Optimalkan Digitalisasi guna Dongkrak Pariwisata Daerah

by
DISKUSI PARLEMEN. Ketua DPRD Jateng menjadi narasumber dalam diskusi parlemen mengangkat desa wisata berbasis digital di Balkondes, Kabupaten Magelang.(Foto: Set DPRD)

​​​MUNGKID, Jatengkita.id – Wisata alternatif akhir-akhir ini sangat digemari oleh masyarakat di Indonesia, karena konsepnya kembali ke alam dan belajar budaya lokal. Di era digitalisasi sekarang ini, masyarakat termudahkan dalam mengakses informasi termasuk dalam soal pariwisata. Sebaliknya orang, kelompok atau siapa pun bisa mudah memperkenalkan dirinya atau lingkungan kepala khalayak secara cepat dan mudah lewat digitalisasi. Karena itulah, optimalisasi desa wisata berbasis Digital sangat bagus untuk menunjang perekonomian kerakyatan.

Hal tersebut menjadi pokok pembahasan pada “Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah”, Sabtu (17/11/2018). Acara yang disiarkan langsung oleh Radio MNC Trijaya 89.8 FM, berlokasi di di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Candirejo, Kabupaten Magelang. Diskusi mengambil tema “Optimalisasi Desa Wisata Berbasis Digital”. Narasumber utama Ketua DPRD Jateng Dr Rukma Setyabudi, Kepala Desa Candirejo Singgih Mulyanto dan Ketua Semarang MICE Community Solichoel Soekami.

Ketua DPRD Provinsi Jateng Dr Rukma Setyabudi mengungkapkan, peran pemerintah sangat penting untuk perekonomian kerakyatan. Bahkan DPRD pun mendukung sepenuhnya terobosan-terobosan yang dilakukan Pemprov Jateng sepanjang berorientasi untuk kesejahteraan rakyat. Terbukti salah satu upaya bentuk dukungan Dewan adalah mengajukan perda inisiasi yakni desa wisata.

“Perda tersebut merupakan inisitif Kami di Dewan. Hal ini dikarenakan sudah banyak berkembangnya desa-desa wisata di Jawa Tengah. Dengan adanya Perda ini bisa menjadi payung hukum untuk menunjang perekonimian kerakyatan. Selain itu, juga dapat untuk mengembangkan diri dan mengajak peran aktif dari masyarakat di sekitar desa wisata tersebut.”

Rukma ingin desa-desa wisata di Jawa Tengah mendongkrak ekonomi wisata melalui program Incentive Travel (Perjalanan Insentif). Menurutnya, jika dikelola secara profesional, incentive travel merupakan salah satu trik mempercepat laju ekonomi di desa wisata.

“Dengan membuka diri untuk Incentive Travel, program tersebut melibatkan seluruh warga berkontribusi di sektor wisata. Misalnya kuliner hingga hiburan kesenian,” imbuhnya.

Incentive travel bukan merupakan hal yang baru terutama dibidang bisnis. Incentive Travel atau Perjalanan Insentif merupakan suatu perjalanan wisata yang ditawarkan oleh perusahaan bagi para karyawannya dalam rangka sebagai imbalan atas usaha yang telah mereka lakukan dalam mencapai target perusahaan. Kebijakan itu berfungsi untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja sehingga nantinya bisa lebih bersemangat dalam mencapai target. Wujud dari Perjalanan Insentif ini bermacam-macam mulai dari tour ke tempat-tempat wisata ataupun hanya sekedar family gathering.

Senada, Solichoel Soekami juga menilai Incentive Travel merupakan peluang yang strategis bagi desa wisata di Jawa Tengah. Pihaknya pun siap memberikan pendampingan dengan tenaga tersertifikasi bagi desa wisata di berbagai daerah di Jawa Tengah.
“Selama ini Incentive Travel selalu tersedot ke Bali. Ini saatnya Jawa Tengah ambil peran. Banyak desa wisata yang potensial,” tandas Solichoel.

Kepala Desa Candirejo Singgih Mulyanto. Desa wisata berbasis masyarakat ini telah memasuki era digital. Namun esensi kearifan lokal dan keaslian sebuah ‘desa” tidak bisa ditinggalkan.

“Dunia digital dan teknologi mengambil peran penting bagi pengembangan desa wisata. Namun masyarakat tidak boleh kehilangan identitas sebagai orang desa. Tradisi dan kondisi desa itu yang menjadi jualan kami,” ujarnya. (Adv)

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *