Bidan Aryati: Insyaallah Mas Deny Syahid, dan Anak-anak Kami Jadi Penghuni Surga

by
Papan praktik bidan Aryati roboh akibat terkena banjir bandang dan tanah longsor. (Foto: IST)
Gravatar Image
Ikuti Saya

Dwi Purnawan

Menulis adalah cara hilangkan penat, selain yang utama adalah mengingat kebesaran Nya.
Gravatar Image
Ikuti Saya
Papan praktik bidan Aryati roboh akibat terkena banjir bandang dan tanah longsor. (Foto: IST)

Jatengkita.id, MAGELANG – Sore itu, Sabtu (30/4/2017) tak seperti biasanya. Biasanya ada canda, tawa, dan sesekali terdengar gemericih ocehan Faza, anak kedua bidan Aryati Rahayu dan suaminya Catur Deni Firmanto. Sore itu, mendadak suara gemuruh yang berasal dari tebing di atas rumahnya mendadak meluluhlantahkan rumahnya. Rumah bidan yang belum lama mengabdi di Desa Desa Sambungrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang ini hancur.

Namun yang membuat hati Aryati semakin pilu teriris-iris adalah saat dirinya menerima kenyataan bahwa tiga orang yang dicintainya, Catur Deni Firmanto yang merupakan suaminya, Fayad Zaidan Al Afkari yang merupakan anak sulungnya dan juga si kecil Faza yang tiap hari menemaninya bercanda di rumah mungil itu meninggalkan dia selama-lamanya. Peristiwa yang cukup cepat tersebut merupakan kiamat kecil seolah menimpa Aryati, yang harus kehilangan ketiga orang yang dicintainya.

Kini tak ada lagi sungging senyum dari si kecil Faza, yang tersenyum manja meminta dibelikan mainan oleh Aryati. Tak ada lagi gamitan tangan mesra dari Deni, pria gagah dari lereng Gunung Sumbing yang menggamitnya mesra, sejak ijab qabul hingga hingga dikaruniai dua anak yang lucu-lucu. Dia harus merelakan kepergian tiga orang yang dicintainya, ditambah bibi Pariyah, perempuan paruh baya yang membantu merawat keluarga kecilnya tersebut. Aryati harus merelakan kepergian orang-orang yang dicintainya bersamaan rumahnya yang kini rata dengan tanah.

Namun Aryati meyakini, ini merupakan suratan takdir. Sedih memang, tapi begitulah hidup. Dia harus kembali menapaki hari-hari, yang mungkin saja sangat berat baginya. Karena kini tak ada lagi disampingnya mas gagah Deni yang mendampinginya. Setidaknya kalimat tegar tersebut diucapkan bidan desa tersebut saat mengetahui ketiga orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.

Seorang relawan berdiri di rumah Aryati yang rata dengan tanah. (Foto: instagram.com/martin_abukautsar)

“Innalillahi wainnailaihiroji’un, semua milik Allah dan akan kembali berpulang kepadaNya, saya selaku istri beliau memohonkan maaf atas segala kesalahan beliau tidak ada manusia tanpa khilaf, tapi pada dasarnya mas Deny adalah orang yang teramat baik, beliau adalah orang yang sangat penyayang pada istri dan anak-anaknya, keduanya sangat dekat denganbeliau saking sayangnya,”demikian kata Aryati dengan masih menyisakan raut muka sedih, Minggu (30/4/2017).

Karena Deny sangat dekat dengan keluarga, maka dengan cukup yakin Aryati mengatakan bahwa suaminya tersebut akan syahid akibat peristiwa bencana alam banjir bandang dan tanah longsor tersebut. “Insyaallah Mas Deny syahid tertimpa reruntuhan, dan anak-anak kami tercinta adalah penghuni surga karena mereka adalah makhluk suci tanpa dosa,”tandasnya.

Aryati pun menceritakan detik-detik saat peristiwa bencana besar di akhir bulan tersebut terjadi dan menimpa keluarga kecilnya.

“Suara gemuruh air terdengar, hanya tiga detik kami langsung tertimpa reruntuhan dan tenggelam, saya dapat merasakan apa yang mereka rasakan, karena saya adalah korban hidup yang sadar dari awal sampai proses evakuasi berlagsung, dan alhamdulillah saya tidak mengalami cedera yang parah seperti yang dibicarakan, tidak ada patah tulang dan retak sedikitpun, hanya lebam,”jelasnya.

Aryati mengatakn bahwa peristiwa tersebut adalah bukti kekuasaan Allah SWT. Karena saat kejadian berlangsung, Aryati mengaku terjepit sempat tenggelam dan tertimpa bangunan yang teramat berat.

“Kami ucapkan terimakasih kepada smua pihak yang telah membantu kami dalam berbagai macam bentuk dukungan, inilah kuasa Allah, inilah takdir Allah, inilah ujian Allah bagi hambaNya agar kita bisa lebih mengenal dan mencintaiNya, mohon doanya bagi semua karena Allah Maha mendengar doa hamba-hambanya,”pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, tanah longsor berujung maut tersebut berawal dari banjir bandang. Banjir bandang pada Sabtu (29/4) sekitar pukul 15.00 WIB tersebut menerjang dua desa, yakni Desa Sambungrejo meliputi Dusun Sambungrejo, Nipis, dan Karanglo, serta Desa Citrosono meliputi Dusun Deles dan Kalisapi dan meluap serta membawa berbagai material longsor menerjang dusun setempat.

About Author: Dwi Purnawan

Gravatar Image
Menulis adalah cara hilangkan penat, selain yang utama adalah mengingat kebesaran Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *