Menelisik Sejarah Dugderan di Semarang

by
Patung Warak Ngendok Khas Semarang

SEMARANG – jatengkita.id

Semangat pagi, Lur! Bulan Ramadhan di depan mata, artinya di Semarang ada event tahunan yang selalu dinanti oleh masyarakat Semarang. Moment apakah ini? Yup! Apalagi jika bukan Dugderan. Dugderan konon merupakan  asumsi dari suara dari suara bedug ‘dugdug’  dan ‘derr’ meriam yang dibunyikan saat pawai dan acara berlangsung.

Ada yang pernah atau malah rutin melihat acara dugderan ini, Lur? Tahu sejarahnya nggak nih kira-kira?

Dugderan memang merupakan event untuk menandai bahwa bulan Ramadhan akan tiba. Dulunya, merupakan sarana informasi pemerintah Kota Semarang kepada masyarakat bahwa besok Ramadhan tiba. Acara ini dilangsungkan sehari menjelang bulan puasa dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat.

Biasanya, sepekan sebelum puncak acara dugderan, diadakan pasar rakyat yang menjual berbagai macam kebutuhan mulai dari yang paling khas yaitu mainan anak-anak tradisional berbahan tembikar, aluminium, dll sampai pakaian dan aneka makanan. Pasar Tiban (dadakan) ini juga menarik pedagang dari luar Kota Semarang untuk menggear dagangannya di arena pasar rakyat dugderan. Di sekitar pasar rakyat pun terkadang ada arena pasar malam dengan aneka permaianan anak dan tontonan yang menarik.

Dugderan sudah dimulai sejak tahun 1881 pada era kepemimpinan Prabunigrat yang terkenal sangat menyukai seni dan budaya. Sejeka itu acara ini diadakan secara rutin setiap tahun hingga sekarang. Puncak acara dugderan adalah pawai dan kirab Warak ngendog. Warak ngendok merupakan binatang imajiner yang menjadi ikon kota Semarang. Merupakan perpaduan dari kambing dan naga yang berarti penanda keberagaman masyarakat Semarang yang terbingkai dalam kerukunan antar etnis. Warak ngendog akan diarak dari Balai Kota Semarang hingga Masjid Agung Kauman, dan beberapa tahun terakhir melalui rute Masjid Agung Jawa Tengah.

Tujuan diadakannya Tradisi Dugderan oleh Bupati Semarang kala itu didasari oleh keprihatinan beliau terhadap kedamaian Masyarakat Semarang, karena didapati sebuah gerakan memecah belah yang merusak tatanan masyarakat yang kentara sejak kedatangan Kolonial Belanda, mereka mencoba menghembuskan persaingan tidak sehat yang memanfaatkan pembauran masyarakat semarang yang telah diketahui terdiri dari berbagai Suku, Agama dan Golongan. hingga terjadi pengelompokan Masyarakat di Semarang, Daerah Pecinan untuk Warga Cina, Pakojan untuk Warga Arab, Kampung Melayu untuk Warga Perantauan Luar Jawa serta Daerah Kampung Jawa yang ditempati oleh Masyarakat Pribumi Jawa.

Penggolongan Masyarakat di Semarang semakin diperparah oleh perbedaan pendapat dikalangan Umat Islam mengenai penetapan awal bulan puasa yang berujung pada perbedaan hari-hari besar Islam lainnya. Dengan keberanian dan kecerdasan Bupati melakukan usaha untuk memadukan berbagai perbedaan, termasuk salah satunya untuk menyatukan perbedaan penentuan awal bulan Ramadlan. Usaha Bupati ini sangat didukung dari kalangan ulama yang berada di Kota Semarang. Salah satunya yang banyak berperan adalah Kyai Saleh Darat.

Disamping itu, gudegran juga dimaksudakan agar masyarakat bertemu dan berkumpul dalam suasana suka cita tanpa perbedaan, saling bertegur sapa dan mendengarkan pengumuman penetapan tanggal 1 Ramadhan dari Bupati/Wali Kota sehingga terlihat persatuan masyarakat Kota Semarang.

Acara kirab budaya dugderan yang dimulai dari Balai Kota Semarang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat. Terdiri dari pasukan ‘Merah-Putih’, pasukan pakaian adat ‘Bhineka Tunggal Ika’, meriam, Warak ngendok, dan potensi kesenian masyarakat Semarang.

Saat kirab berlangsung biasanya masyarakat akan menunggu arak-arakan dengan berdiri di sepanjang jalan yang dilalui karnaval. Masyarakat antusias melihat dugderan dan mengajak keluarganya turut serta. Pasukan resmi dugderan dan aneka mobil hias selalu menarik perhatian mereka dari tahun ke tahun.

 

 

Sejak tahun 2010 pada masa pemerintahan Wali Kota Soemarmo, dalam puncak acara duderan juga dibagikan ribuan Kue Gandjel Rel, Kue tradisional khas Semarang yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.  Kue yang khas dengan rasa manis legit dan seret ini dibagikan sekaligus dengan air minum yang sudah didoakan setelah acara khataman Al-Qur’an berlangsung di Masjid Agung Semarang (Masjid Agung Kauman).

Menurut Gus Min (Ketua Panitia dugderan), Kue Ganjelrel digunakan dalam acara dugderan karena  mempunyai makna ganjelan rel o, yang berarti doa agar semua ganjalan-ganjalan dalam menyambut bulan Ramadhan hilang serta berganti dengan kerelaan, keikhlasan dan kesucian hati untuk menyambut bulan suci dan khusyu beribadah selama bulan tersebut.

Biasanya sebagian kue Gandjel Rel ini disusun sedemikian rupa membentuk miniatur Masjid Agung Semarang/Kauman dan dibagikan kepada masyarakat di puncak acara dugderan.

Hayuk, Lur! Ada yang besok mau ‘berburu’ Gandjel Rel? Hehe. Pokoke ati-ati yo, Lur! Cuaca besok boleh panas, tapi hati kudu tetep adem untuk menyaksikan kirab budaya dan menyambut bulan suci Ramadhan.

Salam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *