Foto Paling Kece dan Hits di Festival Payung Indonesia

by

Keberagaman di Indonesia adalah anugerah. Selaras dengan dengan kehidupan alam yang penuh warna. Layaknya seperti keindahan pelangi dengan ragam warnanya. Selaras dengan ciptaanNya di dunia ini yang penuh keberagaman. Keberagaman itu fitrah. Indonesia yang terdiri dari 34 provinsi, 1.128 suku bangsa, 742 bahasa daerah, adalah suatu fakta. Sayang, akhir-akhir ini perjalanan anak bangsa mengalami ancaman ruang toleransi dalam menerima perbedaan dalam keberagaman. Perjalanan kehidupan pluralisme seperti anak muda yang terus berubah-ubah. Ia sulit mengerti.

Foto Paling Kece dan Hits di FPI

Ini versi instagram yah, kita simak mulai dari foto dengan 3.536 ini diambil dengan nuansa sangat cerah dan kepadatan pengunjung yang tidak sedikit. Foto milik @korea_travelind ini di regrann oleh @diskonsolo, sontak likers nya menanjak apalagi fotonya memang kece.

Terlihat dalam gambar 3 gadis beli bergandengan tangan, dan gadis paling depan berupaya menggapai payung yang tergantung di maskot FPI tahun ini di Solo. Foto ini terlihat berupaya menggunakan teknik levitasi dimana diambil dari sudut bawah dan berupaya menghadirka efek tinggi / terbang pada objek.

Foto : IG @diskonsolo regrann dari @korea_travelind

Kita lanjutkan dengan foto yang nggak kalah kece dibawah ini

IG @explore_kotasolo from @aliffahsaufi

Mba-mba berjilbab cantik ini sepertinya masih SMA, (hehe.. kepo). Nama akunnya @aliffahsaufi. Foto ini mendapat likers 2071 setelah di regrann oleh @explore_kotasolo. Terlihat di gambar warna-warni dengan saturasi yang kuat, diambil dari enggel bawah.

Foto ini menjadi semakin humanis karena objek utama (pemilik akun @aliffahsaufi (kayakya) hehe) dan seluruh objek figuran tidak ada yang melihat kamera, jadi unsur narsisnya cukup berkurang drastis, dan terkesan lebih alami. Ditambah lagi secara kebetulan objek figuran yang tampak berbaju warna warni, harmoni dengan payung2 yang bergantungan diatas, berlatar biru mudanya awan, foto ini layak menjadi foto paling kece seFPI raya 🙂

Sebelum melanjutkan ke foto pada siang hari, kita selingi dulu dengan foto malam yang satu ini…..

IG @agendasolo from @cahyoganden

Foto ini diambil malam hari, simpel tanpa kehadiran objek manusia yang jelas, tapi punya liker paling banyak menembus 3.996. Tidak kalah dengan versi malam, versi senja hari dengan warna violet nya sangat menawan hati, coba perhatikan foto dengan gaya hits berikut ini…

IG @explore.solo

Meskipun gayanya lagi mainstream banget, tapi likernya nembus 3.840 bro! Warna khas senja, objek yang jelas. dan simetrisnya gambar membuat foto ini bisa dibilang paling romantis se-Festival Payung Indonesia.

Nah, nggak kalah seru dengan foto lain, foto dibawah ini tampil beda dengan posisi portrait alias berdiri. Meskipun foto ini terbilang paling narsis karena sang objek melihat kamera dan penuh gaqya, namun likers nya tidak juga sedikit, menembus 2.401 like.. wow juga yaah.

@explore_semarang

Cerita Dikit, Pembukaan Acara Festival Payung Indonesia

Diawali dengan Parade starting point dari Pasar Triwindu menuju Pura Mangkunegaran Solo, Jumat (15/9/2017), menjadi penanda dibukanya Festival Payung Indonesia (FPI) 2017. Ingar bingar kegembiraan terlihat dari wajah para peserta pawai dan pengunjung yang sebelumnya asyik berswafoto (selfie). Warna warni payung bermotif batik seperti kawung, parang, dan lurik, turut memeriahkan acara pembuka yang berakhir dengan fashion show di area Pendapa Pura Mangkunegaran.

Pengembangan fungsi payung dari pelindung menjadi penghias sebuah festival ini bukanlah kali pertama. Gegap gempita acara adat di Nanggala, Toraja Utara pada 1972, juga didukung beberapa varian payung sebagai hiasan utama. Jauh sebelumnya para perempuan Bali membawa payung fantasi saat menggelar upacara adat di tempat mereka pada 1917.

Cerita tentang payung zaman kolonial Belanda tersebut disimpan dalam dokumentasi foto di Tropen Museum, Amsterdam, yang juga dipamerkan dalam acara FPI. Pameran bertajuk Tempo Doeloe tersebut juga menyuguhkan cerita tentang payung-payung tradisi era 1900-an yang juga digunakan para pejabat.

Gubernur Lampung pada 1921 Dirk Fock dinaungi payung kertas berbentuk bulat datar saat mengunjungi tanah Transmigrasi masyarakat Jawa di Lampung, Sumatra Selatan. Payung di daerah Kesultanan Sumbawa bahkan dijadikan sebagai simbol kekuasaan.

Dokumentasi A. Kurnia Sanjaya memperlihatkan sebuah payung yang menaungi Sultan Muhammad Kaharuddin IV saat melaksanakan prosesi pengangkatannya sebagai Sultan Sumbawa ke-17 pada 5 April 2011. Payung yang selalu dibawa saat acara Kesultanan Sumbawa tersebut bernama Sarpedang, diperkirakan sudah ada sejak 1600.

Begitu juga dengan Solo, maskot FPI, Putri KGPAA Mangkunagara IX Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo, Jumat (8/9/2017), mengatakan di Pura Mangkunegaran payung termasuk salah satu benda sakral yang biasa digunakan untuk pelengkap upacara-upacara tradisi.

“Payung selain pelindung juga menjadi salah satu pusaka. Ini bagian dari sejarah dan kebudayaan yang harus kita pelajari,” kata dia.

Salah satu daerah pengrajin payung yang terkenal adalah Tasikmalaya. Aktivitas pengrajin pada 1930 juga dipamerkan dalam acara tersebut. Tak hanya itu, bukti sejarah payung zaman dulu juga tersimpan dalam panil relief di beberapa Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dipotret oleh Arief Budi Santono.

Maestro Tari

Acara yang dibuka secara resmi Jumat malam ini juga dimeriahkan ratusan instalasi payung kreasi dari berbagai daerah. Ditambah 127
payung rajut dan 29 karya para perupa Nusantara. Hari terakhir FPI, Minggu (17/9/2017), panitia menghadirkan enam maestro tari Dariah Banyumas, Ayu Bulantrisna Djelantik Bali, Rusini Solo, Retno Maruti Jakarta, Didik Nono Thowok Yogyakarta, dan Munasiah Daeng Jinne Makassar.

“Acara festival payung ini cukup ramai. Saya sudah pernah ke acara ini sampai dua kali. Pertama di Taman Balekambang dulu. Meski enggak sebesar di Thailand cukup menarik untuk wisatawan. Kami jadi tahu ragam budaya di Indonesia,” kata salah satu pengunjung asal Thailand Sirikanda Sakulpimolrat.

Inisiator FPI Heru Prasetyo yang akrab disapa Heru Mataya, Kepala Dinas Kebudayaan Basuki Anggoro Hexa, Deputi Pengembangan Bidang Pariwisata Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty, Gusti Puteri Mangkunagara IX, serta perwakilan Thailand membuka FPI 2017 secara simbolis dengan memutar payung berdiameter 50 sentimeter di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran.

Esthy dalam sambutannya mengapresiasi konsistensi Heru yang menyelenggarakan FPI hingga tahun keempat. Seusai dengan misi Sepayung Indonesia yang berarti keberagaman dan kekayaan, ia berharap acara ini semakin menambah daya tarik Indonesia. Dampak lain dari acara ini tak hanya di bidang pariwisata tetapi juga mengangkat perekonomian masyarakat.

“Seperti yang dikatakan Gusti Puteri Mangkunagara IX tadi, payung makna filosofinya sangat dalam. Kita lahir sampai mati memerlukan payung. Terima kasih perwakilan daerah lain yang meramaikan acara hari ini. Semoga tahun depan semakin banyak yang terlibat. Dari luar negeri tak hanya Thailand tetapi negara negara Asia lainnya seperti Tiongkok, Korea hingga menjadi festival internasional,” kata dia.

Euforia malam pembukaan kemudian dilanjutkam dengan beragam tari payung. Di antaranya Tari Srimpi Moncar dari Kematren Langenprojo Pura Mangkunegaran, Rentak Sepayung Balariung Seni dari Sri Gemala Kepulauan Riau, serta pentas Payung Fantasi Cinta Indonesia feat Fashionoleh desainer Uzi Fauziah bersama BSO. Sejak sore ribuan pengunjung padati malam pembukaan FPI 2017 di Pura Mangkunegaran. Mereka memenuhi lapangan pamedan hingga area Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran.

Ada banyak, wisata jawa tengah yang disuguhkan untuk masyarakat termasuki wisatwan asing, kita sebagai warga jawa tengah harusa terdepan mempromosikan wisata di daerah kita. Selalu update info event wisata dan lokasi wisata hanya di jatengkita.id 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *