Gen Alpha; Para Pewaris Millenial

by
parade tasmi' kuttab al faatih
Santri Kuttab Al-Faatih Semarang sedang Parade Tasmi’ hapalan Al-Qur’an (dokumentasi istimewa)

Sebenarnya bukan mereka yang sering disapa “kids jaman now”. Mereka belum disapa, belum jadi pusat perhatian. Mereka belum dianggap penting dari sudut pandang ekonomi industri, pasar suara politik, atau apapun, ini memang belum zaman mereka.

Padahal mereka anak-anak masa depan. Kalau generasi sebelum mereka ini disebut generasi Z, maka Analis sosial-cum-demograf Mark McCrindle dari grup peneliti McCrindle pertama kali menamakan mereka generasi Alpha (α). Dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha, ia mengungkapkan, generasi berikutnya akan dinamai sesuai abjad. Itu sebabnya mereka yang lahir setelah Generasi Z akan dipanggil Generasi Alpha.

Mereka kebanyakan adalah anak dari generasi milenial (generasi Y), tahun kelahirannya dimulai dari 2010. Menurut McCrindle, Generasi Alpha akan menjadi generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Sekitar 2,5 juta Generasi Alpha lahir setiap minggu. Membuat jumlahnya akan bengkak menjadi sekitar 2 miliar pada 2025.

Apa yang berbeda dari mereka? Belum banyak studi memprediksi preferensi gaya hidup, politik, dan ekonomi generasi ini. Tapi percayakah jika mereka ini pewaris budaya / nilai milenial sesungguhnya?

Setiap generasi punya miliu, value, dan tuntutannya sendiri-sendiri. CEB Iconoculture dalam laporannya tahun 2013 menguraikan perbedaan value yang digenggam masing-masing generasi. Bagi generasi Baby Boomers (saat ini berusia kepala-5) menganggap tinggi nilai keadilan (justice), integritas (integrity), kekeluargaan (family), kepraktisan (practicality), dan kewajiban (duty). Sedangkan millennials lebih memandang penting kebahagiaan (happiness), passion, keberagaman (diversity), berbagi (sharing), dan penemuan (discovery).

Yang disebut generasi milenial hari ini adalah mereka yang sebenarnya para imigran. Yakni terjadinya migrasi cara berfikir, bertindak dan berkomunikasi akibat disrupsi (perubahan fundamental) dari teknologi. Ketika berbicara ‘migran’ maka nilai yang dipegangnya sebenarnya juga masih peralihan, belum paripurna. Artinya karakter yang menganggap penting happiness, passion, diversity, sharing, dan discovery seperti disebutkan sebelumnya bisa dibilang baru akan benar-benar dipegang oleh generasi setelah mereka, gen Alpha.

Ambil contoh revolusi industri salah satu titik balik besar dalam sejarah dunia. Dimulai dari Britania Raya kemudian menyebar ke Eropa barat, Amerika utara, Jepang dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Butuh waktu 100 tahun (1750 – 1850) untuk mendisrupsi tenaga manusia menjadi tenaga mesin, butuh beberapa generasi untuk menyesuaikan nilai-nilai sebagai konsekuensi disrupsi itu sendiri. Yang mana nilai itu berpengaruh pada penyesuaian skill yang dibutuhkan di dunia kerja.

Misalnya saja, hari ini cara-cara berbisnis yang dulunya sangat menekankan owning (kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources). Jadi kalau dulu semua perlu dimiliki sendiri, dikuasai sendiri, sekarang tidak lagi. Sekarang kalau bisa justru saling berbagi peran.

Atau, kalau dulu semuanya ingin dikerjakan sendiri, pada era disruption seperti yang dijabarkan Prof Rhenald kasali tidak lagi seperti itu. Sekarang eranya bekerja bersama-sama, kolaborasi, bergotong royong.

Dari value-value diatas sebenarnya masih banyak turunan yang benar-benar baru dan merubah tatanan dunia. Sebut saja perilaku bermedia dan berekonomi. Karena menganggap penting passion, keberagaman (diversity) dan berbagi (sharing) maka gen milenial kurang begitu suka pada media mainstream, bahkan lahirlah citizen journalisme. Bahkan hari ini brand-brand besar lebih prefer mengajak blogger, youtuber dan selebgram dibanding media, ini cara baru dunia memandang media.

Di dunia ekonomi gen milenial tak suka dengan bank, hal inilah yang menjadi cikal bakal Fintech Peer to Peer Lending di Indonesia. Silahkan baca artikel Peer to peer lending vs Pinjaman bank. Dan masih banyak contoh disrupsi lainnya.

Jadi menurut hemat kami, lebih tepat apabila kita fokus menjaga dan mendidik generasi alpha ini sebagai pewaris negeri Indonesia tercinta ini. Biarkan mereka tidak suka dengan bank karena praktik ribawi yang ngRIBAnget itu bank-lah tulang punggungnya. Biarkan mereka tidak percaya media, karena media sarat kepentingan politik dan sandra menyandra kepentingan. Biarkan mereka menjadikan diri mereka saling warta mewartakan, saling berbagi informasi.

Saat kelahiran, mereka telah melihat sendiri bagaimana orangtua mereka berupaya ‘hijrah’ menuju ke kehidupan yang lebih baik. Mengorbankan banyak aset demi menghindari dosa riba misalnya. Dengan mata dan pendengaran sendiri mereka menikmati agama dan kesadaran spiritual orangtua mereka berubah menjadi mobilisasi massal.

Dengan laku rasa karsa mereka melihat konsep berbagi harta yang dimiliki ortunya terbalas dengan sempurna menjadi kebahagiaan sejati. Dengan laku tubuh dan pikir mereka diajarkan Al-Quran berikut pengamalan isinya. Disisi lain orangtua mereka yang kecanduan gadget telah mencapai titik nadir kesadaran dan akhirnya membatasi mereka tersentuh gawai yang katanya pintar itu.

Bersama orangtua mereka yang generasi milenial itu, mereka menikmati dan berbagi keindahan alam bukan mengkapitalisasinya. Ada burung cantik bukan untuk ditembak dan dipelihara, ada tupai cantik bukan untuk ditangkap, tapi dibiarkan di alam bebas.

dan dengan sederet pengalaman lain yang menjadikan gen Alpha benar-benar tumpuan harapan kita menjaga bumi Allaah Ta’ala dan meninggikan kalimatNya.

;raka!
DaddyBlogger

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *