Nanggap Ketoprak Humor, Aleg DPRD Provinsi Jawa Tengah Ajak Anak Muda Lestarikan Budaya Lokal Semarang

Anggota Legislatif DPRD Provinsi Jawa Tengah Agung Budi Margono, menggelar pagelaran budaya Ketoprak Humor Kampung Jawi dengan tema “Wiroguna Kewirangan” dalam agenda Dialog kebudayaan Nguri-uri budaya pada Sabtu, (12/03), di Hotel Grasia, Semarang.

Menurut Agung, kegiatan ini merupakan cara untuk nguri-nguri budaya, melestarikan kebudayaan yang menjadi jati diri dan keragaman yang telah mengakar dalam diri masyarakat Jawa Tengah, khususnya kota Semarang.

Budaya, menurut Anggota Komisi C DPRD Jawa Tengah ini, tidak bicara tentang budaya tidak hanya bicara soal kekinian dan kedisinian.

“Sebelum bicara budaya dan anak-anak muda, kita harus berpikir tentang kekinian tetapi juga kedisian. Nah budaya letaknya di situ, kedisinian. Kalau kekinian berpindah waktu akan berubah. Tapi kalau kedisinin, dimanapun berpijak maka daya kenal kitaitu harus ada.” terangnya. 

Agung juga menambahkan, kebudayaan tidak hanya bicara tentang pentas kesenian, tapi cakupannya lebih luas lagi. 

“Budaya itu kan tidak melulu soal seni, pentas misalnya, batik ini kan juga bagian dari budaya, kostum kita, cara bekomunikasi kita juga budaya. Perilaku kita juga budaya. Inilah satu hal yang menurut saya, kita sebagai orang Semarang, identitas kota semarang itu yang baik tentunya  tidak  hanya untuk dipertahankan tapi disampaikan pada dunia, hal tersebut menjadi tanggung jawab moril bersama, apalagi oleh para pembuat kebijakan. ” Tambah Agung. 

Menurut Agung semua memiliki tanggung jawab moril, apalagi para pembuat kebijakan, di pemerintahan seperti di DPRD, harus menjadi atensi dan memberikan dorongan, agar semua elemen masyarakat bisa menjaga jati diri, jangan sampai kehilangan bagaimana kita berpijak. kita tinggal di Semarang, maka budaya-budaya lokal Kota Semarang inilah yang harus di dukung penuh. 

Senada dengan Agung, Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang, Aditya Armitrianto mengatakan, kebudayaan itu bersifat dinamis, maka persoalannya adalah tentang bagaimana kita menjaga apa yang harus dilestarikan.

“Kebudayaan itu kan dinamis. Persoalannya, bagaimana kita menjaga apa yang harus dilestarikan. Kemudian, apakah kebudayaan kita selalu  bergeser, ya jelas selalu bergeser tinggal bagaimana kita menyikapinya”. 

Aditya juga menambahkan, anak-anak muda di Semarang sebetulnya sudah banyak yang berprestasi dan mengenalkan budaya baik di level nasional bahkan internasional.  Menghadapi perkembangan zaman ini, maka yang perlu adanya dukungan untuk memfasilitasi anak-anak muda dan juga semua pegiat seni. 

“Dari kaca mata saya pemuda kota Semarang itu sudah keren keren, banyak mereka yang berprestasi di tingkat nasional dan internasional, saya kira tinggal bagaimana kita memberi dorongan. selain itu, penting bagi kita untuk mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, ketoprak di zaman sekarang ini supaya lebih laku, lebih disukai apalagi oleh anak-anak muda, dikemas kekinian , tapi nilai-nilai yang disampaikan tetap ada. Ada pegangan nilai nilai itu ysang harus tetap dilestarikan.” Tegas Adit. 

Perkembangan zaman itu bagaikan pisau bermata dua. Di sisi lain menguntungkan namun di sisi lain juga bisa merugikan, ini yang mempercepat perkembangan masyarakat, di bidang kebudayaan juga. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Hal inilah yang juga melatarbelakangi lahirnya Kampung Jawi, salah satu Kampung Tematik di Kota Semarang.

Siswanto, Pegiat Seni dari Kampung Jawi menjelaskan bahwa, lahirnya kampung jawi ini berangkat dari kekhawatiran akan tersisihkannya budaya jawa dari generasi muda. 

“Sejak 2011, berangkat dari kekhawatiran budaya jawa akan tersisihkan. Dan sekarang terjadi, dimana saat buadaaygenerasi tidak akan lagi meneganal budaya jawa, bicara budaya jawa bicara kesenian, ada permainan tradisional, terkait budaya jaw aitu ada tata krama dan unggah ungguh. Mungkin dari generasi kini tidak akan mengenal hal semacam itu. Kekhawatiran saya seperti itu.”

Bak gayung bersambut, di tahun 2016 dicetuskanlah kampung Tematik oleh Pemerintah Kota Semarang, hal itu tentunya disambut baik oleh Siswanto dan pegiat budaya lainnya, dalam upaya menjaga kelestarian budaya lokal untuk mendirikan Kampung Jawi. 

“Di tahun 2016, pemkot Semarang menginstruksikan sebuah kampung tematik, maka saya sebagai seorang pejuang budaya, dimana budaya itu supaya tidak punah. Sebagai penguatan saya memulai dari kampung itu juga. Untuk merubah wilayah itu sendiri, akkhirnya diinisisasi untuk menjadi salah satu kampung tematiknya kota Semarang. Apa yang saya perjuangkan, yaitu terkait dengan budi pekerti tadi. Maka berdirilah kampung Jawi, hingga sekarang.” terang Siswanto. 

Kampung Jawi ini adalah bagain dari cara kita merawat kebudayaan. Budaya ini tidak hanya menjadi tontonan tetapi juga nilai tambah. Upaya dari masyarakat kampung jawi saja belum cukup untuk membawa budaya ini dikenal lebih luas, menurut Agung, perlu ada atensi dan dukungan yang pasti dari pemerintah, salah satunya lewat anggaran. 

“Seperti di reses kemarin di Kampung Jawi, kami mengundang dan mengumpulkan Pokdarwis-Pokdarwis (kelompok masyarakat sadar wisata), mengundang kepala dinas pariwisata untuk hadir dan mendengar langsung dari para pelaku pokdarwis , sejauh ini belum ada intervensi kebijakan dalam konteks politik anggaran di pemerintah provinsi, yang ada sekarang  adalah program untuk desa wisata, padahal ada 6 kota di Jateng yang tidak ada desanya. Memang kebijakan tidak melulu soal anggaran, tapi disinilah salah satu pemerintah punya atensi.” tegas Agung. 

Selanjutnya, Agung menjelaskan melalui Kampung Jawi ini kita berupaya melestarikan budaya, sehingga akar budaya itu tidak hilang, dan kita kehilangan jati diri bangsa kita, termasuk identitas kota Semarang. kemudian, bagaimana memperkenalkan budaya ke luar? Agung menjelaskan,  adanya dukungan penuh dari pemerinta melalui perda tentang ekonomi kreatif, serat mengemas kebudayaan tersebut dengan kemasan yang sesuai kondisi zaman, namun tidak menanggalkan nilai-nilai luhur budaya tersebut. 

“Ada perda tentang ekonomi kreatif, semua bersentuhan dengan nilai budaya. Artinya kita sekarang butuh kemasan yang lebih menarik. Nilainya sesuai dengan akar budaya kita, namun kemasan bisa disesuaikan dengan kondisi kekinian.” Pungkas Agung. 

Kegiatan ini ditutup dengan pentas Ketoprak Humor, yang dibawakan oleh para pegiat seni asli dari Kampung Jawi, Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang dengan tema ““Wiraguna Kewirangan”. Bercerita tentang Wiraguna,  salah satu tumenggung yang mendapat kepercayaan untuk menaklukkan kadipaten Pati, di bawah kekuasaan Adipati Warisjotyo Kusumo. Namun Wiraguna tidak konsisten atau tidak menjalankan tugas dengan baik yaitu lupa daratan. Karena putri boyongan yang seharusnya dipersembahkan pada raja mataram malah akan diperistri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *