Money Monster | Resensi Film ~ Dari Kejahatan Media Hingga Elit Politik

by
resensi film money monster

oleh : Eko Jun

Awalnya kami hanya tertarik dari judul film dan pemerannya saja. Itu karena kami sepakat bahwa sekarang ini, uang memang telah berubah jadi monster. Terlebih pemeran utamanya adalah Goerge Clooney dan Julia Robert, yang sudah tentu memberikan jaminan akting yang prima. Mereka juga sudah pernah bermain bersama dalam film Ocean’s Eleven dan Ocean’s Twelve sebagai anggota geng The Proffesional Thief. Setelah kami tonton, isinya cukup menarik juga. Tapi berhubung sinopsisnya juga sudah banyak beredar, maka kami coba mengulasnya dalam bentuk yang berbeda.

Film ini menampilkan beberapa sisi gelap kehidupan di Amerika, yang polanya bisajadi juga terjadi dibanyak negara termasuk di Indonesia. Pertama, tentang kejahatan media. Mereka membuat sebuah acara bertajuk investasi yang sukses menjadi referensi publik. Banyak publik yang ikut berinvestasi, sesuai dengan arahan pembawa acara. Usut punya usut, ternyata sang pembawa acara tidak terlalu mengetahui apa yang disampaikannya. Karena posisinya tidak lebih hanya sebagai “boneka” yang membaca naskah serta diarahkan oleh managernya.

Hal seperti ini jamak terjadi didunia media, baik berupa program berita, talkshow, gossip show dll. Mereka membombardir publik dengan beragam informasi, membius kesadaran publik dengan berbagai opini serta mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan masyarakat. Seolah mereka sangat tahu situasi dilapangan. Padahal yang terjadi, mereka hanya membaca narasi yang telah dibuat serta berakting sesuai arahan manager produksinya. Mereka hanya tahu bahwa dirinya tengah melakukan pekerjaan profesional, tanpa berpikir lebih jauh tentang dampak yang dibawanya kepada masyarakat. Menurut kami, talkshow yang sudah diframing serta kerja – kerja buzzer medsos juga masuk dalam kategori ini.

Kedua, kejahatan kaum tertindas. Ada orang yang jadi korban investasi karena mengikuti seruan acara ini, lalu bertindak nekad demi mencari penjelasan yang rasional. Dia datang ke studio, mengancam dengan bom serta minta terus disiarkan secara langsung. Bukan agar uangnya dikembalikan, tetapi ingin tahu bagaimana uang para investor dirampok oleh perusahaan sekuritas. Dalam teori kriminologi, kejahatan memang bisa terjadi sebagai reaksi atas kondisi sosialnya. Sebabnya beragam, dari jerat kemiskinan hingga tekanan hidup yang keras. Teori ini kita kenal sebagai Mazhab Chicago.

Tentu saja teori mazhab Chicago bukan satu – satunya alat analisis untuk membedah kriminologi. Buktinya, tidak semua orang miskin jadi penjahat. Namun analisanya memang tidak bisa kita kesampingkan begitu saja. Jika tekanan, himpitan, kesulitan terus menerus dialami, pasti satu atau dua ada yang akan meletup dan melakukan aksi – aksi nekad. Dalam hal ini, mereka tidak bisa langsung disalahkan karena hanya bereaksi atas keadaan yang menghimpitnya. Sebab – sebab pemicunya yang harus dipadamkan, agar api dan asapnya hilang. Perkembangan sosial politik di Indonesia juga berpotensi mengarah pada kondisi ini, jika tidak segera diterapi dengan benar, tepat dan tegas.

Ketiga, kejahatan kerah putih. Perusahaan sekuritas mencuri uang dari para investornya. Mereka berdalih ada kesalahan pada program algoritma yang berimbas pada hilangnya uang. Padahal uangnya dilarikan untuk membiayai kegiatan tambang dan pengkondisian masyarakat disekitar area pertambangan (demo). Aksi ini dilakukan dengan aman karena hanya diketahui oleh bosnya saja, sedangkan pihak public relation perusahaan hanya memberikan jawaban normatif dan prosedural kepada media. Karena pihak humas juga tidak tahu menahu dengan “keanehan” situasi tersebut.

Edwin Sutherland mendefinisikan kejahatan jenis ini sebagai white collar crime. Sebuah kejahatan yang dilakukan oleh pihak yang kuat, terhormat dan berwenang. Mereka berlindung dibalik prosedur perusahaan, tim pengacara yang hebat serta jaringan birokrasi yang luas. Jika kejahatan kaum tertindas adalah pemenuhan kebutuhan hidup, maka kejahatan kerah putih adalah wujud keserakahan dan dominasi. Operasinya jauh lebih aman ketimbang kejahatan jalanan, namun dampaknya sangat parah terhadap masyarakat, lingkungan maupun kehidupan ekonomi. Masuk dalam kerangka kejahatan kerah putih adalah manipulasi data, penyesatan informasi, suap terhadap pemegang kebijakan dll.

Film ini layak diapresiasi dengan positif. Selain akting yang prima dari George Clooney dan Julia Robert, juga karena mengangkat tema kejahatan kerah putih. Steven Seagal dalam film On Deadly Ground juga melakukan hal yang sama, yakni mengulas seputar perusahaan pertambangan yang mencemari lingkungan. Di Indonesia, sebenarnya banyak kasus – kasus seperti ini. Misalnya tragedi diteluk Buyat yang tercemar limbah mercuri, kerusakan lingkungan akibat penambangan Freeport dan jangan lupa,.. Reklamasi Teluk Jakarta. Semoga kelak ada sineas berkelas yang berani mengambil tema – tema seperti ini dalam industri perfilman nasional. Capek juga bolak – balik disuguhi tema cinta kan?

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *