Ini Jadwal Nonton Bareng Surau dan Silek di Bioskop Semarang

by

jatengkita.id, SEMARANG – Sedulur yang ada di Semarang, ada berita gembira nih, nonton bareng Film Surau dan Silek di bioskop Semarang. Karena sejak Film Surau dan Silek tayang serentak di Bioskop 27 April 2017 lalu, bioskop-bioskop di semarang tidak menayangkan reguler film keren ini lho Lur.

Makanya untuk kasus serupa, berbagai komunitas berinisiatif mengadakan nonton bareng bekerjasama dengan pihak bioskop. Tidk ketinggalan Komunitas Pecinta Film Islami (KOPFI) Semarang dan IKAMMI (Ikatan Mahasiswa Minang) mengadakan nonton bareng Film Surau dan Silek yang diproduseri Dendy Reynando dan Emil Bias ini. Acaranya diagendakan Minggu, 7 mei 2017 pukul 09.00 WIB – selesai. Dengan bekerjasama dengan Citra XXI Semarang, harga tiket masuk (HTM) Rp 60.000 kita sudah bisa bersedekah.

Karena juga seat bioskop seat nya terbatas (iyalah…) maka kuota peserta juga Terbatas Lur. Sebagiknya segera daftar aja deh. Cara yang disyaratkan panitia mudah saja kok, pertama registrasi dengan format:
#Surausilek#Nama Lengkap#Jumlah Tiket contoh nya ~ (Surausilek_Wafa Amrullah_15) terus dikirim ke nomer ini yah… :
👦 Putra (+62812-8420-2635)
👧 Putri (+62856-2677-909)

Setelah registrasi, Transfer sesuai jumlah tiket yang di pesan ke Nomor rekening Mandiri 1360007810481 a.n Najla Annisa. Baru deh kalau sudah Konfirmasi Pembayaran via WA ke CP di atas, dan jangan lupa cantumkan foto bukti transfer ya Lur, ojo ngapusi lah :p

Kata panitia nih yaa, bagi yang mau ikut menonton bisa mendaftarkan diri segera ke contact person agar segera di follow up. Sehingga tidak terjadi ke simpang siuran dan segera bisa di update informasi 😊

Karena ini film berisi pendidikan generasi bangsa yang menuju kebaikan, Yuk Lurr terus bentangkan layar kebaikan . 😀

More information:
🌏 Website: kopfi.id / www.suraudansilek.com
🌟Twitter & IG: @kopfi_semarang
🎒FP&FB: KOPFI Semarang

 

Resensi Film Surau dan Silek

Biar gak penasaran film nya yang mana sih? kayak apa sih? yuk coba kit ulas nih yaa.

Kiranya sistem surau sudah lama tak berkembang di nagari (kampung) Minang, apalagi di kota besar. Sudah lama parabola menjamur di pekarangan rumah, menyajikan hal yang lebih menarik bagi anak-anak daripada pendidikan di surau. Hati saya miris.

Tapi cerita kegemilangan kebudayaan itu masih beredar hingga kini. Tak sedikit yang bercita-cita untuk menghidupkan kembali metode pendidikan tersebut. Berbagai seminar dan diskusi digelar. Tulisan ilmiah mungkin ada berpuluh jurnal. Karena konsep surau itu dianggap begitu brilian. Sebab itu tak heran hadir film “Surau dan Silek (Silat)” yang beredar di beberapa bioskop-bioskop saat ini yang mencoba bernostalgia dengan sistem pendidikan surau.

Film Surau dan Silek yang diproduseri Dendy Reynando dan Emil Bias ini mengangkat kisah tiga anak kelas 5 SD (Adil, Dayat dan Kurip) yang bagai ayam kehilangan induk setelah ditinggal merantau oleh sang paman (mamak Rustam) yang juga menjadi guru silat mereka. Tapi tiga anak itu pantang surut. Mereka melakukan aksi yang mereka istilahkan dengan “hubungan lua nagari.” Maksudnya adalah mencari guru silat dari luar kampung sendiri. Dan petualangan ini lah yang menghiasi adegan demi adegan dalam film yang berdurasi satu setengah jam tersebut.

Kalau Anda mempunyai hati yang mudah tersentuh dan selera humor yang bagus, film ini akan membuat perasaan Anda tercampur aduk. Siap-siap saja terasa ada yang berdesakan hendak keluar dari sudut mata Anda saat menyaksikan ketegaran hati Adil yang diceritakan tergolong dalam delapan mustahiq penerima zakat. Dan dijamin Anda tak sekali dua kali tergelak melihat kelucuan dialog dan adegan di film ini. Terutama bila Anda mengerti Bahasa Minang, karena percakapan di film ini menggunakan Bahasa Minang. Adegan yang paling lucu menurut saya adalah ketika ketiga anak itu bertemu perguruan silat “hitam” di sebuah kampung.

Tak banyak bintang terkenal bermain di film ini. Mungkin cuma wajah Gilang Dirga yang tak asing di mata. Selebihnya bintang baru dan asli orang Minang. Makanya logatnya terasa khas. Akan berbeda bila dialog berbahasa Minang dibawakan orang luar. Walau begitu, sang sutradara, Arif Malinmudo sukses mengarahkan gaya dan penghayatan para pendatang baru itu. Akting mereka, oleh penilaian saya yang awam, sudah cukup baik.

Diceritakan juga kisah Kakek Johar, seorang dosen berprestasi, memutuskan kembali pulang setelah berpuluh tahun hidup di rantau. Ia tak mau menjadi “rantau cino”. Maksudnya, merantau tapi tak pernah kembali ke kampung seperti masyarakat Tionghoa. Rupanya sang kakek punya motivasi mulia. Ia ingin agar anak-anak di kampungnya merasakan kembali sistem pendidikan yang dahulu ia kecap.

Bisa ditebak lah, bahwa akhirnya ketiga anak itu menjadi murid Kakek Johar. Mudah-mudahan bukan spoiler bila saya tulis di sini. Namun bagaimana cerita pertemuan dengan Kakek Johar itu begitu amat menarik ditonton. Terlebih lagi setelah mereka mulai berlatih dan mendapatkan jurus baru, bertebaran hikmah dan petuah.

Kakek Johar memperkenalkan “tigo tali sapilin” yang merangkai karakter pemuda Minang: Sholat, Shalawat, dan Silat. Kakek Johar juga mengoreksi motivasi anak-anak itu belajar beladiri. Sejak bertemu kakek Johar, anak-anak itu akrab dengan surau.

Saya merekomendasikan film ini untuk Anda yang rindu kampung halaman, atau bagi Anda yang ingin melihat bagaimana Islam mewarnai sebuah budaya, atau yang ingin melihat pesona keindahan alam Sumatera Barat. Keindahan Ngarai Sianok yang menjadi latar dalam beberapa adegan di film ini benar-benar memanjakan mata. Dan sangat bermanfaat ditonton oleh anak-anak agar mereka belajar budaya serta kisah pantang menyerah yang mengagumkan.

Kenapa Tidak Tayang di Bioskop Semarang?

Pertanyaannya apa yang mejadi kriteria bagi pihak operator seperti Cinema 21 untuk menayangkan atau tidak menayangkan sebuah film di jaringan bioskop mereka? Sebagaimana dikutip bintang.com Corporate Secretary jaringan bioskop Cinema 21, Catherine Keng mengatakankriterianya adalah komersial.

“Kriterianya adalah perkiraan tingkat komersialitas sebuah film. Apakah kami bisa salah saat menentukan sebuah film bisa tayang atau tidak bisa tayang, jawabnya bisa saja. Namun patokan kami biasanya jarang melesat. Karena kami menangkap animo penonton. Pertimbangan lain adalah tema film. Misalnya di musim lebaran tak mungkin kami menayangkan film dengan tema Natal atau sebaliknya,” papar Catherine.

Ujung dari semua ini, lanjut Catherine adalah penonton. “Jika animo penonton terhadap sebuah film amat tinggi berlaku hukum pasar. Kami malah akan menambah layar untuk sebuah film. Namun sebaliknya kalau yang menonton film itu tidak ada kami dengan sangat terpaksa akan menunrunkan film tersebut. Ujungnya adalah penonton yang menentukan,” katanya.

Pertimbangan ini diberlakukan, masih kata Catherine karena mereka institusi bisnis yang dituntut untuk meraih keuntungan. “Kalau merugi terus merugi bisnis tidak bisa jalan dong,” katanya.

Corporate Secretary jaringan bioskop Cinema 21, Catherine Keng. Foto: Puput Puji/Bintang.com

Namun pihak Cinema 21 tidak selamanya harus menurunkan sebuah film di layar bioskop. Terutama untuk film-film yang berjaya di ajang festival baik dalam dan luar negeri. Unsur kualitas tetap menjadi pertimbangan untuk tetap mepertahankan sebuah film. “Dalam kondisi tertentu kami masih bisa memberikan toleransi. Beberapa judu tertentu bisa kami tetap tayangan karena pertimbangan tadi. Seperti film untuk film Siti dan film A Copy of My Mine. Istilahnya ini adalah CSR kami untuk film nasional,” katanya.

Bukan Cuma Soal Lama Tayang

Permasalahan film Indonesia ini sebenarnya tidak bisa dipukul rata apa yang menjadi penyebabnya. Pada dasarnya baik lama tayang maupun jumlah penonton ditentukan oleh preferensi masyarakat sendiri.

Sebagaimana dikutip cnnindonesia.com, di masing-masing lokasi juga menghadapi beragam preferensi masyarakat yang bisa disamakan. “Bahkan dalam satu kota pun tidak bisa disamakan. Penonton di Blok M Square lebih suka nonton film Indonesia, di Plaza Senayan penontonnya lebih suka nonton film Barat,” Catherine menjelaskan.

Jenis film juga tidak dapat menjamin banyak sedikitnya jumlah penonton. “Untuk jenis-jenis tertentu seperti film art house, yang peminatnya memang sedikit, jumlah penontonnya akan sedikit,” kata Catherine.  “Film terkadang dapat diminati banyak orang jika dapat menggugah emosi atau banyak omongan yang membuat orang penasaran.”

Sampai saat ini film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak adalah Laskar Pelangi dengan jumlah penonton 4,7 juta, disusul Habibie Ainun dengan 4,6 juta penonton.

Perbedaan 21 dan XXI

Selain masa penayangan, ada juga anggapan bahwa film-film Indonesia dianaktirikan karena ditayangkan di 21 bukan XXI. Catherine menyatakan bahwa perbedaan 21 dan XXI terletak pada desain interiornya bukan pilihan filmnya. Pihak XXI sendiri mengharapkan untuk segera mengganti 21 yang tersisa menjadi XXI, tetapi masih banyak hambatan-hambatan untuk menjalankannya.

Film yang ditayangkan di 21 juga tidak hanya film Indonesia tetapi juga ada film-film impor lainnya. Sampai akhir Agustus sudah ada 72 judul film Indonesia yang ditayangkan Cinema XXI / 21.

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *