Jangan Tersugesti! Rokok atau Vape Sama Bahayanya

Jangan Tersugesti! Rokok atau Vape Sama Bahayanya
Vape tidak menjadi alasan pembenaran sebagai transisi untuk berhenti merokok (Foto : Pinterest)

Jatengkita.id – Industri tembakau tidak habis akal untuk menciptakan produk inovasi yang mengembangkan rokok, yaitu vape atau rokok elektrik. Menurut Kementerian Kesehatan, vape adalah alat yang berfungsi seperti rokok, namun tidak menggunakan tembakau, melainkan mengubah cairan menjadi uap yang dihisap oleh perokok ke dalam paru-paru.

Vape pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 2012. Pengguna vape dikenai pembayaran pajak melalui cukai hasil tembakau. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 146/PMK.010/2017 tentang Cukai Hasil Tembakau.

Kementerian Kesehatan melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 menyebut jumlah perokok aktif mencapai 70 juta orang. Sebanyak 56.5 persen adalah kelompok usia 15-19 tahun. Disusul 18.4 persen dari rentang usia 10-14 tahun. Jumlah perokok aktif hingga kini meningkat signifikan. Bahkan di kalangan remaja dan gen Z kini banyak ditemui yang menggunakan vape.

Perlu diperhatikan bahwa vape bukanlah transisi yang tepat bagi perokok aktif tembakau yang ingin berhenti merokok. Alasan ini sering digunakan karena menganggap bahwa kandungan nikotin dalam vape dinilai lebih sedikit dibanding rokok tembakau. Selain itu, ada yang memakai vape karena varian rasanya. Dan parahnya lagi, ada yang vaping karena mengikuti tren.

Nyatanya, vape dan rokok tembakau sama-sama mengandung zat adiktif dan bahan kimia lain yang berbahaya. Industri rokok terus giat menggencarkannya di pasaran, terutama di kalangan anak muda. Objek yang sering menjadi sasaran adalah bidang olahraga dan festival musik. Mereka tidak kehabisan ide dan terus melakukan inovasi untuk membuat pengguna semakin nyaman menggunakan vape.

Kondisi paru-paru akibat nikotin (Foto : Pinterest)
  1. Nikotin
    Zat adiktif satu ini adalah kandungan utama dalam rokok. Nikotin adalah zat beracun yang menimbulkan candu. Zat ini bisa meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan adrenalin yang bisa memicu serangan jantung.
  2. Asetaldehida dan Formaldehida
    Kedua zat ini bersifat karsinogenik yang bisa menyebabkan kanker.
  3. Asap
    Sama seperti rokok tembakau, vape juga menghasilkan asap yang berbahaya. Asap ini berasal dari proses pemanasan e-liquid dan pembentukan uap. Kemudian terjadi reaksi kimia antara perisa dan propilen glikol yang menciptakan senyawa menyerupai tar.

    Seseorang yang terpapar asap rokok terus-menerus bisa terkena risiko penyakit jantung, gangguan fungsi paru-paru, dan kanker. Selain itu, bisa menyebabkan radang di organ tubuh yang menjadi tempat kontak, yaitu mulut, saluran hidung, trakea, dan paru-paru.

  4. Kesehatan Mental
    Candu yang ditimbulkan dari nikotin berdampak pada mood dan perilaku. Misalnya mudah marah, gelisah, sulit berkonsentrasi, dan mudah stres.

Sekali lagi, rokok tembakau dan vape sama-sama mengandung zat kimia yang berbahaya. Jadi, tidaklah benar persepsi bahwa vape lebih aman daripada rokok tembakau. Untuk berhenti merokok, memang bukan upaya yang mudah. Namun, tetap bisa diikhtiarkan.

(Foto : Pinterest)
  1. Tekad dan komitmen
    Beramanahlah pada jasmani untuk dijaga dengan sebaik-baiknya. Bangunlah kesadaran diri bahwa orang-orang tersayang atau orang di sekitar juga akan turut terdampak bahaya dari asapnya.
  2. Hipnoterapi
    Cara ini memang belum diketahui secara pasti efektivitasnya. Tingkat keberhasilannya bervariasi tiap individu. Hipnoterapi memanfaatkan kekuatan sugesti dan relaksasi untuk mengubah pola pikir dan perilaku seseorang terkait merokok.

    Metode ini juga sering melibatkan pendekatan holistik untuk membantu individu mengatasi kebiasaan merokok. Individu juga perlu mendapatkan dukungan dan bimbingan misalnya dari terapis, keluarga, atau teman untuk menjaga komitmen mereka untuk tidak merokok.

  3. Mengelola stres dan menjauhi pemicu merokok
    Kandungan nikotin dalam rokok bisa memberikan efek relaksasi yang cepat. Sehingga, individu yang stres cenderung memilih rokok untuk menghilangkan rasa stresnya.

    Menjauhi hal yang memicu untuk merokok juga perlu dibiasakan. Misalnya berkumpul dengan perokok, merokok selepas makan atau minum kopi.

  4. Olahraga dan mengonsumsi makanan sehat
    Aktivitas olahraga misalnya, jalan kaki, bersepeda, atau lainnya bisa mengurangi kecanduan akan nikotin. Selain itu, mengonsumi makanan sehat seperti sayur dan buah-buahan juga bisa menekan hasrat ingin merokok.
  5. Regulasi yang tegas dari Pemerintah
    Upaya berhenti merokok juga membutuhkan dukungan dari pemerintah berupa regulasi tegas yang mengatur tentang rokok. Peraturan yang ada saat ini nyatanya diabaikan karena kepentingan komersil.

    Regulasi tersebut tidak hanya ditujukan bagi perokok, namun juga terutama untuk industri rokok. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang didasarkan pada lebih banyak ditemukan bahaya dari rokok dan justru tidak ditemukan baiknya dari merokok.

Baca juga : Rokok Ilegal, Ancaman Bagi Ekonomi dan Kesehatan

Rekomendasi untuk anda : TAR & NIKOTIN dalam ROKOK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *