Mengenal Kampung Produsen Tusuk Sate di Banyumas

by
Salah satu rumah warga di Kampung tusuk sate ~ sumber : NETZ.id

BANYUMAS, jatengkita.id – Usai Idul adha kita mungkin sangat kenyang dengan hidangan sate, salah satu hidangan wajib lebaran qurban. Tak hanya dimakan saat qurban, sate adalah kuliner khas indonesia berupa potongan daging yang ditusuk dengan potongan kecil bambu dan dipanggang diatas api kecil. Tapi usai memakan sate, anda biasanya lupa dengan irisan bambu yang sangat berjasa mengantarkan daging anda empuk dan lezat, ya.. anda pasti membuang tusuk satenya.

Desa Pajerukan Kecamatan Kalibagor, Banyumas dijuluki Kampung Tusuk Sate, karena lebih dari 200 KK di kampung ini adalah merupakan perajin tusuk sate atau dalam bahasa lokal disebut sujen. Baik laki-laki, perempuan, tua, muda, hampir seluruh warganya menjadi perajin tusuk sate. Setiap perayaan Idhul Adha menjadi berkah untuk warga karena industri tusuk sate disana selalu kebanjiran order pada lebaran haji tentunya dari sejumlah wilayah.

Tidak sulit membuat tusuk sate di desa ini, karena masih terdapat bahan baku yang cukup untuk bahan baku. Jenis bambu yang digunakan untuk tusuk sate berupa bambu jenis bambu legi (ater). Bambu jenis ini digunakan karena kuat, mudah dibentuk dan pertumbuhannya cepat. Dalam sehari perajin bisa menghasilkan 8000 buah tusuk sate siap jual.

Salah seorang perajin, Sugeng bercerita jika permintaan meningkat semisal saat Idul Adha, produksi bisa mencapai dua kali lipat yakni 15.000 hingga 20.000 tusuk sate. “Kalo kita kerjanya ngotot bisa sampai segitu,” tutur Sugeng.

Tak berbeda jauh dengan Wakini, seorang wanita yang sudah sepuh yang juga menjadi perajin tusuk sate. Ia bahkan memiliki pembeli yang mengambil langsung hasil kerajinannya dari berbagai kota di pulau jawa. “Satu kerat ini 1000 tusuk harganya 20 ribu rupiah. Biasanya yang beli yang ambil kesini,” ujarnya.

Sudah lebih dari tiga generasi di desa ini menjadi pengrajin tusuk sate. Pemda berusaha mengembangkan industri ini lebih baik dari sisi pemasaran dan kemasan produk.  Camat Kalobagor, Siswoyo sudah mencoba mengarahkan warganya untuk marketing di media sosial dan lain sebagainya. “Karena ini peluang yang sangat terbuka,” katanya.

Tusuk sate dibuat warga dengan tradisional. Bahan bambu dipotong sepanjang 24 centimeter, dan diiris tipis untuk kemudian diruncingkan pada bagian ujung.

Tak hanya Pajerukan di Kalibagor, Banyumas yang disebut kampung tusuk sate, ada beberapa desa lain di Banyumas yang juga menjadi kampung tusuk sate, diantaranya desa Suro yang 350 warganya menjadi perajin. Tusuk sate ini sudah dipasarkan hampir di setiap kota di pulau Jawa mulai dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang sampai ke kota-kota kecil. Para perajin berharap tusuk sate dari desa ini bisa terus digunakan dan dikenal luas oleh masyarakat

sumber : tvOneNews & NET. Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *