Selayang Pandang Kota Semarang

by

SEJARAH KOTA SEMARANG

Sebagai kota raya dan lbu kota Jawa Tengah, Semarang memiliki sejarah yang panjang. Mulanya dari dataran lumpur, yang kemudian hari berkembang pesat menjadi lingkungan maju dan menampakkan diri sebagai kota yang penting. Sebagai kota besar, ia menyerap banyak pendatang. Mereka ini, kemudian mencari penghidupan dan menetap di Kota Semarang sampai akhir hayatnya. Lalu susul menyusul kehidupan generasi berikutnya.

Di masa dulu, sekitar tahun 1594 ada seseorang dari kesultanan Demak bernama pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang, meninggalkan Demak menuju ke daerah Barat. Disuatu tempat yang kemudian bernama Pulau Tirang, mereka membuka hutan dan mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang. Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II. Di bawah pimpinan Pandan Arang, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dan Pajang.

Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Akhirnya Pandan Arang oleh Sultan Pajang melalui konsultasi dengan Sunan Kalijaga, juga bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1547 masehi dinobatkan menjadi Bupati yang pertama. Pada tanggal itu “secara adat dan politis berdirilah kota Semarang”. Masa pemerintahan Pandan Arang II menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Namun masa itu tidak dapat berlangsung lama karena sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari hidup keduniawian yang melimpah ruah. Ia meninggalkan jabatannya, meninggalkan Kota Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan melewati Salatiga dan Boyolali, akhirnya sampai ke sebuah bukit bernama jabalekat di daerah Klaten. Di daerah ini, beliau menjadi seorang penyiar agama Islam dan menyatukan daerah Jawa Tengah bagian Selatan dan bergelar Sunan Tembayat.

Beliau wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Gunung Jabalkat. Sesudah Bupati Pandan Arang mengundurkan diri lalu diganti oleh Raden Ketib, Pangeran Kanoman atau Pandan Arang (1553-1586), kemudian disusul pengganti berikutnya yaitu Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659), Mas Tumenggung Wongsorejo (1659-1666), Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670), Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674), Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung. Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701), Raden Maotoyudo atau Raden Summmgrat (1743- 1751), Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadmienggolo (1751-1773), Surohadimenggolo IV (1773-?), Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng Terboyo (?), Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841), Putro Surohadimenggolo (1841-1855), Mas Ngabehi Reksonegoro (1855- 1860), RTP Suryokusurno (1860-1887), RTP Reksodirjo (1887-1891), RMTA Purbaningrat (1891-?), Raden Cokrodipuro (?-1927), RM Soebiyono (1897-1927). Selanjutnya RM Amin Suyitno (1927-1942), RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945), R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945), hanya berlangsung satu bulan, M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946, 1949 -1952 yaitu masa Pemerintahan Republik Indonesia) pada waktu Pemerintahan RIS yaitu pemerintahann federal diangkat Bupati RM.Condronegoro hingga tahun 1949. Sesudah pengakuan kedaulatan dari Belanda, jabatan Bupati diserah terimakan kepada M. Sumardjito. Penggantinya adalah R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956). Kedudukannya sebagai Bupati Semarang bukan lagi mengurusi kota melainkan mengurusi kawasan luar kota Semarang. Hal ini terjadi sebagai akibat perkembangnya Semarang sebagai Kota Praja.

SEJARAH KOTA LAMA

Berdasarkan sejarahnya, kota Semarang memiliki suatu kawasan yang ada pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng VIJHOEK. Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : HEEREN STRAAT. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut DE ZUIDER POR. Jalur pengangkutan lewat air sangat penting hal tersebut dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran, dikawasan Pecinan.

Masa itu Hindia Belanda pernah menduduki peringkat kedua sebagai penghasil gula seluruh dunia. Pada waktu itu sedang terjadi tanam paksa (Cultur Stelsel) diseluruh kawasan Hindia Belanda. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan “LITTLE NETHERLAND”. Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa colonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi.

Ditempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Kota Lama Semarang ini adalah daerah yang bersejarah dengan banyaknya bangunan kuno yang dinilai sangat berpotensi untuk dikembangkan di bidang kebudayaan ekonomi serta wilayah konservasi. Pada tahun 1906 dengan Staatblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda dan berakhir pada tahun 1942. Dengan datangnya pemerintahan pendudukan Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang. Dengan dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang dari Indonesia.

PEMERINTAHAN

Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, pemerintahan daerah Kota Semarang belum dapat menjalankan tugasnya karena pendudukan Belanda. Tahun 1946 lnggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda. Ini terjadi pada tanggal l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, Walikota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa yang disebut pertempuran lima hari Semarang. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian diluar kota sampai dengan bulan Desember 1948. Daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta.

Pimpinan pemerintahan berturut- turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti di masa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Pada tanggal 1 April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementrian Dalam Negeri di Yogyakarta. Beliau menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan.

Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut : 1. Mr. Moch.lchsan 2. Mr. Koesoebiyono (1949 – 1 Juli 1951) 3. RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo ( 1 Juli 1951 – 1 Januari 1958) 4. Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat ( 7Januari 1958 – 1 Januari 1960) 5. RM Soebagyono Tjondrokoesoemo ( 1 Januari 1961 – 26 April 1964) 6. Mr. Wuryanto ( 25 April 1964 – 1 September 1966) 7. Letkol. Soeparno ( 1 September 1966 – 6 Maret 1967) 8. Letkol. R.Warsito Soegiarto ( 6 Maret 1967 – 2 Januari 1973) 9. Kolonel Hadijanto ( 2Januari 1973 – 15 Januari 1980) 10. Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH ( 15 Januari 1980 – 19 Januari 1990) 11. Kolonel H.Soetrisno Suharto ( 19 Januari 1990 – 19 Januari 2000) 12. H. Sukawi Sutarip SH. SE ( 19 Januari 2000- Juli 2010 ) 13. Drs. H. Soemarmo H.S, MM ( 19 Juli 2010 – sekarang)

MASA PENJAJAHAN

Dimulai dari Semarang menuju kota Solo dan Kedungjati, Surabaya dan ke Magelang serta Yogyakarta dibangun 2 stasiun kereta api yang masih ada sekarang yaitu Tawang dan Poncol. Sedangkan perusahaan yang mengelola perkeretaapian ini adalah Nederlandsch Indische Spoorwagen (NIS) dengan kantornya di Gedung Lawangsewu. Perkembangan berikutnya pada tahun 1875 Pelabuhan Laut Semarang yang telah ramai dengan berlabuhnya para pedagang, dibangun dalam bentuk dan kapasitasnya agar lebih memadai lagi guna menampung berlabuhnya para pedagang. Seiring dengan perkembangan armada kapal-kapal dagang yang semakin besar, maka pelabuhan Semarang mulai dapat didarati kapal-kapal yang relatif lebih besar dan dalam jumlah yang semakin banyak. Maka semakin banyak pula para pedagang yang datang baik pedagang dari Belanda, Cina, Melayu maupun orang dari Arab.

PASKA KEMERDEKAAN

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan dengan keberhasilan bangsa Indonesia melenyapkan penjajahan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka tahun 1950 Kota Semarang menjadi Kotapraja di Propinsi Jawa Tengah. Irama kehidupan Semarang tak banyak berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Bahkan pada saat negeri ini masih terns menghadapi ujian dan keprihatinan selama 20 tahun setelah kemerdekaan, maka Semarang mengalami situasi dan dalam kondisi yang sama. Pecahnya pemberontakan G.30.S PKI mempakan salah satu upaya memecah sistem kehidupan dan tata negara Indonesia. Semarang juga mengalami masa-masa penuh teror dan traumatis. Setelah berbagai pemberontakan berhasil ditumpas, maka sekarang bertahap masyarakat dan bangsa ini mulai membenahi kehidupannya. Pada tahun 1976 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 16 tahun 1976 wilayah Semarang mengalami pemekaran sampai ke Mijen, Gunungpati dan Tembalang di wilayah Selatan, Genuk di wilayah Timur dan Tugu di wilayah Barat.

Seluruh wilayah Semarang meliputi 273,7 Km2. Dari semula 5 Kecamatan menjadi 9 Kecamatan. Adanya perkembangan dan perluasan wilayah ini maka pertumbuhan kawasan diperhatikan. Pusat-pusat industri, perdagangan, pendidikan, pennukiman, pertahanan keamanan mulai diatur dalam lokasi-lokasi yang tepat dan strategis. Kota bawah cepat berkembang menjadi pusat perdagangan, jasa dan pemerintahan. Wilayah perluasan / pinggiran menjadi pusat pendidikan ditandai dengan dibangunnya Perguruan Tinggi seperti UNTAG, STIKUBANK, STIK, Sekolah Tinggi Pariwisata, Unika Sugijapranata di Bendan, IKIP (UNES) di Gunungpati, UNDIP di Tembalang dan UNISSULA di Genuk.

SEMARANG MASA SEKARANG

 

Pada tahun 1992 wilayah Kota Semarang mengalami penataan. Dengan dasar Peraturan Pemerintah Rl (PP) No. 50/92 tentang penentuan Kecamatan-kecamatan, maka Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan. Dengan penataan ini maka pertumbuhan unsur wilayah semakin maju. Dan relatif merata. Jalan-jalan baru dibuat menghubungkan pusat-pusat kota dengan tempat-tempat yang terisolir. Dalam bidang kesempatan kerja, Semarang terbuka bagi masyarakat sekitar Semarang untuk mencari kerja dan membuka usahanya di sini. Sektor formal dan informal sama-sama berkembang dan saling menunjang. Industri berdatangan baik dan luar negeri maupun dan dalam negeri sendiri.Bergulirnya era reformasi sejak tahun 1998 melahirkan penataan-penataan baru dan dicanangkannya Otonomi Daerah pada tahun 2000. Tepat pada bergulirnya abad baru, millennium baru diharapkan warga Kota Semarang makin maju dan mandiri. Pada saat kota-kota lain dilanda berbagai kerusuhan dan perbuatan perbuatan anarkis seiring mengalirnya gelombang reformasi maka Kota Semarang relatif aman, terkendali dan dalam situasi yang kondusif.

Simpang Lima Kota Semarang.

Perkembangan Kota Semarang sebagai pusat pemerintahan telah terbukti jauh sebelum Kota Semarang menyandang status Ibu Kota Provinsi JawaTengah dan menunjukkan perannya dalam pemerintahan. Di samping itu di Kota Semarang juga terdapat Komando Daerah Militer IV Diponegoro. Dengan demikian predikat Semarang sebagai pusat pemerintahan dan kemiliteran untuk Jawa Tengah semakin mantap. Sejak kedaulatan mencapai kejayaannya Semarang telah diakui sebagai pemerintahan yang berbentuk kotamadya, dan ternyata fungsi ini semakin lama tampak nyata bahkan diikuti dengan perkembangan fungsi – fungsi lain yaitu perhubungan, perdagangan, industry dll. Untuk menunjang perkembangan kegiatan tersebut maka sejak tanggal 19 Juni 1976 Kota Semarang telah diperluas sampai wilayah Mijen. Gunungpati, Genuk, dan tugu. Jumlah kecamatan di Kota Semarang saat ini ada 16 kecamatan dan 177 kelurahan.

Perkembangan Kota Semarang sebagai pusat pemerintahan telah terbukti jauh sebelum Kota Semarang menyandang status Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah dan menunjukkan perannya dalam pemerintahan. Di samping itu di Kota Semarang juga terdapat Komando Daerah Militer IV Diponegoro. Dengan demikian predikat Semarang sebagai pusat pemerintahan dan kemiliteran untuk Jawa Tengah semakin mantap. Sejak kedaulatan mencapai kejayaannya Semarang telah diakui sebagai pemerintahan yang berbentuk kotamadya, dan ternyata fungsi ini semakin lama tampak nyata bahkan diikuti dengan perkembangan fungsi – fungsi lain yaitu perhubungan, perdagangan, industry dll.

Untuk menunjang perkembangan kegiatan tersebut maka sejak tanggal 19 Juni 1976 Kota Semarang telah diperluas sampai wilayah Mijen. Gunungpati, Genuk, dan tugu. Jumlah kecamatan di Kota Semarang saat ini ada 16 kecamatan dan 177 kelurahan, adapun kecamatan tersebut antara lain : 1. Kecamatan Semarang Barat 2. Kecamatan Semarang Timur 3. Kecamatan Semarang Tengah 4. Kecamatan Semarang Utara 5. Kecamatan Semarang Selatan 6. Kecamatan Candisari 7. Kecamatan Gajahmungkur 8. Kecamatan Gayamsari 9. Kecamatan Pedurungan 10. Kecamatan Genuk 11. Kecamatan Tembalang 12. Kecamatan Banyumanik 13. Kecamatan Gunungpati 14. Kecamatan Mijen 15. Kecamatan Ngaliyan 16. Kecamatan Tugu Dalam rangka mengantisipasi pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan, maka Kota Semarang telah membentuk dinas-dinas daerah, lembaga daerah dan perusda. Untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat Pemerintah Kota Semarang berupaya memusatkan semua unit / instansi tersebut di lingkungan komplek Balaikota dengan membangun gedung bertingkat 8 lantai dengan berbagai kelengkapannya.

Pemerintah Kota Semarang juga mengupayakan segala pelayanan kepada masyarakat untuk dipermudah dan bisa dilayani dalam satu atap dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Terpadu (KPT). Oleh karena itu dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah di daerah dan demi terwujudnya keserasian serta keberhasilan pembangunan, Pemerintah Kota Semarang berusaha menciptakan koordinasi kegiatan dengan semua instansi yang ada di jajarannya. Dengan demikian hasil pembangunan Kota Semarang selama ini adalah merupakan keterpaduan program-program antar instansi. Demikian usaha Pemerintah Kota Semarang untuk memantapkan potensi Semarang sebagai Pusat Pemerintahan di Jawa Tengah yang handal

INFRASTRUKTUR di SEMARANG

Dari visi dan misi tersebut ada tiga kata kunci utama yang menjadi dasar bagi pelaksanaan program-program maupun kebijakan Pemerintah Kota Semarang. Tiga kata kunci tersebut adalah, Kota Metropolitan, Religus, Perdagangan dan Jasa. Secara aplikatif, visi tersebut mengandung subtansi pengertian bahwa ke depan dapat terwujud Kota Semarang yang memiliki sarana dan prasarana kota berskala metropolitan, sehingga dapat melayani seluruh aktivitas masyarakat termasuk daerah hiterland-nya, dengan bertumpu pada sektor pedagangan dan jasa, serta tetap memperhatikan keberadaan potensi ekonomi lokal yang senantiasa dijiwai semangat maupun nilai-nilai religiusitas untuk mencapai kesejahteraan.

Untuk menunjang tercapainya visi dan misi Kota Semarang, yang bertitik tumpu pada pemberian pelayanan prima di semua aspek dan bidang, sarana dan prasarana kota telah tersedia dan representatif. Sebagai bagian dari pemberian pelayanan itu pula, Pemerintah Kota Semarang terus menyelenggarakan pembangunan infrastruktur secara berkesinambungan. Beberapa sarana dan prasarana yang tersedia di Kota Semarang ini antara lain:

JALAN. Jalan tol dengan total panjang 24,776 kilometer, meliputi ruas Srondol-Banyumanik (seksi B), Jatingaleh-Krapyak (seksi A), dan Jangli-Kaligawe (seksi C). Kondisi Jalan Tol Semarang sangat spesifi k. Pada seksi A dan B, serta sebagian seksi C terdapat tanjakan dan turunan yang mengakibatkan kendaraan dengan bobot berat mengalami risiko dan tingkat fatalitas pengguna jalan tol sangat tinggi. Pada jalan tol ini terdapat fasilitas seperti rest area dan tempat beribadah. Selain sarana jalan yang sudah tersedia, Pemerintah Kota Semarang juga tengah memperiapkan pembangunan dan pengembangan jalan maupun jembatan lainnya. Seperti, Inner Ring Road Sriwijaya-Veteran, Jalan Abdurrahman Saleh, Jalan tembus Undip-Jangli, Jalan tembus Mangunharjo-Politeknik Undip, Pembangunan jalan: Jalan Pucanggading – Demak – Rowosari, dan Pembangunan jembatan gantung Panjangan.

BANDARA INTERNASIONAL AHMAD YANI Sejak 2004 lalu, Bandar Udara (Bandara) Ahmad Yani naik statusnya menjadi bandara internasional. Peresmian menjadi bandara internasional berlangsung dalam penerbangan perdana Garuda Indonesia ke Singapura bulan Maret 2004. Kondisi saat ini, Bandara Ahmad Yani memiliki landasan utama 2.680 meter x 45 meter dengan jumlah penumpang setiap hari antara 1.600 hingga 2.000. Di bandara tersebut terdapat sejumlah perusahaan penerbangan, antara lain, Garuda Indonesia (Jakarta Soekarno-Hatta International Airport, Singapore), Adam Air (Jakarta Soekarno-Hatta International Airport), Lion Air (Jakarta Soekarno-Hatta International Airport) , Batavia Air (Jakarta Soekarno-Hatta International Airport), Mandala Airlines (Jakarta Soekarno-Hatta International Airport, Surabaya), dan Sriwijaya Air (Jakarta Soekarno-Hatta International Airport, Surabaya) Untuk peningkatan pelayanan, saat ini tengah dilakukan pembangunan dan pembenahan pada bandara tersebut. Proyek pembangunan tersebut adalah, perpanjangan landasan dan pembuatan terminal baru yang lebih besar. Terminal baru ini akan dibangun di sebelah utara terminal lama, seluas 21.500 meter persegi dan mampu menangani dua pesawat ukuran besar dan 8 pesawat ukuran.

TERMINAL BUS Terminal Terboyo, berada di pintu masuk Kota Semarang dari arah utara. Terminal Penggaron di pintu masuk arah timur, Terminal Mangkang pintu masuk arah barat dan sub-Terminal Banyumanik dari arah selatan. Rencananya, Pemerintah Kota Semarang akan membangun lagi terminal di kawasan Semarang bagian atas untuk menggantikan sub Terminal Banyumanik yang fungsi sebenarnya hanyalah sebagai tempat pemberhentian bus. Khusus Terminal Mangkang, sekarang ini sedang dalam tahap pengembangan. Terminal ni memang dibuat untuk mengantisipasi lon jakan kapasitas bus di Terminal Terboyo,yang sudah tidak mampu lagi untuk melayani kebutuhan sarana terminal untuk transportasi dari dan ke Kota Semarang. Terutama untuk wilayah bagian Barat.

STASIUN KERETA API Semarang memiliki dua stasiun kereta api yang masing-masing merupakan terbilang sebagai stasiun tertua di Indonesia dan menjadi tonggak sejarah perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Stasiun Tawang merupakan pengganti Stasiun Tambak Sari milik N.I.S yang pertama. Diremikan oleh Gubernur Jenderal Mr. Baron Sloet van de Beele, bersamaan dengan pembentukan system perangkutan kereta api milik N.I.S pad atanggal 16 Juni 1864. N.I.S melayani jalur Semarang-Yogya-Solo. Selesai pada 10 Pebruari 1870. Berkembangnya kegiatan perdagangan menyebabkan stasiun Tambak Sari tidak memenuhi syarat lagi. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, stasiun ini diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang dan diganti dengan nama Perusahaan Jawata Kereta Api Tawang ( PJKA).

POTENSI WISATA WISATA RELIGIUS. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi untuk pengembangan wisata religious adalah Semarang. Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini memiliki banyak bangunan kuno bernilai historis dan arsitektur tinggi yang layak dikunjungi. Sebagai wilayah pesisir, akulturasi menjadikan Semarang kaya akan referensi tempat-tempat wisata religius. Berikut, tempat wisata religus di Kota Semarang yang layak untuk dikunjungi:

MASJID AGUNG JAWA TENGAH (MAJT). Berlokasi di Jalan Gajah Raya, ditinjau dari segi arsitekturnya sungguh membanggakan dan bangunannya meneladani prinsip gugus model kluster dari Masjid Nabawi di Madinah. Bentuk penampilan arsitekturnya merupakan gubahan baru yang mengambil model dari tradisi masjid para wali dengan membubuhkan corak universal arsitektur Islam pada bangunan pusatnya dengan menonjolkan kubah utama yang dilengkapi dengan minaret runcing menjulang di keempat sisinya. Masjid beserta fasilitas pendukungnya menempati tanah bandha Masjid Agung Semarang seluas 10 ha di Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Masjid itu mampu menampung jamaah lebih-kurang 13.000 orang. Berdasarkan tata ruang, alam bangunan masjid itu terdapat ruang shalat, tempat berwudlu, ruang kantor, ruang kursus dan pelatihan, ruang perpustakaan, ruang akad nikah dan auditorium. Dalam upaya penggalian dana, dalam kompleks masjid juga dilengkapi galeri, pertokoan, ruang-ruang kantor yang disewakan, dan toko suvenir. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

MASJID KAUMAN. Masjid yang terletak di wilayah hiruk-pikuk Pasar Johar ini didirikan oleh ulama besar Semarang berdarah Arab bernama Maulana Ibnu Abdul Salim alias Kiai Pandan Arang. Kisah berbalut mitos sejak awal menyelimuti masjid ini. Misalnya, gara-gara dibangun lebih tinggi daripada Masjid Agung Demak, akhirnya masjid ini terbakar pada 1885 dan harus dibangun ulang. Pembanguan itu atas bantuan Asisten Residen Semarang GI Blume dan Bupati Semarang Raden Tumenggung Cokrodipuro, sementara arsiteknya adalah GA Gambier. Dari tangannya lahir masjid berasitektur atap tiga susun dengan puncak berhiaskan mustaka yang selesai pada 1889.

MASJID MENARA (MASJID LAYUR). Masjid Layur atau lebih dikenal dengan sebutar Masjid Menara Kampung Melayu. Masjid yang berdiri pada 1802 tersebut, dibangun oleh sejumlah saudagar dari Yaman yang bermukim di ibu kota Jawa Tengah ini. Kompleks Masjid Menara dibatasi oleh tembok tinggi, kurang lebih lima meter, yang di tengah-tengahnya memiliki gerbang. Dengan demikian yang keliatan dari luar hanya menara saja yang tinggi. Dinding masjid dihiasi ornament bermotif geometrik, dan berwarna warni. Penambahan menara pada bagian depan masjid menyebabkan masjid juga terkenal dengan nama Masjid Menara. Fungsi menara adalah tempat bilal atau muazin. Fungsi menara sempat berubah sebagai menara pengawas pantai pada masa perang kemerdekaan 1945-1949.

GEREJA BLENDUK (GEREJA IMMANUEL). Gereja yang menjadi salah satu identitas Kota Semarang ini mula-mula dibangun oleh bangsa Portugis, masih dalam bentuk yang sederhana. Kemudian disempurnakan oleh Belanda, yang pada saat itu berkuasa di Indonesia. Dua aristeknya yang bernama HPA de Wilde dan Westmaas, menyempurnakan bangunan dan selesai tahun 1745. Mulai dipakai sebagai tempat kebaktian dengan pendeta pertamanya Johannes Wihelmus Swemmelaar pada tahun 1753. Tidak ada referensi yang jelas mengapa bangsa Portugis mengawali pembuatan gereja itu. Yang jelas, hingga usianya sekarang 258 tahun, gereja Blenduk masih kokoh.

KELENTENG GEDUNG BATU (SAM POO KONG). Kelenteng Gedung Batu atau lebih dikenal dengan Sam Poo Kong, kelenteng ini tidak bisa dilepaskan dari sosok pelaut besar dari negeri Tiongkok, Laksamana Cheng Hoo yang hidup pada zaman kaisar ketiga Dinasti Ming, yaitu Zhu De. Menurut cerita, Laksamana Cheng Hoo sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat di sebuah desa bernama Simongan Di tempat itulah kemudian didirkan sebuah tempat peribadatan, yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Batu atau Sam Poo Kong.

PAGODA AVALOKITESVARA Pagoda ini dibangun sejak Agustus 2005. Rencananya, pembangunan hanya membutuhkan waktu 8 bulan. Namun karena menunggu barang-barang dan patung dari China, penyelesaian bangunan itu menghabiskan waktu 10 bulan. Pembangunan dilatarbelakangi kebutuhan umat akan tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman. Sebelumnya, di lokasi itu sudah berdiri vihara kecil yang didirikan pada 1957. Avalokitesvara Buddhagaya memiliki banyak keistimewaan. Mulai dari genteng, aksesori, relief tangga dari batu (9 naga), kolam naga, lampu naga, air mancur naga, hingga patung burung hong dan kilin, seluruhnya diimpor dari China. Pagoda itu terdiri atas tujuh tingkat. Tiap tingkat memiliki 4 buah patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru.

TEMPAT REKREASI GOA KREO. Terletak di Dukuh Talun Kacang, Kecamatan Gunungpati, objek wisata ini termasuk objek wisata alam di mana menyuguhkan panorama alam yang sangat menarik. Di tempat ini terdapat sebuah gua, yang juga dihuni oleh sejumlah kera. Kerakera ini sangat jinak, sehingga para pengunjung objek wisata tersebut, dapat bercengkerama atau bercanda dengan kera lucu tersebut.

TAMAN LELE. Objek wisata ini dulu dikenal dengan nama Taman Lele. Di tempat ini terdapat danau buatan yang dikelilingi gazebo, sepeda air, kolam renang untuk anak, permainan anak, dan beberapa satwa peliharaan, eperti ular phyton, buaya dan berbagai jenis burung. Tempat ini cocok untuk untuk persinggahan bagi mererka yang berkunjung ke Semarang melalui jalan darat atau jalur pantura (Semarang-Jakarta, mengingat lokasinya yang persis berada di jalur tersebut. Di tempat itu juga dilengkapi dengan hotel 10 kamar dengan fasilitas AC, TV dengan harga terjangkau.

SIMPANG LIMA Sebagai pusat Kota Semarang Simpanglima dapat dikatakan sebagai pusat keramaian, ini terlihat karena seputar Simpang Lima terdapat pusat perbelanjaaan seperti Citra Land, Simpanglima Plaza, Gajahmada Plaza, Pusat Pertokoan Simpanglima dan Hotel berbintang yaitu Hotel Ciputra dan Horison. Selain pusat perbelanjaan juga terdapat tempat ibadah yaitu Masjid Baiturahman. Lapangan Simpanglima selain untuk upacara dan pertunjukan juga sebagai tempat rekreasi. Pada malam hari Simpanglima banyak dikunjungi masyarakat untuk bersantai manikmati suasana malam hari sambil merasakan aneka makanan dan minuman yang terjual di tempat tersebut.

PECINAN Kawasan pecinan memiliki pasar yang unik dibanding pasar-pasar lainnya. Meski tidak begitu besar, pasar ini terbilang komplet. Di pasar gang baru menjadi pusat alkuturasi antaretnis. Para pedagang berbaur dari etnis Jawa dan China. Di kawasan tersebut, terdapat deretan warung kaki lima bernuansa oriental yang sangat kental. Dikenal dengan nama Warung Semawis yang buka setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 17.00 sampai dinihari.

KEBUN BINATANG WONOSARI Berdasarkan sejarahnya, kota Semarang memiliki suatu kawasan yang ada pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijhoek. Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : Hereen Straat. Saat ini bernama Jalan Letjen Soeprapto.Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut De Zuider Por.

KOTA LAMA Jalur pengangkutan lewat air sangat penting hal tersebut dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran, dikawasan Pecinan. Masa itu Hindia Belanda pernah menduduki peringkat kedua sebagai penghasil gula seluruh dunia. Pada waktu itu sedang terjadi tanam paksa( Cultur Stelsel ) diseluruh kawasan Hindia Belanda. Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa colonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Di antaranya, Jembatan Berok, Gedung Susteran Gedangan, Nilmij, Gereja Blenduk, Nederlands Handel Maatschappij, Taman Sri Gunting, Marba, Stasiun Tawang, Marabunta, dan De Spiegel. Kota Lama Semarang ini adalah daerah yang bersejarah dengan banyaknya bangunan kuno yang dinilai sangat berpotensi untuk dikembangkan dibidang kebudayaan ekonomi serta wilayah konservasi

SENI BUDAYA SEMARANG

Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, batik semarangan pernah mencapai zaman kejayaan karena dipakai semua kalangan, bangsawan maupun rakyat jelata. Namun, konon kejayaan itu berakhir menyusul meletusnya Gunung Ungaran akhir abad ke- 19. Setelah itu batik semarangan tak banyak lagi dipakai sebagai busana khas.

BATIK SEMARANGAN Motif batik semarangan mulai disibak lagi tahun 1980-an. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam dengan ornament lebih mengarah bentuk tumbuhan. Dominasi warna cokelat dan gelap menampilkan kesan agung. Batik semarangan mengacu pada unsure alam, sebagaimana cara
Selayang Pandang Kota Semarang Tahun 2012 pembatik tempo dulu mengerjakan batik jenis ini. Unsur alam ini terutama ditekankan pada bahan pewarnanya yang hampir semuanya berasal dari alam. Misalnya untuk warna kuning dan hijau menggunakan buah jelawe. Untuk menghidupkan kembali batik semarangan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang menyiapkan revitalisasi Kampung Batik yang terletak di Kelurahan Mlatibaru, Kecamatan Semarang Timur
Selayang Pandang Kota Semarang Tahun 2012

DUGDERAN. Sejarah diselenggarakannya tradisi dugderan bermula dari kerapnya perbedaan pendapat dalam menentukan hari dimulainya bulan Puasa. Pada tahun 1881 Pemerintah Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat. Memberanikan diri menentukan awal puasa, yaitu dengan membunyikan Bedug Masjid Agung dan meriam di halaman kabupaten masingmasing sebanyak tiga kali. Adanya upacara tersebut makin lama makin menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, sehingga menarik minat sejumlah pedagang dari berbagai daerah yang menjual bermacam-macam makanan, minuman dan mainan anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat (gerabah), mainan dari bambu (seruling, gangsingan), serta mainan dari kertas berupa hewan berkaki empat dengan kepala mirip naga. Mainan ini dikenal dengan nama warak ngendog. Pada perkembangan selanjutnya, warak ngendog menjadi ikon dari tradsi dugderan.

SEMARANG NIGHT CARNIVAL (SNC). Merupakan ajang karnaval pertama di Indonesia yang digelar malam hari. Pada awalnya Semarang Night Carnival dilaksanakan pertama pada tahun 2011 merupakan salah satu agenda perayaan HUT Kota Semarang yang kemudian dijadikan agenda tahunan. Semarang Night Carnival diikuti sekitar 1.500 peserta yang mengenakan kostum beraneka macam seperti flora, fauna, tradisi, hingga corak Jawa, Cina, Arab, dan Belanda. Hal itu sesuai dengan karakter Kota Semarang sebagai kota pesisir yang banyak berakulturasi dengan budaya luar. Di antara rombongan ada Warak Ngendok dan replika Kapal Cheng Ho, Tari Gambang Semarang, marching band juga rombongan alat musik perkusi dan rebana. Parade seni dan budaya yang gemerlap itu ditutup dengan kemeriahan pesta kembang api.

KHAZANAH KULINER. Berikut, makanan-makanan khas yang mewarnai khazanah kuliner Kota Semarang.

1. Lumpia : Makanan ini terbuat dari rebung yang dibungkus dengan lembaran tepung, bisa disajikan dengan digoreng terlebih dahulu atau tanpa digoreng.

2. Ganjel Ril : Roti berwarna coklat di atasnya dilapisi wijen rasanya manis. Merupakan makanan khas yang popular dimasa lalu dinamakan ganjel Ril karena bentuknya yang besar dan bantat, menyerupai kayu pengganjal rel kereta api. Makanan ini dapat diperoleh di toko Roti Selina (Jalan KH. Wahid Hasyim).

3. Tahu Pong : Tahu pong merupakan satu jenis tahu yang bagian luarnya digoreng kering dan bagian dalamnya berongga (kopong). Makanan yang nikmat disantap pada saat panas ini dapat diperoleh di sekitar Jalan Gajah Mada dan Jalan Depok.

4. Wingko Babat : Penganan kecil ini sebenarnya bukan asli dari Kota Semarang, melainkan dari Kota Babat, Jawa Timur. Namun, karena di Kota Semarang ini banyak dijumpai pembuat maupun penjual wingko babat, belakangan membuat makanan ini menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang. Wingko babat terbuat dari bahan kelapa dan beras ketan.

5. Wedang Tahu : Adalah sejenis minuman yang terbuat dari rebusan jahe. Dihidangkan bersama tahu bertekstur sangat halus dan diberi campuran saus gula untuk menambah cita rasa. Minuman ini dijual kelilingan oleh sejumlah pedagang. Pedagang wedang tahu biasanya berkeliling di kawasan Pecinan, Jalan Karimata, Jalan Depok, dan Jalan Tanjung.

6. Bandeng Presto : Adalah ikan bandeng yang dimasak dengan panic bertekanan tinggi biasanya disebut presto. Cara ini dilakukan untuk membuat duri ikan bandeng menjadi lunak sehingga enak untuk dimakan.

(**) SEMARGRES Sesuai visi terwujudnya Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa yang berbudaya menuju masyarakat yang sejahtera, maka berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Semarang sebagai kota dagang dilakukan dengan membangun dan mengembalikan kembali “imej” kota Semarang sebagai “ sentral bisnis regional”. Oleh karena itu, bersama kalangan pengusaha yang dimotori Kukrit Suryo Wicaksono, Suara dari Merdeka dan Kadin, Walikota Semarang mencoba melakukan pola marketing terobosan yang cerdas dengan menggelar Semarang Great Sale (Semargres ) pada tahun 2010 yaitu menggelar Semarang Great Sale (SemarGres) 2010 yang kemudian menjadi agenda diskon tahunan. Ajakan Walikota Soemarmo kepada kalangan pelaku usaha di Kota Semarang, baik itu pengusaha retail, perhotelan, mall , tempat hiburan, tempat wisata bahkan PKL dan UKM untuk memberikan diskon serentak selama satu bulan penuh 1 s/d 31 Desember untuk berpartisipasi dalam Semargres , direspon dengan positif disbanding great sale kota lain, gelaran Semargres berbeda karena melibatkan sektor UKM. Sebagai pelaku ekonomi bermodal kecil, UKM perlu didorong supaya mereka mempunyai kemampuan bersaing. Sektor yang mempu menciptakan dan menyerap banyak tenaga kerja ini memang menjadi perhatian Walikota Soemarmo sebagai pelaksanaan program kesatu Sapta Program yaitu penanganan pengangguran dirinya yakin kalau UKM diberikan kesempatan dan difasilitasi melalui event semacam ini, maka mempunyai daya saing yang mampu menggerakkan perekonomian lebih cepat. Kota Semarang dipercaya menjadi tuan rumah pada acara berskala internasional para pejabat setingkat menteri ASEAN, Pertemuan Ke 9 SOCA (Senior Offi cials Committee for the ASCC) dan Ke 6 ASCC (ASEAN Socio Cultural Committee). Pertemuan yang dihadiri oleh para pejabat setingkat Menteri dan Wakil Menteri negara-negara anggota ASEAN ini di diselenggarakan di Kota Semarang pada tanggal 7 sampai dengan 11 Oktober 2011 dengan bertempat di Gumaya Tower Hotel. Pertemuan ini membahas isu-isu pilar sosial budaya di kawasan ASEAN.

EVEN INTERNASIONAL

Keberhasilan penyelenggaraan even internasional ini tentunya sangat membanggakan dan menjadi sebuah kehormatan besar bagi seluruh lapisan masyarakat Kota Semarang. Even ini sekaligus sebagai ajang promosi potensi Kota Semarang di bidang pariwisata, perhotelan, mal, hiburan dan perdagangan. Terkait hal tersebut, Kota Semarang dengan melibatkan seluruh stakeholder telah berupaya yang terbaik guna mensukseskan kegiatan pertemuan ini.

PRESTASI DAN PENGHARGAAN. Sejak dilantik pada tanggal 19 Juli 2010, Walikota dan Wakil Walikota Semarang didukung seluruh jajaran Pemerintah Kota Semarang telah menerima sejumlah penghargaan yaitu:

1. Menerima penghargaan Gatra Award sebagai kepala daerah yang sukses memajukan daerah,

2. Menerima penghargaan dari Kementrian PU sebagai Pemerintah Daerah Terbaik dalam bidang Penyediaan Fasilitas dan Infrastruktur Jalan dan Jembatan,

3. Menerima penghargaan Bakti Koperasi dan UKM dari Presiden RI,

4. Menerima penghargaan Wahana Tata Nugraha dari Kementrian Perhubungan

5. Menerima penghargaan APKLI Award kategori Penataan PKL,

6. Menerima penghargaan Peringkat II Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EKPPD) dalam Pelayanan Publik.

7. Menerima penghargaan Lomba Kelurahan Tingkat Nasional Tahun 2011 untuk Kel. Palebon

8. Peringkat II Nasional di bidang Peningkatan Kinerja Pekerjaan Umum (PKPU) untuk kategori Kota Metropolitan dari Menteri PU RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *