Ramai #PBSIBisaApa di Media Sosial, Badminton Indonesia Makin Anjlok

Ramai #PBSIBisaApa di Media Sosial, Badminton Indonesia Makin Anjlok
(Foto : Pinterest)

Jatengkita.id –  Media sosial diramaikan dengan kritikan #PBSIBisaApa  sejak Kamis (01/03/2024). Hal ini bermula dari cuitan akun Badminton Talk yang terinspirasi dari kacaunya sepak bola Indonesia beberapa waktu lalu.

Akun fanbase ini mengajak seluruh Badminton Lovers (BL), sebutan bagi pecinta bulutangkis, untuk menyampaikan aspirasi, keluh kesah, dan harapan kepada pimpinan PBSI.

Diketahui, prestasi bulu tangkis Indonesia di bawah kepemimpinan Agung Firman Saputra sebagai Ketua Umum dan Alex Tirta sebagai Ketua Harian menurun drastis. Publik mendesak keduanya untuk mundur sudah sejak lama sejak prestasi badminton Indonesia mulai menunjukkan penurunan.

Di ajang paling prestisius, yaitu Olimpiade, Indonesia tidak menempatkan satu pun wakilnya ke final. Sektor ganda campuran, ganda putri, dan tunggal putra berguguran di babak fase grup. Kemudian diikuti di babak perempat final dari sektor ganda putra. Indonesia hanya menyisakan tunggal putri di babak semifinal yang diwakili oleh Gregoria Mariska Tunjung.

Kegagalan masif itu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor performa atlet yang kurang memuaskan. Namun, lebih kepada penyiapan mental para atlet untuk membentuk tekad dan membangun jiwa-jiwa pejuang.

Jurnalis olahraga, Ainur Rohman dalam unggahan di akun X menyatakan bahwa waktu persiapan selama enam bulan untuk Olimpiade sangat tidak ideal. Persiapan yang matang membutuhkan waktu empat tahun, bahkan lebih bagi negara-negara yang kuat dalam bidang olahraga.

“Bahkan negara-negara kuat olahraga memiliki perspektif baru bahwa masa empat tahun itu tidak cukup. Mereka membuat Olympic Cycle Plan dalam rentang waktu 6 tahun,” tulisnya.

Namun, ia juga memberikan apresiasi kepada Tim Adhoc Olimpiade yang sudah melakukan banyak hal.

“Apa yang sudah dilakukan Tim Ad Hoc Olimpiade Paris 2024 sejatinya sudah ideal. Peduli dengan sports science, melibatkan sembilan psikolog yang hadir nyaris setiap hari, merekrut performance analyst, menjadikan Koh Chris sebagai direktur teknik,” tambahnya.

Gambar
(Foto : Pinterest)

Kebijakan PBSI yang Kacau

  1. Manajemen Atlet
    PBSI tidak menangani dengan baik beberapa pemain yang mengalami cedera, seperti Shesar Hiren Rhustavito, Apriyani Rahayu, dan Marcus Fernaldi Gideon. Program rehabilitasi cedera bagi atlet sangat buruk.

    Vito mengalami cedera betis kanan dan kiri sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu tahun. Dengan kondisi ini, ia gagal turun di banyak turnamen dan menyebabkan ranking dunianya merosot tajam. Parahnya, PBSI mencoret namanya dari daftar pemain Pelatnas.

    Selanjutnya ada Apriyani Rahayu. Atlet peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia Polii ini juga tidak ditangani dengan serius. Cederanya sering kambuh dan tak kunjung membaik.

    Terakhir ada Marcus Fernaldi Gideon. Ia sudah beberapa kali naik meja operasi dan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan. Merasa tidak akan bisa kembali ke lapangan dengan kondisi optimal, ganda putra ranking satu dunia ini akhirnya memutuskan untuk gantung raket.

    Terhitung tiga pemain yang mengumumkan pensiun secara personal di paruh 2024. Diawali Marcus Gideon, Ribka Sugiarto, hingga yang paling menyesakkan adalah Kevin Sanjaya. Mereka memutuskan mengundurkan diri disaat masih sangat memungkinkan untuk kembali bertarung di lapangan.

    PBSI menolak adanya perombakan pemain. Namun juga tidak memberikan solusi bagi pemain yang tidak diturunkan dalam turnamen.

  2. Pembatasan Ranking dan Pemain Non-Pelatnas
    #PBSIBisaApa berlanjut pada kebijakan pada ajang Indonesia International Challenge. PBSI memberlakukan kebijakan terkait syarat bagi atlet yang boleh mengikuti turnamen. Hanya atlet yang memiliki ranking BWF 1-200 yang boleh berpartisipasi. Dan hasilnya, tidak ada satupun yang berhasil menang.

    Kebijakan diskriminatif tersebut jelas membunuh potensi atlet. Banyak pemain di luar pelatnas yang nyatanya bisa tampil lebih prestatif daripada pemain Pelatnas itu sendiri.

  3. Nihil Prestasi
    Indonesia meraih banyak sejarah “pertama kali” dalam hal kekalahan. Terhitung ada beberapa turnamen besar yang gagal diamankan. Mulai dari ajang Asian Games, Badminton World Championship, dan World Tour Finals. Kemudian even beregu seperti Sudirman Cup dan Thomas-Uber Cup.

    #PBSIBisaApa diharapkan menjadi kritik puncak atas segala keluhan publik yang selama ini tidak digubris. Kita tentu merindukan masa kejayaan bulutangkis Indonesia yang tidak pernah sepi dari prestasi.

Baca juga : Update Perolehan Medali Olimpiade Paris 2024, China Masih Unggul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *