Psikologi Komentar

by
komentar di sosial media

Jika anda Ibu, bayangkan ketika anda dilarang berkomentar pada anak anda, apapun, seminggu saja..
Begitupun bagi anda seorang Ayah terhadap anak. Biarkan mereka tanpa komentar anda sama sekali, nyamankah anda?

Atau jika anda seorang istri, suasana apa yang terjadi di rumah anda jika anda dilarang berkomentar tentang suami anda, tidak lama, sebulan saja :)…
Begitu juga cobalah jika anda suami, kepada istri anda. Bisa membayangkan?

Comment dalam Cambridge English Dictionary berarti : an opinion or reaction / something that you say or write that expresses your opinion.

Berkomentar berarti reaksi, atas sesuatu yang kita memiliki opini atasnya. Lalu kenapa kita bisa beropini? Karena paling tidak sebelumnya kita berpikir keras atas hal tersebut, lalu lahirlah opini kita.

Sulit ditutupi bahwa berkomentar merupakan tanda kepedulian, dan dalam kata lain itu adalah tanda cinta kita. Disisi lain, komentar adalah kebutuhan kita berkomunikasi. Seperti ilustrasi diatas anda bisa membayangkan betapa sempitnya kehidupan kita ketika diterapkan larangan berkomentar.

Dikomentari adalah Kebutuhan :p

Ini dari sudut pandang keluar diri kita. Lalu bagaimana dengan kedalam diri kita? Dikomentari sebetulnya adalah kebutuhan, dengan dikomentari berarti kita mendapat respon, dan respon merespon ini sebetulnya adalah kata kunci dari hubungan sosial manusia.

Kalau masih belum terbayang, cobalah simulasikan sehari saja anda menyengaja tidak berkomunikasi, tidak direspon dan merespon di rumah. Anda akan menemukan sebuah kondisi sempit yang mungkin belum pernah anda rasakan.

Masih ingat kisah sahabat Ka’ab bin Malik yang mendapatkan hukuman tidak diajak berkomunikasi karena kelalaiannya sehingga tertinggal dalam perang tabuk? Hingga dalam riwayat ka’ab mengekspresikan kesempitan hatinya “…sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya..” Hingga turun pengampunan Allaah Ta’ala kepadanya dalam at-Taubah 118.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

Dalam riwayat lamanya hukuman itu berlangsung 50 hari, atau 2 bulan kurang sepuluh hari, dan kesempitan Ka’ab sudah tergambar dalam Al-Qur’an. Hukumannya terdengar sederhana, tidak dir

espon oleh lingkungannya 🙂
Selengkapnya kisah Sahabat Ka’ab bin Malik tersebut bisa dibaca di artikel ini

Jadi, komentar itu adalah kebutuhan dalam bersosialisasi. Makanya tidak heran sosial media seperti facebook ini sudah berfikir humanis sejak awal diciptakannya, memikirkan kebutuhan pokok manusia dalam bersosialisasi : disukai dan dikomentari (like & comment).

Pembaca yang baik,

Ijinkan kami melanjutkan sedikit, tentang komentar itu sendiri. Tidak selesai kita menerima bahwa komentar mengomentari itu kebutuhan. Akan tetapi salah respon juga akan berakibat buruk bagi kesehatan mental (walah..).
tapi sebaiknya kita pecah jadi artikel lain saja ya, hehe
..bersambung…

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *