengan Menhan Delacourt untuk melakukan revolusi sistem di Elysum. Dan semua data tentang revolusi ini disimpan oleh CEO Armadyne yang hendak dibajak Max dkk. Jadilah Elysum mengarahkan militer terkuatnya untuk menghabisi Max. Max jadi pelarian karena diburu oleh militer. Tapi Max masih bersikap pragmatis. Dia berpikir dengan data yg dia miliki, Elysum tak mungkin membunuhnya. Maka Max menyerahkan diri, dalam pikirannya data ini bisa ditukar dengan alat kesembuhan untuk penyakit Max. Max dibawa ke Elysum. Diikuti oleh Spider yang diam-diam melacak Max. Karena kepentingan spider untuk menjadikan Elysum menjadi milik semua orang bertemu ada dalam data yang di bawa Max. Maka terjadilah konflik yang seru di Elysum. Belum Penghianatan Militer kepada Menhan Delacour, dengan Membunuhnya.

Akhir dari cerita ini adalah Konflik batin Max. Saat berhasil mengalahkan musuhnya, dia dihadapkan pada dua pilihan. Menjadikan dirinya sembuh, atau mengupload data yang disimpan dikepalanya agar seluruh penduduk bumi bisa ke Elysum, tapi beresiko dirinya terbunuh. Obsesi kesembuhan dirinya didepan mata, justru ketika pilihan menjadi martir kelompoknya harus dia pilih. Disinilah pilihan tetap hidup tapi dalam keegoisan atau mati tapi dalam kemuliaan. Kira-kira Max pilih sikap yang mana? Apakah didikan reigius dipanti masih membekas? Atau justru mental pencuri mobilnya yang menguat?

Selamat menyaksikan pilihan Max.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *