Mengintip Musholla Bangunan Belanda, dan Sejarah SPIEGEL Semarang

by
(Foto: Musholla di Impala Space ~ Dokumentasi Jatengkita)
(Foto: Musholla di Impala Space, Gedung Spiegel ~ Dokumentasi Jatengkita)

Saya pingin memulainya dengan foto yang saya ambil di salah satu pojok di Impala Space, sebuah co-working space di bangunan bernama Spiegel di kawasan Kota Lama Semarang. Meskipun mungkin biasa dan hanya diambil menggunakan smartphone jadul saya, foto diatas pengen saya kasih judul; Pray Anywhere, hehe. Mengingat persis di tempat saya berdiri adalah tempat lalu lalang pengunjung bangunan itu dari satu ruangan ke ruangan lain, tidak hanya itu, suara musik dari ruangan di lantai 2 ini juga terus menggema menemani orang yang sedang sholat. Otomatis, perlu usaha lebih untuk bisa menikmati ibadah. 🙂

Dari pengambilan foto diatas, saya jadi saya sangat bersyukur, saya sempat menikmati sholat disana, apapun dengan usaha lebih akan menimbulkan kenikmatan bukan? :p Usai memotret tiba-tiba saya jadi ingin melempar pandangan saya ke setiap sudut ruangan. Dan sejak saat itu saya tambah penasaran dengan gedung ini. Saya berfikir, mungkin dahulu tidak ada orang sholat disini, atau mungkin gedung ini digunakan untuk hal-hal angker, mengerikan ataupun kejahatan. Dan hari ini sebagian orang berkesempatan menyembah Tuhannya disini. tentu saja seluruh perasaan saya ini akibat intervensi nuansa klasik bangunan yang kesan kuno nya tidak bisa dihilangkan.

Eksotika SPIEGEL, Gedung Sejak 1895

Gedung Spiegel tidak mempunyai halaman dengan posisinya tepat di tepi jalan Raya Jl Letjend Soeprapto No 34, Kota Lama, Semarang Utara, Kota Semarang. . Di sebelah barat adalah Paradeplin Gereja Blenduk. Bangunan setangkup dengan fasade (bagian muka) tunggal ini bangunannya berorientasi ke selatan dengan seluruh bangunan berlantai dua. SPondasi bangunan dengan batu dan sistem struktur dinding bata. Dinding dari batu bata, bagian kaki bangunan diberi ornamen dan seluruh dinding diselesaikan dengan plester dan dicat. Atap bangunan pelana dengan bahan penutup genteng. Facade entrance (bagian muka sekaligus pintu masuk) menghadap kebarat daya (menyorong). Terdapat jendela loteng di sepanjang facade bangunan. Tritisan tidak begitu lebar karena terjadi dari dinding yang menjorok ke dalam.

Cornice terdiri dari garis-garis mendatar. Dinding facade entrance dipertinggi dan diselesaikan dengan hiasan diatasnya. Bangunan tidak mempunyai serambi. Pintu masuk utama menjorok ke dalam dan dinaungi atap lengkung yang membentuk balkon diatasnya. Balkon tanpa naungan. Pintu berdaun ganda dengan panel kayu. Diatas pintu terdapat bouvenlicht. Diatas cornice di sepanjang facade bagian barat terdapat terdapat jendela dari kaca yang berfungsi sebagai ventilasi. Jendela berambang atas lengkung dan berdaun ganda. panel jendela dari kaca dan kayu. Gaya bangunan sedikit terpengaruh oleh gaya Spanish Colonial.

Bentuknya benar-benar tanpa serambi ( teras ), tanpa kanopi dan teritisannya tidak begitu lebar. Sebenarnya konsep bangunan tanpa serambi dan teritisan tidak sesuai dengan konsep bangunan di negara tropis seperti Idonesia. Mengapa?

Karena negara tropis apalagi Indonesia mempunyai curah hujan yang sangat tinggi, dimana serambi serta teritisan mempunyai fungsi yang tidak main-main. Dengagn adanya serambi atau teras, jika hujan akan banyak menolong, karena hujan akan menyapu pintu dan jendelanya. Begitu juga dengan kanopi atai teritisannya. Kanopi dan teritisan berfungsi untuk meredam angin dan air hujan, apalagi jika angin kencang dan hujan deras.

Berbeda dengan di negara-negara Eropa atau negara 4 musim. Dimana curah hujannya sangat rendah bahkan sebagian besar negara-negara dalam 4 musim jika hujan sangat kecil dan seperti shower. Beruntung, desain bangunan Spiegel ini mempunyai pintu masuk cukup menjorok kedalam, dan sedikit dinaungi oleh kanopi lengkung. Diatasnya sepertinya untuk balkon.

Secara interior, antar lantai cukup tinggi, mungkin 5 meter. Desain interiornya di ruang utama untuk makan, mempunyai mezzanine. Plafondnya dari kayu-kayu solid, pada suasana malam akan merasakan ‘sesuatu’ seperti kita berada di bangunan Eropa. Suasana dan auranya benar-benar seperti di Eropa. Sebuah suguhan yang luar biasa, untuk resto khas Kota Tua Semarang.

Foto : seputarsemarang.com
Gedung Spiegel yang telah direnovasi. Mempesona meski tidak menghilangkan kesan lama
foto : reresepan.com

Dulunya adalah Toko NV Winkel Maatschappij “H Spiegel”

Dulunya gedung ini ditempati oleh sebuah perusahaan bernama N.V Winkel Maatschappij “H Spiegel”. N.V. singkatan dalam bahasa belanda Naamloze Vennootschap yang mengacu kepada Perseroan Terbatas (PT). Sedangkan Winkel Maatschappij kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris berarti Shop Society. Adapun H. Spiegel saya agak Geli karena kebayang si Spiegel ini sudah Haji, tapi ternyata arti dari kata Spiegel ini sendiri adalah Cermin.

Perusahaan ini adalah sebuah toko yang menyediakan berbagai macam barang baik keperluan rumah tangga atau keperluan kantor dengan model terbaru. Beberapa barang yang disajikan antara lain : tekstil dari kapas atau lenin, keperluan rumah tangga, mesin ketik, furniture, keperluan untuk olah raga dan sebagainya. Perusahaan ini pertama kali dibanguna pada tahun 1895 oleh Tuan Addler. Kemudian Tuan H. Spiegel diangkat menjadi manajer perusahaan ini. Lima tahun kemudian, Tuan H. Spiegel menjadi pemiliknya. Pada tahun 1908 perusahaan ini menjadi perusahaan terbatas. Keadaan bangunan kuno ini sempat kurang terawat, sedangkan fungsi bangunan dialihkan menjadi gudang hingga dilakukan renovasi pada 8 Juni 2015, setelah dilakukan restorasi yang cukup lama gedung ini digunakan sebagai cafe dan resto.

Lama Mangkrak Tak Terurus

foto : jejakbocahilang.wordpress.com 2013 “Spiegel Outside”
foto : jejakbocahilang.wordpress.com 2013 “Spiegel Outside Window”
foto : jejakbocahilang.wordpress.com “Spiegel Kuno”
Foto : smgpras.blogspot.com
Gedung Spiegel sebelum direnovasi
Gedung Spiegel sebelum direnovas
Foto : seputarsemarang.com
jejakbocahilang.wordpress.com 2013 “Spiegel Marble”
foto : jejakbocahilang.wordpress.com 2013 “Spiegel Hole”

Namun pesona gedung Spiegel yang sekarang menjadi Bar & Bistro dan di lantai dua digunakan untuk co working space berbeda sepenuhnya 3 tahun lalu. Bangunannya sunggguh mencekam dan tak terawat. Tiga tahun lalu, banyak pihak saling tuduh, pemerintah kota dituding tidak becus mempertahankan pelestarian bangunan cagar saat sebuah cagar budaya rata dengan tanah. Pemerhati sejarah hanya bisa mengkritik. Dari kesempitan ini muncul peran investor yang suka dengan kekunoan, punya materi yang cukup dan misi yang kuat untuk membawa kuno menjadi kekinian.

Adalah seorang Sitha, pemilik sekaligus direktur PT Spiegel Nusa Archindo (perusahaan yang membeli gedung ini). Arsitek lulusan Perth, Australia. Bangunan ini dibeli tiga tahun lalu karena satu alasan bahwa orang tua dan kakek-neneknya berasal dari Semarang. Kecintaan orang tuanya terhadap kota di mana mereka dibesarkan mendorong Sitha untuk menyelamatkan paling tidak satu bangunan. Mereka kemudian mengadakan pameran pada tahun 2013. Sepenggal paragraf yang menerangkan tentang pemilik baru Spiegel di ruang pameran.

foto : jejakbocahilang.wordpress.com 2013 “Sempat menjadi lokasi Pameran bertajuk Kuno, Kini, Nanti yang digelar Komunitas Lopen”

Lewat pameran bertajuk “Kuno, Kini, Nanti” yang digelar oleh komunitas Lopen Semarang, melihat lebih dekat seperti apa isi gedung Spiegel yang sempat terlantar bertahun-tahun. Pameran yang diadakan tanggal 22-28 Agustus 2013 tersebut tidak hanya mengangkat nama Spiegel yang sudah jatuh ke tangan PT Spiegel Nusa Archindo saja. Semarang tempo dulu, kejayaan Oei Tiong Ham sebagai raja gula terkaya se-Asia pada masa Hindia Belanda ikut diangkat. Pemetaan kota, jejak benteng Fort Prins van Oranje, dan sejarah perkeretaapian pertama Hindia Belanda di Semarang juga ikut dipamerkan.

Bukan bermaksud membanggakan kejayaan Hindia Belanda yang pernah memberi masa masa kelam bagi Nusantara, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa sebuah negara tumbuh dan besar akibat peristiwa di masa lalu. Tanpa masa lalu mungkin tidak pernah muncul suatu kebebasan seperti sekarang.

Pemilik baru Spiegel tidak ingkar janji apalagi memberi harapan palsu. Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya Spiegel selesai direstorasi dan buka dengan wujud lebih fresh pada pertengahan tahun 2015. Muncul dengan nama Spiegel Bar & Bistro yang menempati lantai bawah seluas 17 x 17 meter dengan meja bar diletakkan di tengah-tengahnya. Bistro ini mampu menampung sekitar seratus empat puluhan pelanggan.

Metamofosa bangunan Spiegel, Semarang. Dari jaman keemasan awal tahun 1900-an, rusak dan menjadi gudang tak terawat, dipugar yang memakan waktu cukup lama
Foto : skyscrapercity.com
Renovasi Gedung Spiegel. Pengembangan Kota Lama Pada Tahun 2014 memakan dana hingga Rp. 35 Miliar, Gdg Spiegel salah satunya. Kota Lama telah menjadi satu ikon Kota Semarang

Tempat nongkrong di Kawasan Kota Lama ini menggunakan bangunan antik dengan usia lebih dari 120 tahun sebagai daya tariknya. sebelah timur Taman Srigunting / Gereja Blenduk ini menawarkan sajian menu western ini menyediakan minuman seperti kopi, koktail dan moktail. EST 1895, tertulis di bagian eksterior bangunan Spiegel ini, yang merupakan tahun dibangunnya bangunan ini pertama kali.

Cafe ini dilengkapi dengan meeting room dengan kapasitas 10 orang, gathering room, birthday and anniversary package, event launching, foto area, pre wedding package hingga cooking and coffee brewing workshop. Cafe ini buka Senin – Kamis buka mulai pk. 10.00 – 00.00 sedangkan Jumat – Minggu buka mulai pk. 10.00 – 01.00. Sedangkan lantai 2 nya saat ini seluruhnya dijadikan Co-Working Space yang dikelola oleh Impala.

 

Sisi kanan bangunan ini adalah dapur. Dengan dinding bata ‘1 batu’, yang tidak di semen apalagi di cat, semakin menambah aura Eropa, jika kita berada di bangunan ini. Dinding wallpaper dari koran dan majalah lama, serta artis-artis jaman itu atau tahun 1900-an awal, berhasil menampilkan kesan yang retro bingits.

Masuk ke daerah service menuju toiletnya, kita bisa semakin memandang kagum. Lantainya adalah kayu, tapi aku tidak tahu apakah kayu itu dari jaman yang sama. Sepertinya kayu solid, warnanya sangat natural. Dan memasuki area toilet, kami melihat tangga ke lantai atas dengan kayu solid yang aduhai. Memang toilet baru sih, bukan dari jaman yang sama, tetapi si pemilik mendesain sangat natural sesuai dengan konsep bangunan tersebut. Wastafel di area toilet, dengan pipa yang tidak dibungkus, untuk mengalirkan air bersih. Juga bak air memakai beton dengan mozaik hitam dan lantai kayu, serta bau lembab dan plafond tinggi, menjadikan suhu sedikit sejuk seperti di toilet-toilet di resto di Eropa.

Well, menarik gaes buat kamu yang sekedar mencari spot instagramable di kawasan kota lama Semarang. Cuma ya buat kamu yang muslim menunya memang nggak cocok sih berhubung Bar ini memang menyediakan minuman keras seperti vodva, cocktail dan keluarga-keluarganya.

Ok, See u..!

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *