Ini 5 Poin Piagam Borobudur Yang Dilupakan Media

by

jatengkita.id – Awalnya, prakarsa Aksi Peduli Rohingya akan dilaksanakan di kawasan Candi Borobudur Magelang, namun karena larangan dari Kepolisian aksi ini berpindah di Masjid An-Nur kompleks Pemkab Magelang. Tujuan dilaksanakan di borobudur adalah untuk mendapatkan perhatian internasional karena Borobudur tidak hanya icon umat Buddha namun juga icon internasional karena pernah masuki 7 keajaiban dunia.

Pihak penyelenggara menjelaskan format acara sebagaimana dirilis di berbagai media adalah penggalangan dana dan doa bersama. Dan ujung dari aksi ini, penyelenggara berharap pesan yang disampaikan kuat dan sampai. Namun apa daya akibat upaya Kepolisian yang menetapkan siaga I dari Kamis (07/09) hingga Sabtu (09/09) terkait aksi ini, maka berita media lebih banyak menyorot hal kecil dibandingkan pesan utama yang disampaikan peserta Aksi.

Padahal hingga akhir acara, aksi ini berjalan damai dan tertib, gugurlah semua asumsi dari media dan kepolisian yang mencurigai kerusuhan akan terjadi di aksi ini. Aksi dimulai setelah massa menunaikan salat Jumat berjemaah di Masjid An Nur. Mereka juga menggelar salat gaib bagi para jenazah Rohingya yang menjadi korban kekejaman tentara Myanmar.

Isi Piagam Borobudur:

  1. Mengecam tindakan kekerasan massal di Rohingya.

  2. Mendesak Pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan di Rohingya dan menghukum pelaku kekerasan tersebut. Pemerintah Myanmar juga harus membuka akses bantuan kemanusiaan bagi Rohingya.

  3. Mendorong Presiden Indonesia untuk berperan aktif dalam permasalahan Rohingya.

  4. Meminta PBB mengirim pasukan perdamaian ke Rohingya.

  5. Mendesak negara di ASEAN, OKI dan PBB untuk mewujudkan perdamaian di Rohingya. Meminta pelaku kekerasan di Rohingya diadili di Mahkamah Internasional.

Sebelum mengakhir aksi bela rohingya di Masjid An-Nur, Sawitan, Kabupaten Magelang, Jumat (08/09/2017), Koordinator Aksi Anang Imamudin, membacakan pernyataan sikap dalam ‘Piagam Borobudur’. Dimana ditegaskan jika kemerdekaan adalah hak segala bangsa tanpa membedakan suku, ras dan agama. Oleh sebab itu, penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai perikemanusiaan dan perikeadilan.

Selanjutnya, kehidupan bernegara yang berdasarkan atas kemerdekaan, kemanusiaan dan keadilan di Indonesia telah terwujud dari masa ke masa sejak masa Syailendra yang membangun Candi Bhumi Sambhara Bhudara di Borobudur. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat berubah menjadi mayoritas Islam namun tidak ada konflik karena agama.

Dalam ‘Piagam Borobudur’ ini, pihaknya juga mengecam dan mengutuk tindakan kekerasan dan pembunuhan massal terhadap rakyat Rohingya, mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan segala bentuk tindak kekerasan, menghukum semua yang terlibat.

Kemudian meminta kepada PBB segera mengirim pasukan perdamaian dan meminta negara-negara di ASEAN, OKI dan PBB, berperan aktif mewujudkan perdamaian di Rakhine serta mendesak ditangkap dan ditetapkannya pelaku kejahatan di Rakhine itu, selanjutnya diadili di Mahkamah Internasional.

“Karena itu kita memilih lokasi yang tidak jauh dari Candi Borobudur, agar semua orang tahu. Kita berharap dari Candi Borobudur sebagai ikon internasional, pesan yang kita sampaikan bisa sampai ke seluruh penjuru dunia sampai,” katanya.

Berikut Video pembacaan Piagam Borobudur #PeduliRohingya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *