Misteri Alas Roban di Batang

FOTO : Media Indonesia

Jatengkita.id – Kota Batang merupakan wilayah yang banyak menyimpan berbagai pesona alam mulai dari pegunungan hingga pantai. Banyak sekali wisata alam yang menghadirkan pesona yang unik dan menarik bagi siapa saja yang mengunjunginya. Tetapi dibalik pesona alamnya yang sangat indah di pandang mata, Kabupaten Batang juga menyimpan banyak kisah misteri yang telah diyakini oleh masyarakat sekitar yang dapat membuat bulu kuduk merinding. Batang juga terkenal dengan misteri Alas Robannya. Para pengguna jalur Pantura, pasti sudah tidak asing dengan istilah ini.

Setiap keberadaan suatu daerah tentu tidak lepas dari sejarah yang dimilikinya. Seperti di Kota Batang yang memiliki tempat yang sangat mistis bagi siapapun yang mendengarnya. Sebut saja salah satunya ialah Alas Roban. Alas roban terletak di jalur pantura Kecamatan Gringsing, Kabupaten batang, Jawa Tengah. Tempat ini pada zaman dahulu merupakan sebuah alas yang sangat luas. Saking panjang dan luas wilayahnya sampai mendekati daerah Pekalongan. Jalanan yang curam dan berkelok-kelok dengan dikelilingi banyak pepohonan lebat di setiap bahu kiri dan kanan jalan tersebut sering dilalui banyak pengendara. Hutan Alas Roban membelah sebagai jalan dengan tikungan yang berkelok-kelok dan kanan kirinya ditumbuhi pepohonan yang sangat tinggi.

Bagi sebagian orang nama Alas Roban sudah tidak asing lagi. Banyak  cerita mistis yang menyelimuti jalur hutan jati di Kota Batang ini. Konon, alas roban sudah ada sejak zaman konial, jalan ini dibuka karena sistem kerja paksa yang diberlakukan pihak Belanda pada waktu itu. Para pekerja disiksa dan dipaksa untuk melakukan pekerjaan dengan cara tidak manusiawi, hal itu dilakukan untuk dapat membelah bukit serta hutan agar dapat dilalui dan dijadikan sebagai jalan. Karena sistem kerja paksa tersebut imbasnya para pekerja banyak yang kelelahan dan akhirnya meninggal, tidak sedikit pula pekerja yang meninggal dibiarkan begitu saja. Sementara itu, rumor lainnya yang beredar adalah Alas Roban sebagai tempat untuk pembuangan mayat oleh penembak yang sangat misterius pada zaman petrus.

Dari banyaknya kisah mistis mengenai Alas Roban tersebut, ada legenda yang sangat populer mengenai Alas Roban yang menjadikan sejarah Kota Batang. Konon, saat itu ketika Mataram sedang mempersiapkan daerah-daerah pertanian demi mencukupi persediaan beras bagi para prajurit yang akan menggadakan penyerangan ke Batavia, telah mengutus Ki Ageng Bahurekso untuk membuka hutan Roban agar dapat dijadikan daerah pesawahan.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya, cukup banyak hambatan yang dialami. Pekerja yang bertugas menebang hutan banyak sekali yang sakit bahkan sampai meninggal. Hal tersebut dipercayai karena adanya gangguan dari penunggu Alas Roban, seperti siluman, jin, peri prayangan yang menjadi penunggu Alas Roban. Para penunggu alas roban tersebut dipimpin oleh raja Dadungawuk. Dengan berbagai cara serta kesaktian yang dimiliki oleh Bahurekso alhasil ia dapat mengalahkan para pengganggu-pengganggu tersebut, hasilnya ia diberikan syarat untuk melakukan sedekah bumi dengan menyediakan sesaji hasil dari pertanian.

Tidak sampai disitu saja, halangan yang dihadapi oleh Bahurekso masih terus berlanjut, gangguan lainnya yang harus dihadapi Bahurekso adalah Raja Siluman Uling yang bernama Kolo Dribikso. Bendungan yang sudah dibuat untuk dapat menaikkan air sungai dari Lojahan selalu jebol disebebkan oleh anak buah Raja Uling dengan cara merusaknya. Bahurekso yang mengetahui hal tersebut akhirnya marah hingga turun tangan untuk menghadapinya secara langsung. Ia menyerang semua anak buah yang dimiliki Raja Uling yang bermarkas disebuah kedung, banyak sekali korban yang berjatuhan atas serangan tersebut. Merahnya semburan-semburan darah membuat air kedung itu menjadi merah kehitaman “gowok . Jw”, sehingga kedung tersebut dinamakan dengan sebutan Kedung Sigowok.

Raja uling yang melihat anak buahnya tumbang, dengan pedang Swedang terhunus ia menyerang Bahurekso, dikarenakan kesaktian yang dimiliki pedangnya tersebut, Bahureksopun kalah. Hal tersebut tak membuatnya berhenti dalam melakukan tugas yang telah ia emban. Siasat segera dilakukan dengan cara masuk ke dalam Keputren kerajaan Uling, untuk merayu adik sang raja yang bernama Dribusowati atas nasehat dan perintah ayah Ki ageng Cempaluk, Dribusowati merupakan putri siluman yang sangat cantik. Dengan berbagai cara rayuan yang dilakukan Bahureksopun akhirnya berhasil merayu sang putri. Sang putri dribusowati bersedia mencuri pedang pusaka milik kakaknya yang kemudian diserahkan kepada Bahurekso. Sehingga dengan pedang Swedang yang berada ditangannya Bahurekso dapat mengalahkan raja uling dengan sangat mudah.

Terlepas dari kesan mistisnya Alas Roban masih sering dilintasi karena menjadi jalur vital dan juga keramat. Bagaimana tidak, dijalur ini, seringkali terjadi kecelakaan, karena kontur tanahnya yang berbentuk perbukitan sehingga sering terjadi kecelakaan di area tersebut. Kecelakaan terjadi tak hanya karena mesin pengendara yang rusak seperti ban bocor atau rem blong, namun banyak sekali penyebab kecelakaan terjadi yang dipercayai oleh banyak orang seperti halnya mendapat gangguan saat pengendara sedang melintas, seperti melihat sosok yang menyebrang begitu saja, mendengar suara-suara aneh dan lain sebaginya.

Masyarakat mempercayai bahwa di Alas Roban terdapat sepasang jin yang bernama Ki Janggut Putih dan Nyi Putih. Ki Janggut Putih memiliki jenggot panjang atau klamprah. Keduanya pernah mengatakan tidak akan mengganggu manusia jika tidak diusik, orang yang ingin bertemu mereka di Alas Roban harus memiliki tekad kuat dan tidak boleh takut. Mereka harus datang membawa minyak mistik untuk mengundang sepasang jin tersebut, hal tersebut agar bisa meminta pertolongan kepada jin penunggu alas, jin bisa dimintai pertolongan, dengan meminta imbalan berupa tumbal seorang anak kandung, atau sanak saudara dari si pemohon, yang nantinya akan dijadikan sebagai teman di dunia kedua sosok jin tersebut.

Banyaknya kisah mistis dan angkernya Alas Roban memang sudah tak sing lagi ditelinga, jalur yang meyimpan banyak sekali kisah misteri yang terjadi di dalamnya. Kurangnya penerangan jalan juga membuat suasana tempat ini semakin seram terutama pada malam hari.

Alas roban menjadi jalur alternatif lingkar utara dan selatan. Dari Kendal menuju Pekalongan harus melawati kawasan Alas Roban yang konon merupakan salah satu jalur Tengkorak di Jawa Tengah, kawasan ini adalah hutan belantara yang dibelah untuk dibuat jalan raya. Jalur Alas Roban ini ada tiga jalur yang bisa dilewati oleh para pengendara, yakni Jalan Poncowati atau Jalan Sentul Alas Roban (jalur lama), jalur lingkar selatan, dan jalur utara (Jalur Pantura).Namun tidak selalu hal mistis yang dikaitan dengan Alas Roban ini menjadi tempat yang berbahaya.

Tetapi di balik kisah keangkerannya, Hutan Alas Roban merupakan tempat ditumbuhinya berbagai jenis buah. Buah yang paling terkenal dari alas ini adalah pisah gebyar. Pisang ini merupakan buah yang menjadi ciri khas yang dimiliki oleh alas roban.

Banyak penjual yang berjajar di pinggir jalan raya yang menjajakan buah-buahan yang dihasilkan dari lahan sekitar hutan roban, berbagai macam buah-buahan seperti nangka, sukun, durian, sirsak, rambutan, dan lainnya. Gubukan yang ditempati para pedagang menjadikan area tersebut sebagai tempat istirahat bagi pengendara untuk melepas rasa lapar dan dahaga. Keberadaan pedagang yang semakin banyak itulah yang membuat alas roban menjadi tempat yang ramai walaupun dengan suasana hutan yang lebih kental, rimbunnya hutan dan lebatnya pepohonan semakin terasa sangat nyata.

Berani melewati Alas Roban malam hari, Lhur?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *