ESTO, Bus Legendaris Salatiga Tempo Dulu

by

Kamu Orang Salatiga? Atau pernah tinggal di Salatiga? Bisa dipastikan tahu bus ESTO atau malah pernah menikmati layanannya kan. Begitu terkenalnya bus ESTO bahkan bisa dikatakan seperti identik dengan Salatiga.

ESTO dengan armada bus hijau (ada yang menjulukinya kodok ijo) adalah bus pertama Salatiga sehingga menjuluki diri “perusahaan angkutan pertama Salatiga” (Eerste Salatigasche Transport Onderneming), beroperasi sejak 1921. Juragannya bernama Kwa Tjwan Ing, mengawalinya dengan bus kecil, dan baru pada 1923 memberi nama ESTO. Trayeknya adalah Salatiga-Bringin dan Salatiga-Tuntang. Kedua kecamatan di luar kota itu memiliki stasiun kereta api, tapi Salatiga tidak dilewati sepur.

Sebelumnya, Armada Kwa Tjwan Ing dulu layaknya taksi saat ini. Armadanya selalu terparkir di depan rumah Kwa Tjwan Ing (sekarang hotel dekat garasi ESTO). Waktu itu hanya kelas priyayi lah yang dapat menggunakan jasanya .

Saat itu Kwa Tjwan Ing juga memiliki beberapa armada truck angkutan juga. Saat itu salatiga menjadi pemasok bahan pokok ke residen Semarang. Hasil bumi seperti sayuran harus diantarkan dengan cepat ke semarang. Mungkin peluang itulah yang mendorong Kwa Tjwan Ing untuk menurunkan armada trucknya.

Menurut kabar dulu ada 2 armada truck milik Kwa Tjwan Ing yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi, arang, dan sayuran ke semarang. Dan inilah cikal bakal bisnis ekspedisi menggunakan kendaraan truck di Jawa Tengah. Dan hebatnya Kwa Tjwan Ing adalah perusahaan yang memperhatikan keselamatan. Konon kabarnya truck milik Kwa Tjwan Ing tidak pernah membawa muatan lebih dari beban maksimal yang dapat ditanggung oleh kendaraan. Mungkin ini karena peraturan oleh pihak belanda yang sangat ketat. Dan kedisiplinan sopir juga sangat dituntut. Truck harus masuk garasi dengan jam yang telah ditentukan.

Selanjutnya tahun 1923an. Sang pendiri, Kwa Tjwan Ing, mengembangkan usaha setelah membeli beberapa bus kecil. Bus hanya melayani rute Salatiga-Tuntang dan Salatiga-Bringin. saat itu telephone baru saja masuk ke salatiga. ketika itu di armada Kwa Tjwa Ing (belum berubah menjadi ESTO) tertera jelas no telepone 42. Rute Salatiga-Tuntang dipilih karena adanya stasiun kereta di Tuntang.

Waktu itu armada bus pertama ESTO berkapasitas 16-18 orang. Tempat duduknya dibagi dua, tempat duduk bagian depan diberi jok yang empuk dan menghadap ke depan untuk orang-orang Belanda. Sementara tempat duduk bagian belakang hanya dari rotan dan menghadap ke belakang untuk kaum pribumi. Karena fasilitas lain, maka ongkosnya pun berbeda. Masih terlihat jelas perbedaan dan diskriminasi di sini.

Di awal usahanya, mobil Kwa Tjwan Ing menggunakan ban mati dengan daya yang terbatas, maka tidaklah mengherankan bila melewati tanjakan tertentu yang terjal mobil tersebut harus berjalan mundur, bila tidak maka tidak akan kuat naik. Pada 1930, ESTO berganti pemilik, dari Kwa Tjwan Ing kepada anaknya Kwa Hong Po (Winata Budi Dharma). Pada masa ini, ESTO semakin berkembang dan melayani rute Sragen, Purworejo, Kutoarjo, Kendal, Kudus, dan Pati.

Tahun 1930an dunia dilanda krisis ekonomi besar. banyak bidang usaha yang terancam gulung tikar. tak terkecuai ESTO. perusahaan ini mulai kesulitan keuangan. saat itu perusahaan dipimpin dan dijalankan oleh Kwa Hong Po. Kebangkrutan tersebut membuat sebagian armada ESTO diambil alih BPM Shell karena ESTO memiliki banyak hutang bensin. Sebagian lagi armadanya jatuh ke perusahaan bus NV ADAM, Semarang.

Karena armadanya tinggal beberapa saja maka konsekuanesinya ESTO kembali hanya melayani Bringin, Suruh, Ambarawa, dan Tuntang saja. Pada 1938, ESTO berganti pemilik lagi dari Winata Budi Dharma ke saudaranya, Kwa Hong Biauw.

Dibawah kendali Kwa Hong Biauw ESTO sedikit demi sedikit merangkak membenahi diri. Badai hutang yang mulai mereda membuat kondisi keuangan ESTO menjadi sedikit membaik hingga sebelum tahun 1940an.

Menjelang Jepang masuk ke Indonesia, sebagian armada ESTO diambil alih Belanda untuk menghadapi serbuan Jepang. Sebagai kompensasinya, pemilik ESTO mendapat “surat sakti” dari pemerintah Belanda. dijanjikan oleh pihak Belanda nantinya dengan surat itu, pemilik ESTO dapat membeli bus baru lagi dengan harga yang murah. kondisi sulit tak berhenti sampai di sini.

Pada jaman Jepang, armada ESTO kembali menjadi rampasan, bahkan truk dan kendaraan jenazah yang dimiliki ESTO pun tidak luput dari incaran Jepang. Pada 1948 dengan menggunakan surat sakti dari pemerintah Belanda, pemilik ESTO membeli bus-bus baru lagi dengan harga yang sangat murah. saat itu ESTO mendapatkan banyak armada Chevrolet dengan harga murah dan akhirnya hampir seluruh armadanya menggunakan Chevrolet.

Selain bus ESTO yang legendaris, sejarah mencatat beberapa perusahaan otobus tempo dulu di Salatiga antara lain bus ADAM, PICCOLO dan SALAM. Perusahaan-perusahaan otobus tersebut memang sudah tidak ada lagi sejak jaman pendudukan Jepang sehingga jarang diketahui oleh masyarakat sekarang.

Bus ADAM

Pada 1930 di Salatiga berdiri perusahaan otobus ADAM. Bus ADAM beroperasi dengan jenis bus sedang berkapasitas 32 penumpang. Ini merupakan bus pertama yang melayani rute Semarang-Salatiga-Boyolali-Solo pp sejauh kira-kira 100 km. Sayangnya sejak 1942 saat masa pendudukan Jepang bus ini tidak beroperasi lagi.

Bus PICCOLO
Sejak 1935 ada perusahaan bus lain yang aktif yang bernama PICCOLO. Bus ini mencoba untuk bersaing dengan bus ADAM dengan layanan rute yang sama dengan bus ADAM. Bus PICCOLO menggunakan jenis bus kecil berkapasitas 20 penumpang. Namun nampaknya bus PICCOLO tidak mampu bertahan dalam persaingan akibat sering terlibat dalam kecelakaan.

Bus SALAM
Pada tahun 1935 juga mulai berdiri sebuah perusahaan otobus SALAM. Bus ini melayani rute Salatiga-Tingkir-Suruh. Keberadaan bus ini sangat membantu masyarakat daerah Tingkir dan Suruh terutama petani kecil yang akan membawa hasil pertaniannya untuk dijual ke pasar Salatiga. Namun pada masa pendudukan Jepang bus ini juga berhenti beroperasi.

Sumber : http://www.sharesalatiga.id/2017/02/esto-bus-legendaris-salatiga-tempo-dulu.html

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *