Jalak Suren : Burung Endemic Jawa yang Terancam Punah

Jalak suren / Pied Starling / Javan Starling (Gracupica jalla)

Jalak suren (Sturnus contra) atau jalak suren adalah Spesies jalak yang ditemukan di Anakbenua India dan Asia Tenggara. Jalak suren memiliki beberapa variasi bulu dalam populasinya, dan sampai saat ini sudah teridentifikasi lima subspesiesnya.

Spesies burung ini merupakan hasil pemisahan jenis dengan Asian Pied Starling (Gracupica contra) yang ada di daratan Asia. Burung ini dahulu umum ditemukan di lahan terbuka, pemukiman, dan lahan pertanian, terbatas di dataran rendah. Hanya ditemukan di Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Dulu Jalak Suren umum di Jawa. Sekarang keberadaannya di alam mulai menghilang akibat perburuan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Saat ini statusnya di alam kritis atau dalam daftar IUCN red list Critically Endangered (CR). Dalam buku Atlas Burung Indonesia (2020) hanya tercatat 3 kali perjumpaan saja di alam. Berbanding sangat jauh dengan perjumpaanya di pasar burung yang berjumlah 1.741.

Ancaman yang dihadapi spesies Jalak satu ini yakni adanya perburuan liar. Biasanya burung Jalak Suren diburu untuk memenuhi permintaan pasar burung kicau. Selain itu juga, maraknya penggunaan pestisida, yang berakibat pada menurunnnya sumber makanan burung Jalak Suren ini.

Jalak Suren memang merupakan jenis burung peliharaan yang populer di kalangan pecinta burung. Hal ini dikarenakan burung Jalak Suren memiliki banyak sekali keistimewaan. Perlu diketahui bahwa jenis burung Jalak Suren nada tiga. Burung Jalak Suren India, Jalak Suren Yunana, dan Jalak Suren Jawa.

Jenis burung ini lebih banyak dipelihara karena beberapa alasan, seperti untuk menjaga rumah, menyalurkan hobi, memancing burung lainnya untuk berkicau, memelihara yang dimaksudkan untuk di tangkarkan atau sebagai burung masteran. Namun dari ke semua alasan tersebut, burung ini lebih populer sebagai burung penjaga rumah karena kelihaiannya dalam menjaga rumah dengan kecerewetan dan kepekaannya terutama jika ada orang asing yang datang mendekat.

Setiap jenis burung Jalak Suren pun memiliki keunikannya masing-masing, mulai dari bulu, bentuk sayap, sikap, dan lain sebagainya. Jalak ini berukuran sedang, berwarna hitam dan putih. Adapun perbedaan jantan dan betina terdapat pada panjang badan, kulit di sekeliling mata, bulu, ekor, dan jari-jari kaki. Untuk jalak suren jantan dengan setidaknya minimal berumur 7 bulan atau mulai nyisik, maka terdapat warna biru melingkar dibagian kloaka.

Sebagaimana burung pengicau lainnya, jalak suren memiliki kaki berjenis anisodaktil, di mana tiga jari menghadap ke depan dan satu jari menghadap ke belakang. Ia memilih tempat tinggal di dekat air, yakni di lubang pohon dan biasa mencari makan di tanah. Tak jarang burung ini turun ke air untuk mencari makan. Dalam sebuah sarang, biasanya diisi empat sampai enam telur biru mengkilap yang polos. Telur menetas setelah 14-15 hari. Mereka menghasilkan berbagai kicauan dengan suara yang jernih. Inilah sebab burung ini banyak dicari pecinta burung. Lain halnya dengan Sema Naga, sebuah suku Naga Besar di India.

IUCN memasukkan spesies ini termasuk LC (Risiko Rendah). Sebenarnya, di Indonesia, pada tahun 70-an, burung ini masih dapat ditemui di Pulau Jawa. Oleh karena penggunaan pestisida yang berlebihan, maka spesies ini mulai berkurang. Untuk mencegah kelangkaan spesies, maka burung ini sudah mulai ditangkarkan. Walaupun sudah ditangkarkan, sebab lain kelangkaan ini adalah pengembangbiakan masih sulit dilakukan.

Jalak ini biasanya ditemukan dalam kelompok kecil, ia terutama mencari makan di atas tanah tetapi bertengger di pohon atau bangunan. Ia tidak takut pada binatang besar, misalkan sapi, dan sering mencari makanan di tengah-tengah mereka. Burung dalam satu kelompok selalu mengeluarkan bunyi panggilan bersahut-sahutan dengan bunyi yang beraneka ragam seperti bunyi peluit, bunyi bergetar, bunyi mendengung, bunyi klik dan kicauan. Burung muda yang diambil untuk dipelihara dapat dilatih untuk meniru suara burung lain.

Jalak suren mencari makan terutama di ladang atau sawah, padang rumput dan tanah terbuka untuk mencari biji-bijian, buah-buahan, serangga, telur serangga, serangga yang kecil-kecil, kupu-kupu, cacing tanah, dan moluska yang biasanya didapatkan dari tanah. Saat mencari makan, tak jarang burung ini turun ke tanah dan mendekati sumber air di tempat yang dangkal. Seperti jenis jalak yang lain, mereka sering mencongkel atau membuka tanah, menusuk dengan menggunakan paruh untuk untuk mengeluarkan makanan yang tersembunyi di balik tanah.

Jalak suren biasanya turun ke air yang dangkal untuk mencari makanan. Mereka memiliki otot protraktor yang kuat yang memungkinkan mereka menyibakkan bagian bawah rumput dan matanya berada dalam posisi yang tepat sehingga mereka memiliki penglihatan binokular untuk melihat celah di antara paruh.

Pada saat hendak tidur, burung-burung ini mengeluarkan suara yang gaduh. Kebiasaannya hidupnya ini sering terlihat pada kelompok kecil dan kadang berpasangan; jalak suren bisanya tidur malam dalam kelompok besar dan saling melindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *