FAKTA tentang Film ‘Pengkhianatan G30S-PKI’

by
Cover VCD Pengkhianatan G30S PKI

Jatengkita.id – Dalam sebuah survei yang dilakukan majalah Tempo, setidaknya 97 persen dari 1.101 siswa yang disurvei telah menyaksikan film ‘Pengkhianatan G30S-PKI dan sekitar 87 persen menontonnya lebih dari satu kali. Apakah anda salah satunya?

Bagi yang masih mengalami zaman pemerintahan Presiden Soeharto, pasti familiar dengan film ini. Film yang mencekam ini jadi film wajib setiap tanggal 30 September pukul 10.00 WIB malam untuk mengenang para jenderal yang tewas.

Meski sempat menjadi salah satu tontonan wajib, film ini sebenarnya bisa digolongkan sebagai film yang cukup kejam. Bayangkan saja, film yang berisi pembunuhan bermandikan darah malah wajib ditonton anak kecil.

Film ini sudah tidak wajib tayang lagi di TV sejak 1998, entah dengan alasan apa, film “wajib” Orde Baru itu tidak lagi ditayangkan seperti biasanya pada malam 30 September. Ada berbagai alasan yang mencuat di seputar penghentian film G30S/PKI. Salah satu yang sempat terdengar ialah adanya protes dari pihak Angkatan Udara (AU) yang merasa keberatan karena memberi kesan memojokkan AURI. Tidak hanya protes dari AU, pasca tambangnya Orde Baru, film itu juga menuai banyak kritikan, karena dianggap tidak sesuai dengan fakta sejarah. Alasan inilah yang paling sering disebut-sebut sebagai lantaran dari penghentian film “wajib” Orde Baru yang mengisahkan kekejaman PKI.

Banyak pihak mengatakan beruntung bagi yang tidak sempat merasakan mencekamnya menonton film Pengkhianatan G30S PKI setiap 30 September malam. Scoring musiknya terasa begitu mencekam, bahkan sejumlah bagian dari film itu masih terbayang. Suara-suara burung penanda kematian, teriakan “Papiii…”, pengambilan gambar close-up bibir hitam, dan “Darah itu merah, jenderal”.

Sejak diluncurkan ke layar kaca, film ini langsung dinominasikan dalam ajang Festival Film Indonesia pada 1984. Dari 7 nominasi yang diberikan, ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ hanya mampu memenangi satu penghargaan saja, yakni skenario terbaik. Setahun berikutnya, film ini memenangi penghargaan film dengan penjualan terbaik di ajang yang sama.

Fakta-fakta Film G30S Yang Dulu Wajib Ditonton

Berikut sejumlah fakta tentang film G30S/PKI yang mungkin belum Anda ketahui,

Disutradarai Arifin C Noer, Musik Digubah Embi C Noor

Tak banyak yang tahu bahwa sutradara film ini merupakan suami dari aktris Jajang C Noer, Arifin C Noer. Pria kelahiran 10 Maret 1941 ini telah menghasilkan 13 film sepanjang karirnya di dunia film Tanah Air dan meraih banyak Piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia. Salah satu film terlaris dan paling kontroversial adalah Pengkhianatan G30S PKI.

Konon, adegan seram dalam film itu mengalahkan film horor Indonesia manapun. Musik latarnya yang pelan dan menyayat, yang digubah oleh Embi C Noor, sangat terasa mencekam dan berbanding selaras dengan narasi film tersebut yang sangat kaku dan dingin.

Belum lagi setting film tersebut yang berpindah-pindah. Dari mulai Istana Bogor, rumah panglima, TK Ade Irma Suryani, ruang-ruang sempit nan gelap yang digambarkan sebagai tempat rapat PKI yang remang-remang, dan tentu saja Lubang Buaya, turut menunjang suasana mencekam film besutan Arifin C Noer itu.

Judul asli

Sebelum diberi judul Pengkhianatan G30S PKI, film yang dibintangi Ade Irawan dan Umar Kayam ini berjudul Sejarah Orde Baru. Proses pembuatannya memerlukan waktu 2 tahun, terbagi atas 4 bulan preproduksi, dan 1,5 tahun untuk syuting. Sisanya adalah proses edit.

Memang akting para pemain patut diacungi jempol, karena pada saat dulu menonton, banyak yang sempat mengira bahwa film ini dibuat langsung pada saat kejadian. Saking nyatanya.

Alasan film G30S/PKI tidak ditayangkan lagi

Sejak pertama kali ditayangkan, pemerintahan Orde Baru meminta agar film ini ditayangkan di layar kaca setiap tanggal 30 September. Perintah tersebut dilaksanakan TVRI, yang merupakan satu-satunya stasiun televisi resmi di Indonesia, kemudian diikuti tv swasta lainnya.

Dalam beberapa kesempatan, film tersebut ditayangkan di sejumlah sekolah dan institusi pemerintah, bahkan sejumlah pelajar dikerahkan ke lapangan untuk menyaksikannya bersama-sama. Alhasil, film ini didaulat menjadi film yang paling banyak diputar dan ditonton.

Namun, tayangan film ini mulai berhenti sejak era Reformasi bergulir. Penghentian dilakukan setelah banyak pihak yang meragukan kebenaran sejarah dalam film tersebut, termasuk protes dari TNI AU yang merasa terus dipojokkan dalam peristiwa berdarah itu.

Film yang diproduseri Nugroho Notosusanto ini ternyata menarik perhatian Presiden Soeharto. Sebelum resmi ditayangkan secara umum, mereka yang terlibat dalam operasi penumpasan PKI sudah terlebih dahulu menyaksikannya.

Pak Harto yang merupakan salah satu sosok penting di balik gagalnya kup tersebut merasa film itu layak dipertontonkan ke khalayak. Bahkan, dia berharap cerita yang diterangkan dapat menggambarkan kekejaman para pendukung komunis terhadap para jenderal dan rakyat Indonesia.

Sejak itu, film ini menjadi satu-satunya sumber sejarah yang dipergunakan di tanah air. Tak hanya itu, masyarakat dilarang memperdebatkan isi film tersebut dan menjadikan satu-satunya diskursus sejarah pemberontakan.

Tak ada yang pernah membantahnya. Terdapat pesan antikomunis di awal maupun akhir film yang dibawakan oleh setiap Menteri Penerangan di era Orba.

Melenceng dari sejarah?
Enam tahun setelah resmi ditayangkan ke ranah publik, film ini baru mendapatkan kritikan pertamanya. Kritik tersebut muncul dalam sebuah milis, di mana akun tanpa nama tersebut mempertanyakan kekejaman yang ditampilkan terhadap para jenderal.

Lewat pesan berantai itu, penulis milis mempertanyakan peran pemerintah atas korban-korban lain yang timbul pasca kup yang gagal. Mereka juga menjalani pelbagai penyiksaan, bahkan dihukum tanpa melalui proses pengadilan.

Sejarawan Indonesia, Dr Asvi Warman Adam menuliskan, film G30S/PKI banyak mengandung kelemahan historis. Salah satunya adalah peta Indonesia yang berada pada ruang Kostrad sudah memuat Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia. Faktanya, pada tahun 1965/1966 Timor Timur belum berintegrasi.

Tak hanya soal peta, penggambaran berbagai tokoh dinilai berlawanan dengan fakta sejarah. Aidit digambarkan sebagai pria perokok berat. Tokoh yang diperankan oleh Syubah Asa, berulangkali mengisap dalam-dalam rokoknya. Kesannya, Aidit tengah gelisah, tidak tenang. Fakta lain menyebutkan, Aidit bukan sosok perokok berat.

Menonjolkan kesadisan
Dengan durasinya yang panjang, ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ memaparkan rencana-rencana DN Aidit untuk merebut kekuasaan dari tangan Soekarno. Mulai dari rapat-rapat rahasia, hingga tayangan yang memicu kemarahan umat Islam seperti pembakaran buku-buku agama dan Alquran.

Di menit-menit terakhir, film ini mulai menampakkan kesadisannya. Tak sedikit darah yang dipertontonkan dalam setiap adegan, mulai dari ditembaknya Jenderal Ahmad Yani oleh pasukan Tjakrabirawa, hingga darah yang menetes dari tubuh Ade Irma Nasution.

Adegan-adegan lain yang diperlihatkan adalah proses penyiksaan terhadap 4 pahlawan revolusi yang tertangkap hidup-hidup. Salah satu adegannya adalah menampilkan penyiletan ke wajah salah satu korbannya oleh Gerwani, sebelum dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya.

Tak hanya itu, untuk menambah suasana mencekam, dimasukkan beberapa kalimat tajam namun dingin. Antara lain, “Darah itu merah jenderal seperti amarah,” dan “Bukan main wanginya minyak wangi jenderal. Begitu harum. Sehingga mengalahkan amis darah sendiri.”

Fakta Unik Lainnya

Diangkat dari buku

Film Pengkhianatan G30S PKI dibuat berdasarkan buku catatan sejarah tahun 1968 karya sejarahwan militer Nugroho Notosusanto dan investigator Ismail Saleh yang berjudul Percobaan Kudeta Gerakan 30 September di Indonesia.

Rano Karno tidak lolos casting

Aktor Rano Karno ternyata ditolak untuk memerankan Pierre Tendean, dengan alasan tidak punya tahi lalat di bagian wajah.

Dibiayai pemerintah

Produksi film Pengkhianatan G30S PKI menelan biaya hingga Rp 800 juta, dengan durasi selama 3 jam 37 menit. Angka yang cukup fantastis untuk tahun 1984. Untuk menambah dramatisasi, film ini diklaim mengerahkan 10 ribu pemain utama maupun figuran. Dalam film ini, Arifin menyadur catatan sejarah dalam buku berjudul ‘Percobaan Kudeta Gerakan 30 September di Indonesia’.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *