Kisah Ibu 7 Anak Penebar Inspirasi

by
Zubaedah beserta suami dan ketujuh anaknya

SEMARANG, jatengkita.id –  “Negara kita sedang krisis teladan, untuk itu kaum Ibu harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, pewaris generasi yang akan datang”.Ungkapan ini disampaikan oleh Zubaedah, SE; ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan keluarga (BPKK) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah.  Jujuk, sapaan akrab beliau, merupakan istri anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bapak A. Fikri Fakih.

Lahir di Tegal 50 tahun silam, tapi aura masa muda dan semangat masih memancar dari wajah beliau.

Setiap harinya, beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan. Aktivitasnya adalah seorang ibu rumah tangga yang mengurus 7 orang anak. Selain itu, di rumahnya juga mengelola AFMA Collection, rumah busana muslim sebagai bisnis yang dijalankan untuk menyalurkan hobi dan bakat. Disamping itu, di tengah kesibukan beliau mendampingi suami dan sering bolak-balik Semarang-Jakarta, tugas dakwah untuk mengelola majlis taklim di perumahan pun tetap beliau jalani. Juga amanah sebagai ketua BPKK DPW PKS Jateng. Beliau selalu meyakini bahwa tugas asasi untuk berdakwah selalu melekat dalam diri setiap manusia.

“Semoga kesibukan saya ini menjadi amal shalih sebagai muslimah, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai bagian dari masyarakat, dan utamanya sebagai seorang hamba di hadapan Allah,” tutur Zubaedah.

Interaksinya dalam dunia dakwah telah dimulai sejak bertahun lalu, tepatnya sejak tahun 1989. Saat itu beliau masih tinggal di kota kelahiran, Tegal. Perhatiannya tertuju pada aktivitas kegamaan teman-temannya yang seiring dengan perubahan sikap mereka menjadi ramah dan santun. Gayung bersambut, salah seorang teman mengajaknya mengikuti kajian rutin yang diterimanya dengan senang hati.  Dan benar, hingga saat ini perasaan nyaman saat pertama kali mengikuti pertemuan rutin masih melekat hingga saat ini, setelah bertahun-tahun beliau tergabung dalam lingkaran tarbiyah.

Bagaimana beliau menyeimbangkan antara waktu untuk keluarga, dakwah dan aktivitas lainnya, dengan ritme yang cepat dan sibuk itu?

“Meski kadang mengalami kesulitan, saya berusaha membuat jadwal harian atas semua yang harus saya lakukan setiap harinya. Tentu prioritasnya aktivitas dakwah yg didahulukan. Alhamdulillah suami dan anak-anak selalu support aktivitas saya,” ungkapnya.

“Dukugan dari keluarga utamanya anak-anak adalah sebuah proses panjang yang dimulai sejak mereka masih dalam kandungan hingga dewasa seperti saat ini. Mereka akan memahami dan bisa bersinergi dalam dakwah bersama orangtua jika mereka terlibat di dalamnya. Sehingga mereka sangat memahami aktivitas dan peran yang diambil oleh orang tua, menerimanya dengan legowo dan bahkan mendukung,” lanjutnya.

Seperti apa beliau di mata anak-anaknya?

Ummi adalah sosok yang kreatif. Keras tapi lemah lembut.

Menyemangati tanpa menasihati

Berprinsip namun toleran

(Ashim, putra ke-2)

 

Menurut saya, Ummi orangnya sangat kuat. Sejak belum menikah pun Ummi sudah mandiri dan sudah bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Cara mendidik anak-anaknya pun tidak dimanjakan, semua anak Ummi tidak ada yang dimanja sejak kecil. Dengan mengurus 7 anak, Ummi masih bisa berdakwah dan masih sempat membina ibu-ibu di lingkungan sekitar rumah. Ummi juga sangat sabar menghadapi anak-anaknya dan tidak pernah membeda-bedakan, meskipun kami, anak-anaknya terkadang mengecewakan Ummi..” (Sumayya Anida, Anak ke-5 )

 

Sebagai seorang muslimah yang menjadi bagian dari masyarakat, peran Zubaedah bagi lingkungan sekitar pun cukup besar. Beliau mengelola majlis taklim dan menghadiri berbagai forum kajian sebagai narasumber. Dalam setiap kesempatan beliau selalu berpesan dan memberikan motivasi kepada kaum ibu bahwa salah satu kewajiban ibu adalah berupaya menjaga agama di rumahnya.

Karena seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka ibulah yang harus menjadi teladan sebelum mereka mengambil contoh dari lingkungan sekitar, yang mana kita tengah krisis keteladanan. Pewarisan nilai-nilai adalah lewat pendidikan. Jika manusia mewariskan harta biasanya akan menimbulkan masalah. Lain halnya jika mewariskan ilmu, pasti akan memberi manfaat. Untuk itu, pendidikan anak harus diupayakan semaksimal mungkin oleh orangtua dan anak-anaknya.

Meski begitu, seringkali terjadi kekerasan pada anak yang menyebabkan anak gagap berkembang.

“Kekerasan terhadap anak sering terjadi akibat konflik orang tua yang tak kunjung ada penyelesaian, juga ada kejahatan dari lingkungan yang tidak terdeteksi sejak dini. Upaya yang paling efektif yaitu dengan mengembalikan kekokohan keluarga, sehigga otomatis akan ada penjagaan dengan kasih sayang terhadap anak-anak. Maka kekerasan dari lingkungan pun mudah dicegah karena orangtuanya sangat memperhatikan anak-anaknya,”

Selanjutnya ia berharap keluarga Indonesia akan menjadi keluarga kokoh yang akan melahirkan generasi yg kokoh pula.

Selamat Hari Ibu, Umma Zubaedah dan seluruh perempuan di muka bumi. Semoga kehadiranmu menjadi penerang bagi sekitar. Semoga inspirasi yang kau pancarkan memantul dan menyebar ke sudut hati perempuan lain yang melihatmu.

Selamat berjuang, kaum Ibu. Engkaulah teladan dan inspirasi kebaikan kami.

Ditulis oleh Hamba Allah (AR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *