Mengabdikan Hidupnya untuk Dakwah, Arie Widiana Justru Panen Prestasi

by
Arie Widiana R (Kebaya Hijau Muda), saat menerima penghargaan bersama para pemenang tingkat nasional, di Jakarta.

KUDUS, Jatengkita.id – Arie Widiana Ristiani lahir di Kudus 15 Februari 1979. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Nur Masirun dan Ibu Musyarofah ini tidak pernah menyangka bahwa dirinya mampu menoreh prestasi hingga namanya dikenal sampai tingkat nasional. Perempuan yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum ramah ini, memang terlihat sangat sederhana, namun kepemimpinannya mampu membuat guru-guru dibawah tanggung jawabnya merasa terayomi, selain bisa menjadi penengah dengan memberikan solusi terbaik, mereka juga merasa tersirami melalui motivasi dan dukungan moral yang sering disampaikan beliau. Pantas saja apabila amanah sebagai kepala sekolah masih di percayakan kepadanya dalam beberapa periode karena mampu membuat TKIT Umar Bin Khathab menjadi PAUD Unggulan di Kudus hingga saat ini.

Arie Widiana R, Saat Menjadi Pemateri.

 

Kecintaannya terhadap anak-anak memang sangat tinggi, dan hal tersebut semakin tampak ketika ia memutuskan kembali ke kota kelahirannya setelah menyelesaikan pendidikannya di Jogja. Kala itu ia mencoba memanfaatkan mushola dekat rumahnya untuk mengajari anak-anak mengaji melalui cerita shiroh. Tanpa disangka ternyata semakin hari semakin bertambah anak-anak yang berdatangan untuk mengaji karena sangat tertarik mendengarkan ceritanya. Dari situlah bekal yang kemudian membuatnya merasa mulai menemukan jiwanya disana.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri jika lika liku kehidupan serta pahit getirnya yang turut membersamai pun harus dilalui. Perempuan yang akrab disapa Bu Arie ini merupakan lulusan akademi gizi dari Yogyakarta yang awalnya merasa terjerumus ke dalam dunia pendidikan. Seperti layaknya kebanyakan lulusan yang lain, saat itu beliau juga mencoba mengirimkan lamaran ke berbagai tempat, bahkan beberapa penolakan sempat harus dihadapi. Hingga kemudian lowongan menjadi guru di PAUD IT Umar bin Khathab yang baru tahun pertama berdiri akhirnya dijadikan batu loncatannya. Beliau rupanya sangat menikmati proses yang menempa hidupnya, hingga akhirnya ia mampu menghasilkan banyak karya, serta menjadi inspirasi untuk orang-orang di sekelilingnya.
Istri seorang Dosen dari Universitas ternama di Kudus yang telah dikaruniai empat anak ini mendapat dukungan penuh dari sang suami, Budi Gunawan, ST.MT. Sebab itu sudah menjadi komitmen di awal sebelum mereka memutuskan untuk akhirnya membangun pernikahan, meskipun dalam prakteknya terkadang beliau juga menyampaikan kecemburuannya terhadap jadwal padatnya sang istri. Berbagai kejuaraan dalam lomba yang diperoleh beberapa tahun ini memang membuat Bu Arie sering diminta untuk menjadi pemateri di sekolahan lain, bahkan dari kota lain, pantas saja jika jam terbang beliau pun memang sedikit menyita kebersamaannya bersama keluarga.
Prestasi tersebut antara lain: Juara 3 Lomba Mendongeng Tingkat Kabupaten Tahun 2005, Juara 1 Lomba Bercerita Tanpa Alat Porseni IGTKI Kabupaten Kudus tahun 2008, Juara 3 Lomba Cipta Lagu Tingkat Kabupaten tahun 2009, Juara 3 Lomba Sandiwara Boneka Tahun 2010, Juara 1 Lomba Sandirwara Boneka IGTKI PGRI Kabupaten Kudus Tahun 2012, Juara 1 Lomba Menulis Artikel dalam Rangka HUT PAUD Pelita Nusantara Tahun 2014, Juara 3 Lomba Mendongeng HUT PAUD Pelita Nusantara Tahun 2014, Juara 1 Lomba KTI Kategori Kepala Tingkat Provinsi Tahun 2016, Juara Harapan dalam Lomba Cipta Lagu Tingkat Nasional Tahun 2016.

Arie Widiana R (Kebaya Hijau Muda), saat menerima penghargaan bersama para pemenang tingkat nasional, di Jakarta.

Ketika ditanya tentang semua prestasi yang telah membuatnya mendapat banyak pujian, dengan senyum ramahnya beliau memaparkan, “Kalau akhir-akhir ini kemudian buah itu saya dapatkan, saya sendiri kaget, karena saya itu ikut lomba berkali-kali dan tidak juara ya sudah biasa, saya nikmati saja, mungkin Allah ingin melihat kepantasan kita, memang pantas apa tidak sih kita dapat prestasi itu, semangat ikut lomba ada karena saya sudah komitmen bahwa hidup memang untuk dakwah, jadi saya berprestasi di bidang apapun atau apapun yang saya lakukan inginnya memang untuk mengangkat tinggi-tinggi agama Allah, jadi motto hidupnya kan memang bisa memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain, kalau saya memberi pasti saya akan dapat, hukum alamnya kan seperti itu, kalau ikut lomba orientasinya bukan untuk juara, niatan awal kita untuk apa, yang penting kita lakukan yang terbaik, mau menang atau tidak tetap lakukan yang terbaik, karena kalau juara itu kan penilaian manusia, kalau ada hadiah itu kan efek, karena setiap apa yang kita lakukan pasti Allah menilai, tujuannya memang untuk akhirat, jadi nanti dunianya akan mengikuti.”

Arie Widiana R, sering menjadi pemateri parenting.

Setidaknya semangat itulah yang sering beliau tularkan kepada guru-guru di lembaganya. Beliau juga sering menyampaikan bahwa tertempa lewat tarbiyah itu pasti, maka itulah pentingnya membekali diri melalui kajian-kajian, halaqah, dan amalan ibadah lainnya. Kekuatan tersebut rupanya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang satu lembaga dengan beliau, namun juga kebanyakan orang diluar. Semangat itulah yang membuat beliau kedepan ingin mewujudkan impian agar aktifitasnya sekarang sebagai pemateri dapat terangkum dan tertata dalam sebuah manajemen yang baik, sehingga dapat menyalurkan serta membagikan ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh kepada guru-guru di luar sana.
“Kita harus yakin betul bahwa Allah itu maha melihat maha teliti, apapun yang kita lakukan benar-benar Allah perhatikan, sehingga lakukan yang terbaik, maka Allah akan memberikan yang terbaik, kita jadi apapun saat ini, posisi apapun kita, baik yang diamanahi sebagai guru, ataupun yang masih pelajar dan yang lainnya, lakukan peran itu dengan sebaik-baiknya, Allah tidak tidur, Allah pasti melihat apa yang kita lakukan, dan ketika yang kita lakukan itu semuanya niatnya untuk mendapat Ridhlo Allah maka akhiratnya dapat dan dunianya juga dapat, orientasi itu yang membuat kita bertahan, meskipun orang disekitar kita mau bicara apa, tapi kalau kita ikhlas dan orientasinya kepada Allah saja, kita tidak akan terganggu, orang mau memuji kita juga kembalikan kepada Allah karena bukan kepandaian kita, sehingga kita tidak ujub, orang mencela juga kita tidak sedih karena kita tahu apapun yang kita lakukan pasti Allah nilai”, pungkasnya.
Semoga apa yang sudah beliau lakukan mampu menjadi motivasi, dan prestasi yang ditorehkan mampu menjadi inspirasi untuk kita semua agar terus berkarya dengan tetap menjadikan agama Allah sebagai semua alasan dan tujuan kedepannya, seperti pesan yang sudah disampaikan beliau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *