Kisah Calon Musuh Buzzer Kejahatan

by

buzzer

SAAT ini, banyak kalangan terutama para netizen memperbincangkan buzzer yang disewa untuk menggiring opini terhadap suatu kelompok tertentu. Dan luar biasa, para buzzer tersebut dibayar untuk memutarbalikkan fakta, yang salah jadi benar, yang benar jadi salah.

Sebagaimana kita ketahui para buzzer begitu bengis dan kejam, kadang hal yang gak penting jadi penting, yang jelas salah diputer jadi bener, kabarnya saling menuduh berbuat makar, lupa bahwa sebaik-baik pembuat makar adalah Allaah Ta’ala.

Lalu, saya teringat foto-foto camping anak saya beberapa hari lalu di bumi perkemahan Nglimut Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah.

Saya lihat para buzzer tidak memperbincangkan ini, padahal mereka ini InsyaAllaah pemimpin masa depan lho. Kecerdasan dan ketinggian pekertinya itu karena AlQuran, mereka musuh serius para buzzer kejahatan, mereka musuh serius bagi pemecah belah persatuan.

Kenapa saya katakan demikian? Bisa kita saksikan sendiri bagaimana para buzzer kejahatan itu bukannya produktif malah kontra produktif. Saat misalnya kasus penistaan itu core (intinya) adalah SARA, justru mereka para buzzer malah berbicara dengan bahasa SARA juga.

Nah dalam keadaan sosial seperti ini, saya katakan mereka anak-anak penerus masa depan ini nggak diajarkan nyinyir, nggak juga diajarkan merusak, apalagi sampai merakit bom, nggak lah. Di usia belia ini mereka memulai dengan belajar iman  kepada Allaah ta’ala. Kemudian mereka belajar Qur’an, lalu berlelahlah mereka bersama Qur’an untuk menambah keimanannya.

Sebagaimana para sahabat dibina dengan iman sebelum belajar al-Qur’an sebagaimana dijelaskan Jundub radhiallahu ‘anhu dalam pernyataan beliau,

فَتَعَلَّمْنَا الإِيْمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ, ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيْمَانًا (شعب الإيمان ج1/ص76

“Kami belajar iman sebelum belajar Al Qur’an kemudian belajar Al Qur’an sehingga bertambah dengannya iman.” (Syu’abil Iman 1/76)

Didalam Qur’an semua sudah dibahas, tinggal dijadikan sebagai pedoman hidup. Kecil bagi mereka sesuatu yang dianggap besar oleh zaman ini, dan besar bagi mereka sesuatu yang telah diremehkan di zaman ini.

Inilah cara mereka mengambil bagian, ini bukan soal toleransi dan kemanusiaan,tapi tentang tugas meninggikan sesuatu yang memang sudah tinggi, yakni kalimat Allah.

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *