Malam yang Hilang Bagi Mereka

by
Sumber foto: http://kinanti12.blogspot.co.id/
Gravatar Image
Ikuti Saya

Dwi Purnawan

Menulis adalah cara hilangkan penat, selain yang utama adalah mengingat kebesaran Nya.
Gravatar Image
Ikuti Saya
Sumber foto: http://kinanti12.blogspot.co.id/
Sumber foto: http://kinanti12.blogspot.co.id/

Jatengkita.id, UNGARAN – Berbelanja adalah aktifitas yang biasa bagi kita, bahkan bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan. Sampai ada ungkapan, ‘Jika istrimu tampak lelah, ajaklah dia berbelanja, engkau yang akan lelah dibuatnya.’

Namun, jika tidak ada toko yang menyediakan berbagai keperluan yang ingin kita beli, semua toko yang kita tuju masih tutup, hanya buka di tengah malam, dan kita hanya bisa berbelanja pada jam sebelas malam atau jam satu dini hari, berbelanja tentunya bukan lagi aktifitas yang menyenangkan, tapi malah merepotkan.

Ketika di pagi hari, ibu-ibu ingin membeli sayur segar atau ikan yang akan dimasak, kadang-kadang sudah tidak perlu lagi repot-repot pergi ke pasar. Ada pedagang sayur keliling yang sudah sampai di depan rumah, mudah sekali.

Bicara tentang pedagang sayur keliling di sekitar wilayah Semarang dan kabupaten-kabupaten sekitarnya, tidak lepas dari keberadaan Pasar Sayur Sumowono, Kabupaten Semarang, yang menjadi asal usul sebagian besar pedagang keliling tersebut. Jumlahnya mencapai ratusan, baik yang menggunakan roda dua maupun yang memakai mobil.

Lantas, jika di pagi hari mereka sudah nongol di depan rumah kita, kapankah mereka mempersiapkan pernak-pernik dagangan yang mereka bawa dalam kondisi segar? Padahal untuk menata dagangan yang dibawa itu butuh waktu yang lama. Harus padat, praktis dan efisien. Semua sudah dikemas atau dibungkus sesuai ukuran, sehingga bisa cepat dan tidak repot dalam melayani pembeli. Memang berbeda dengan cara mengemas pedagang di pasar.

Iya, semalaman itulah mereka beraktifitas untuk mempersiapkan yang akan dibawa esuk hari. Pedagang keliling itu tak sendiri, ada banyak yang terlibat mempersiapkannya. Mereka yang mencari dagangan dari petani, mengupas, memilah dan mengepak sesuai ukuran yang diminta.

Itulah mengapa aktifitas di Pasar Sayur Sumowono di malam hari tak kenal henti. Hanya sebuah kota kecamatan, namun aktifitas hidup selama 24 jam. Semalaman, para petani hilir mudik membawa dagangan, para pedagang juga sibuk dengan berbagai aktifitasnya. Menjelang pagi, para pedagang keliling itu sudah siap meluncur.

Menarik, melihat kehidupan malam di pasar tersebut. Tetapi juga ironis, mereka menjadi orang yang tidak menikmati malam untuk istirahat. Tuntutan hidup dan kesulitan ekonomi membuat mereka rela melakukan semua itu. Para petani itu, dari siang mereka bekerja di ladang, malamnya mereka masih harus menata hasil panen dan membawanya ke pasar. Para pedagang semalaman disibukkan dengan berbagai aktifitasnya. Tidak boleh memedulikan rasa ngantuk dan malas, bergelut dengan hawa dingin dan kabut. Menjadi potret masyarakat strata bawah yang kehidupannya pas-pasan.

Di negeri yang kekayaan alamnya melimpah ini, begitu banyak orang yang harus berpeluh keringat untuk menyambung hidup. Banyak di antara mereka yang harus bekerja tak kenal waktu, siang dan malam tak henti. Lelah, tapi mau tak mau harus mereka jalani, mereka terjebak di dalamnya. Bersyukurlah bagi mereka yang cukup bekerja dalam hitungan jam, mereka yang bisa menikmati istirahat di malam hari.

Di negeri yang penuh dengan karunia-Nya ini, begitu banyak orang yang harus menyabung nyawa, mengorbankan diri mereka, tak mengecap karunia yang luar biasa itu.

Oleh: Muhammad Fauzi, Kabupaten Semarang

About Author: Dwi Purnawan

Gravatar Image
Menulis adalah cara hilangkan penat, selain yang utama adalah mengingat kebesaran Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *