Meikarta, Koloni “Elysum” di Indonesia

by

Pernah melihat film ber genre Sci-fi berjudul Elysum yang dibintangi Matt Damon dan Artis Senior Jodie Foster? Kalau belum sy sarankan untuk melihatnya. Film tentang prediksi keadaan sosial politik di masa depan ketika manusia sudah memangun koloni di atmosfer bumi, karena bumi yang mulai rusak. review lengkap bisa dilihat disini http://jatengkita.id/2017/09/13/elysum-2013-sebuah-koloni-elit-di-atmosfer-yang-memarginalkn-koloni-miskin-bumi/

Film ini bercerita tentang ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Masyarakat terbagi menjadi dua, masyarakat yang tinggal di bumi. Mereka miskin, homeless, buruh-buruh kasar, bertempat didaerah kumuh dimana kriminalitas tinggi. Kedua masyarakat yang tinggal di Elysum. Elysum adalah koloni masyarakat bumi yang tinggal di atmosfer. Sebuah pesawat raksasa yang mengorbit di atmosfir bumi. Dibuat sebagai hunian yang nyaman pasca kerusakan bumi. Tapi hanya orang-orang tertentu yang tinggal disana. Yang mampu membayar mahal biayanya, karena pengembangnya adalah swasta . Di Elysum fasilitasnya serba mewah, taman yang luas dan asri, rumah yang nyaman, kolam renang pribadi, hotel berbintang dll. Salah satu fasilitas yang hebat adalah alat penyembuh segala penyakit. Sebuah alat dengan pancaran gelombang elektromagnetik yang dapat mematikan virus atau bakteri penyebab penyakit dan dapat merekayasa siklus sel dengan cepat. Sebut saja penyakit leukimia stadium puncak dapat disembuhkan. Alat ini nanti menjadi obsesi manusia bumi untuk menyembuhkan penduduknya yang sakit parah. Nah tetapi, tidak diijinkan oleh Elysum, karena mereka bukan penduduk elysum. Disinilah kesenjangan sosial menganga. Penduduk bumi yang sakit dan miskin membuat kriminalitas meningkat.

Hebatnya lagi, masyarakat koloni Elysum membangun industri-industri di bumi. Mengambil sumberdaya dari bumi. Mempekerjakan masyarakat bumi. Bahkan limbah buangannya dibuang ke bumi. Elysum adalah model Kapitalisme masa depan. Mereka memeras masyarakat yang termarginalkan, dan hidup mewah diatasnya.

Apakah model kapitalisme seperti ini sudah mulai ada saat ini?

Sebut saja Reklamasi Teluk Jakarta dan Meikarta bisa dibilang memiliki situasi yang mirip dengan koloni Elysum ini. Saya hanya akan membahas mengenai Meikarta karena sy pernah ditawari salesnya, berkomunikasi intensif dan beberapa kali melewati tempat proyek tersebut.

Meikarta adalah proyek terbesar dari Lippo Group, dengan nilai proyek 278 Triliun Rupiah. Berlokasi di Cikarang, dengan 5000 kantor perusahaan besar yang berlokasi disana. Dikelilingi 6 kompleks industi yang meliputi industri-industri nasional. Dengan beberapa mega infrastruktur yaitu Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, Jakarta-Cikampek Tol, dan MRT. Meikarta memiliki 100 Ha ruang hijau terbuka yang dilengkapi taman dan danau. Meikarta juga memiliki 3 Universitas besar, pusat penelitian dan sekolah-sekolah.  Dalam aspek bisnis Meikarta memiliki 1.500.000 meter persegi komersial area yang berupa shopping center, pusat keuangan internasional, hotel-hotel berbintang 5. Meikarta juga mmiliki rumah sakit. Puncaknya Meikarta bakal bangun100 gedung apartemen yang mereka sebut 100 menara. Masing-masing menara punya 55 lantai, masing-masing lantai punya12 ruang. Totalnya bisa mencapai 60 ribu lebih apartemen hunian dengan harga termurah ratusan juta rupiah.

Visi Meikarta ingin menjadi Newyork / Vegasnya Indonesia. Menjadi kota mandiri dibawah naungan swasta. Tentunya Meikarta ini akan menyedot penduduk baru yang jumlahnyabisa mencapai ratusan ribu sampai jutaan. Dan tentunya karena nilai properti yang strategis dengan fasilitas yang lengkap akan membuat harganya mahal. Hanya orang-orang kaya yang bisa mendapatkan apartemen disana. Penduduk lokal sekitar cikarang yang bekerja sebagai buruh dan petani jelas tidak akan mampu membelinya. Seiring perluasan tempat tinggal di Meikarta, terjadilah peralihan lahan dari kampung kumuh menjadi kompleks perkotaan mewah yang menjadikan penduduk lokal terusir semakin marjinal. Perluasan hingga Karawang, Sukabumi, Bandung dan Purwakarta ini turut melahap beberapa lahan pertanian.

Masalah yang terjadi berikutnya jelas adalah ketimpangan sosial dan ekonomi antara penduduk Meikarta dengan penduduk sekitar. Meikarta jelas akan menjadi koloni elit, berisikan orang dengan daya beli tinggi dan financial yang melimpah. Dengan konsep bisnis yang menjajikan, Meikarta akan makin membesar secara ekonomi. Bisa jadi penduduk lokal hanya akan dipekerjakan pada bisnis-bisnis penduduk Meikarta sebagai karyawan. Ingat Meikarta dikelilingi oleh 6 perusahaan besar nasional. Pabrik, tenaga, limbah, semua diluar Meikarta, tapi uangnya mengalir ke Meikarta. Tanah sekitar Meikarta akan naik tinggi dan akan diincar oleh pemain bisnis lain untuk mendirikan perusahaan mereka. Siapa karyawan mereka? ya, karyawan mereka adalah anak petani yang sudah menjual sawahnya, anak buruh yang sudah menjual warisannya. Di tengah ketimpangan sosial seperti ini, potensi kriminalitas akan meningkat, apalagi jika penduduk lokal banyak yang menganggur.

Disamping itu akan terjadi pula ketimpangan akses bagi penduduk lokal. Koloni elit meikarta akan sangat mudah mendapat akses kelas satu dalam bidang apapun, karena ekonomisnya Meikarta membuat daya beli mereka tinggi. Fasilitas kesehatan nomor satu, Fasilitas transportasi nomor satu, fasilitas pendidikan nomor satu dll. Sedang penduduk lokal yang begitu mudah akan terjerat kemiskinan akan kesulitan mendapatkan akses yang berkualitas. Inilah akibat dari hilangnya peran Negara, akhirnya swasta membangun kedaulatannya sendiri. Mendirikan Kota diantara Kota. Sebuah Koloni Elit “Elysum” yang menjadikan ketimpangan sosial ekonomi makin tidak bisa diatasi.

Bagaimana di Jawa Tengah?

Belum ada pengembang yang membangun kota sehebat Meikarta memang. Tapi kita harus mengawasi jaringan dari pengembang Lippo group. Terutama jaringan pengusaha yang tergolong dalam prasetya mulya group. Agar di propinsi kita ini pembangunan sesuai dengan amanat KTT BUMI di Rio de jenerio mengenganai Pembanguna berkelanjutan. Bahwa pembangunan berkelanjutan berprinsip “memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya”. Apalagi kalau pembangunan yang ada menjadikan sebagian generasi sekarang termarginalkan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan akibat pembangunan yang berlebihan dan merusak lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *