Mengenal Kebaya Janggan dalam Film Gadis Kretek

Serial Gadis Kretek
Potret Dian Sastro dalam serial Gadis Kretek. (Instagram.com/@netflixid)

Jatengkita.id – Sedulur sudah menonton series Netflix Gadis Kretek? Serial yang mengangkat kisah Dasiyah yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo ini berhasil mencuri perhatian pemirsa. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pakaian yang dikenakan Dian Sastro dalam serial tersebut. Kebaya yang digunakan cukup unik dan belum banyak yang tau mengenai kebaya tersebut. Apa sih keunikannya?

Gadis Kretek merupakan serial web Indonesia tahun 2023 produksi BASE Entertainment dan Fourcolours Films. Serial yang ditayangkan di Netflix ini diadaptasi dari novel berjudul sama seriesnya. Disutradarai Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, series ini diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Saloka, dan Putri Marino.

Kembali ke kebaya yang dikenakan sosok Dasiyah. Rupanya Kebaya tersebut dikenal dengan kebaya Janggan. Kebaya Janggan, merupakan sebuah pakaian yang biasa digunakna oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta. Janggan sendiri serasal dari kata jangga atau jonggo yang memiliki arti leher dalam bahasa Jawa.

Kebaya Janggan

Mengutip dari Narasi, model kebaya janggan muncul pertama kali pada 1830-an. Saat itu, Ratna Ningsih, istri Pangeran Diponegoro, sering menggunakannya.

Desain yang terdapat dalam kebaya ini diadopsi dari model seragam militer Eropa pada masa itu. Modelnya menyerupai surjan laki-laki yang dilengkapi dengan detail kancing serta kerah hingga menutup leher.

Dalam Journal of Social Research disebutkan, semua abdi dalem Keraton Yogyakarta hanya boleh menggunakan pakaian berwarna dasar gelap atau hitam. Warna ini sebagai penanda atau identitas utama bagi seluruh abdi dalem di lingkungan keraton.

Kebaya Janggan ini kerap kali dipakai pada beberapa upacara adat dan acara pertemuan keraton. kebaya janggan juga hanya diperbolehkan polos atau bermotif kembang batu, tidak boleh berbahan brokat.

Adapun alasan mengapa kebaya janggan memiliki kerah tinggi karena memiliki makna keindahan dan kesucian kaum perempuan Jawa pada umumnya, sedangkan warna hitam sendiri memiliki makna ketegasan, kesederhanaan, serta kedalaman.

Wanita dapat sejajar dengan pria dari segi ketegasan dan kepemimpinannya. Terdapat ketentuan penggunaan jarik atau kain bawahan pada kebaya janggan yang wajib digunakan oleh wanita keraton. Jarik harus dililitkan dari kiri ke kanan atau bagian kanan di dalam, serta kiri di dalam.

Ujung kain wajib dibentuk wiru dengan jumlah lipatan ganjil seperti 5, 7, atau 9. Lipatan ini disesuaikan dengan bentuk tubuh.

Kebaya janggan sendiri digunakan oleh para abdi dalem estri (wanita) saat acara tertentu seperti Hajad Dalem atau Pun Caos Bekti bagi abdi dalem Estri Punakawan.

Website resmi Kraton Jogja menjelaskan bahwa pada hakikatnya, seluruh abdi dalem bisa menggunakan janggan tanpa melihat pangkat saat diberi tugas khusus.

Namun, khusus Hajad Dalem Ngabekten, Abdi Dalem Keparak berpangkat magang dan jajar belum boleh menggunakan kebaya jenis ini karena hanya duduk sowan bekti dan tidak sungkem pada Ngarsa Dalem.

Baca Juga Keren! Rumah Adat di Indonesia ini Tahan Gempa 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *