Pentingnya Ketahanan Keluarga untuk Wujudkan Peradaban Luhur

Pentingnya Ketahanan Keluarga untuk Wujudkan Peradaban Luhur
Hari Keluarga Nasional diperingati setiap tanggal 29 Juni (Foto : rri.co.id)

Jatengkita.id – Keluarga merupakan unsur terkecil dalam sebuah tatanan sosial yang menjadi salah satu elemen perwujudan peradaban. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat.

Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tahun ini, Pemerintah mengusung tema “Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”. Pembangunan keluarga berkualitas inilah yang coba ingin diupayakan sebagai salah satu dimensi pembangunan sistematis menuju Indonesia Emas 2045.

Sebagai entitas yang sangat mendasar, penting bagi keluarga untuk melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik untuk mewujudkan peradaban yang baik pula. Apabila kondisi ketahanan keluarga tangguh, maka peradaban yang terbangun juga kokoh. Sebaliknya, apabila ketahanan keluarga lemah, maka peradaban yang terbangun pun juga akan mudah rapuh.

Khaldun (1377) menyimpulkan bahwa sebuah  Selain itu, sebuah peradaban juga membutuhkan suatu
pemerintahan atau sistem kekuasaan yang mengatur kehidupan masyarakatnya agar tidak saling
menyerang satu sama lain (Khaldun, 1377).

  1. Dimensi Spiritualitas
    Kaum liberal yang selalu mengatasnamakan hak asasi manusia menjadi salah satu penyebab degradasi peradaban. Mereka menuntut kebebasan individu dan mendukung sekulerisme. Selain itu juga menyebarkan gagasan-gagasan yang justru jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

    Untuk ketahanan, keluarga dalam hal ini berperan untuk penguatan rukhiyah. Penting bagi orangtua untuk menanamkan sejak dini pengetahuan tentang siapa pencipta alam semesta, misalnya. Pengenalan tersebut akan bermuara pada penghambaan Allah SWT.

    (Foto : pinterest)

    Selain itu, keluarga perlu membangun dan meluruskan perspektif tentang orientasi kehidupan. Seseorang akan mudah bertahan menghadapi masalah ketika mereka paham bahwa hal itu semata untuk menguji ketakwaan terhadap Sang Maha Kuasa. Mereka akan menginternalisasikan nilai-nilai ketuhanan dalam menghadapi setiap ujian.

    Menurut Ibnu Khaldun (dalam Riyono, 2022) peradaban akan muncul dan berdiri tegak ketika nilai spiritualnya dominan. Dan akan hancur ketika terjadi materialisme berlebihan.

  2. Dimensi Biologis
    Adanya permasalahan demografi disebabkan oleh masifnya gerakan LGBT dinaikkan ke publik. Mengapa demikian? Karena gerakan ini menekan angka kelahiran. Orientasi seksual manusia diarahkan seperti binatang yang tidak bermoral.

    Mereka bisa menjadi seberani sekarang mengekspresikan diri karena ada dukungan besar dari entitas berkuasa di belakang mereka. Entitas itulah yang mengatur jalannya dunia sekarang menuju era yang tidak beradab.

    (Foto : pinterest)

    Hubungan biologis, dalam hal ini hubungan suami-istri perlu dibingkai dengan ikatan yang sah dan dilandasi aspek rukhiyah yang benar. Keluarga bertanggung jawab untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Misalnya penerapan budaya hidup yang sehat, terhindar dari stunting, sehingga anak tumbuh dengan baik. Orangtua bertanggung jawab untuk membekali anak dengan pendidikan seksual sejak dini agar mereka selalu menjaga kesehatan, memahami konsekuensi, dan menghargai diri sendiri.

  3. Dimensi Psikologis
    Keluarga yang harmonis dan bahagia menjadi salah satu indikator ketahanan. Orangtua bertanggung jawab atas pemenuhan kasih sayang, kenyamanan, dan rasa aman. Nilai-nilai kekeluargaan yang sejak dini ditanamkan pada anak akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan mereka. Keluarga harus bisa menjadi rumah bagi setiap anggotanya yang sedang membutuhkan. Sehingga, mereka merasa ada tempat untuk dituju saat dalam keterpurukan.
    (Foto : pinterest)

    Menurut Seligman (dalam Riyono, 2022) ada tiga jalur kebahagiaan otentik. Pertama adalah kenikmatan yang mengantarkan pada kehidupan yang menyenangkan. Kedua adalah keterikatan pada aktivitas yang mengantarkan pada kehidupan yang baik. Dan yang ketiga adalah pemaknaan hidup untuk sesuatu yang lebih besar daripada individu itu sendiri, yang mengantarkan pada kehidupan yang penuh makna.Menurut Riyono (2022), pemaknaan hidup tersebut berujung pada kebahagiaan yang melahirkan sikap sabar dan syukur. Sabar dalam menghadapi setiap ujian keluarga dan bersyukur atas nikmat yang didapat, seberapapun itu.

  4. Dimensi Sosiologis/Sosial Budaya
    Ketahanan keluarga dapat dibangun melalui adanya pemahaman akan peran masing-masing anggota. Meskipun peran ayah, ibu, dan anak berbeda-beda, namun semuanya saling terkait dan melengkapi.

    Dalam pengasuhan anak, orangtua berperan untuk membentuk kepribadian anak. Kemampuan untuk mengidentifikasi diri sejak dini akan membantu anak memilih lingkungan pertemanan yang membuat dia nyaman secara naluri. Selain itu juga membelajarkan anak untuk mulai membedakan mana yang baik dan buruk.

    (Foto : pinterest)

    Selain dalam lingkup keluarga inti, anak juga diajari bagaimana beradaptasi dan diedukasi tentang pentingnya bersosial dengan masyarakat. Oleh karena itu, mereka dibekali nilai-nilai moral sebagai landasan dalam berinteraksi. Mereka akan belajar arti toleransi, gotong royong, bahkan nasionalisme.

  5. Dimensi Ekonomi
    Banyak sekali kebijakan pemerintah yang tidak berpihak ke masyarakat. Banyaknya pajak yang dibebankan kepada rakyat ditambah subsidi kebutuhan pokok yang terus dipangkas bahkan dihilangkan, sungguh sangat menyengsarakan. Sementara negara hanya mementingkan para oligar yang keuntungannya pun hanya sebagian orang saja yang bisa menikmati.
    (Foto : pinterest)

    Salah satu aspek lain yang erat kaitannya dengan ekonomi adalah pendidikan. Regulasi pemerintah sekarang seolah hanya memfokuskan mereka yang beruang yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Padahal, semua anak harusnya memiliki kesempatan yang sama. Apabila pendidikan dikatakan sebagai kebutuhan tersier, maka itu sudah bentuk mencederai cita-cita nasional yang tercantum dalam UUD 1945. Bukankah mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tujuan bersama yang harus diwujudkan tak hanya oleh pendidik, namun oleh semua elemen?

    Ekonomi erat kaitannya dengan kesejahteraan. Manajemen keuangan dalam mengelola kehidupan rumah tangga akan membantu peran dan fungsi keluarga dengan baik. Menurut Riyono (2022) kemandirian ekonomi penting bagi keluarga agar tidak selalu bergantung pada bantuan sosial.

Dari keseluruhan dimensi di atas, ada hal penting juga yang tidak bisa diabaikan, yaitu regulasi dari pemangku kebijakan. Bila keluarga dikatakan sebagai unsur terkecil untuk membangun negara dan peradaban, maka pemerintah perlu membuat program yang menunjang ketahanan keluarga. Institusi terkecil ini harus mendapat dukungan penuh secara multidimensi untuk menyokong peradaban yang agung.

Pustaka :

Riyono, Bagus. (2022). “Keluarga sebagai Fondasi Peradaban Bangsa : Sebuah Strategi Memanfaatkan Bonus Demografi secara Optimal”. Buletin Psikologi Volume 30 Nomor 1, hlm 59-77

Baca juga : Plantera Fruit Paradise, Wisata Surga Buah Favorit Keluarga

Rekomendasi untuk anda : STUNTING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *