Refleksi Tahun Baru Hijriah; Karakter Pejuang Hijrah

Foto : Unsplash.com

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (q.s. Al Ankabut: 69)

Nasihati dirimu

Sebaik-baik nasihat adalah nasihat dari diri sendiri. #NasehatSehat.

Setelah berhijrah godaan bersliweran. Tantangan datang bergentayangan. Rintangan hadir berjumpalitan. Rayuan mampir melenakan. Cobaan berat menjemukan. Jebakan asyik melalaikan. Gangguan syirik wal klenik yang merusak keimanan. Iming-iming cantik menggiurkan. Hambatan dahsyat yang menggelisahkan. Kamu kudu kuat. Inilah ujian. Berat. Mohon bersabar. Lipatkan kesabaran.

Untuk menjaga hidayah kita mesti berjuang bersungguh-sungguh alias mujahadah, all out, tumplek bleg, powerful, totalitas.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (q.s. Al Ankabut: 69)

Kantuk dan tidur adalah yang melalaikan itu suatu keniscayaan, akan tetapi jadikan dirimu orang yang tidak banyak tidur. (Ibnul Qoyyim, al Fawaaid).

Karena, “Tidur itu tidak akan memperpanjang umur, dan berjaga pun tidak akan memperpendek umur” (Aidh Al Qarniy).

Sedangkan jika, “Kemalasan bertemu padu dengan kelemahan maka hasilnya adalah kemiskinan.” (Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Sebagaimana dalam ayat Al Ankabut 69, Allah Azza wa Jalla akan memberikan balasan berlipat ganda, “sungguh, benar-benar akan Kami tunjukan jalan-jalan hidayah Kami.” Bagi siapa? Bagi orang yang “bersungguh-sungguh berjihad di jalan Kami.”

Kesimpulannya, “Jika seorang benar-benar jujur niatnya kepada Allah, maka Allah pun benar-benar akan mengabulkan niat jujurnya orang tersebut.” Kita belajar dari kesadaran Abu Mahjan.

Kesadaran Abu Mahjan

Kadang perlu momentum untuk sadar atau bahkan kita sendiri mesti yang menciptakan momentum kesadaran itu. Itulah mujahadah.

Mujahadah itu seperti Abu Mahjan, seorang prajurit Muslim yang handal namun tertangkap basah sedang minum khamr hingga mabuk dan hialng kesadarannya dalam kecamuk perang Qadisiyah. Kemudian dia diikat kakinya oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Perang terus berkecamuk dengan sengit. Kuda-kuda kaum muslimin berlarian pontang-panting karena dipukul hebat oleh tentara musuh. Di tengah kecamuk perang yang dahsyat itu dia terbangun sadar pengaruh minuman kerasnya. Jiwa keprajuritannya tergugah. Jiwa petarung dia membubung. Semangat juang begitu menjulang. Keimanannya tertantang. “Betapa sedih hati ini, menyaksikan kuda-kuda dihalau keluar dengan batang lembing. Kini aku diikat sehingga tidak dapat maju ke medan tempur.”

Dia pun memohon kepada Ibnah Hafsah, isteri dari sang Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash agar berkenan melepaskan ikatannya itu dengan sebuah  komitmen janji setia bahwa jika dirinya hidup seusai pertempuran, dia akan kembali dan mengikatkan kedua kakinya kembali. Namun jika mati maka, “Kalian akan terbebas dari pertanggung-jawaban mengenai diriku.”

Dilepaskanlah dia dari ikatan dan segeralah dia menyambar kuda milik Sa’ad, Balqa namanya. Karena Sa’ad terluka, komando kepemimpinan diambil alih Khalid bin ‘Arqathah.

Dengan tombaknya, Abu Mahjan menerjang musuh. Dengan pedangnya, Abu Mahjan menewaskan puluhan musuh. “Ini adalah malaikat,” begitu seseorang berseru di tengah kecamuk perang.

Menyaksikan hal tersebut, maka Sa’ad bin Abi Waqqash berucap, “Kesabaran adalah kesabaran Balqa, dan kemenangan diraih Abu Mahjan.”

Setelah pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan musuh, Abu Mahjan kembali ke tempatnya dan mengikat kedua kakinya, untuk melanjutkan hukuman yang harus dijalaninya.

Ibnah Hafsah menanyakan perihal Abu Mahjan kepada suaminya, Sa’ad bin Abi Waqqash. Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan mendera kepada seorang yang membawa kemenangan kepada kaum Muslimin.” Maka Abu Mahjan pun dilepas.

Kepada Sa’ad, Abu Mahjan menceritakan bahwa konsekuensi dia meminum khamr  penuh kesadaran kalau dirinya akan dijatuhi hukuman. Siap dengan hukuman itu. “Hukuman itu akan mensucikanku dari minum khamr,” ucapnya.

Namun dengan dibebaskannya dia dari hukuman membuat kesadaran terdalam dari keimanannya semakin menghunjam kuat, “Maka demi Allah, aku tidak akan minum khamr lagi selamanya.”

Karakter pejuang hijrah

Itulah karakter pejuang sejati. Ketika melakukan kesalahan segera sadar untuk bertaubat dan ketika diberikan pemaafan dan pengampunan dia sambut dengan komitmen iman yang semakin kuat.

Inilah makna hijrah yang sesungguhnya, menanamkan kesadaran iman untuk menyesuaikan diri dengan perintah Tuhan. Hijrah itu bukan  dengan memaksakan keinginan agar Allah senantiasa mengabulkan setiap keinginan.Ya Allah, aku sudah hijrah lho. Benar. Ini lihatlah. Maka kabulkanlah segala keinginanku ya Allah.”

Bukan begitu cara kita memaknai hijrah.

Tidak mesti semua keinginan kita langsung atau otomatis dikabulkan. Sedangkan di sisi lain banyak apa yang menjadi kebutuhan kita sudah Allah berikan, dikabulkan, dianugerahkan, tanpa kita sadari dan rasakan. Bahkan lupa kita syukuri dan seringnya kita lupakan. Astaghfirullah.

Kita menaati Allah untuk meraih ridha dan cinta-Nya. Sehingga jika saatnya sudah tiba dan Allah melihat kita pantas menerima anugerah-Nya, Allah pula yang berkehendak untuk memberikan.

Abu Mahjan mendidikkan kepada kita adab seorang mukmin kepada Allah Yang Maha Agung sekaligus adab kepada aturan yang ditetapkan dalam jamaah kaum Muslimin. Dia tidak berharap kecuali kepada Allah. Dia ridha menjalani hukuman sebagai konsekuensi dari kesalahan yang dia lakukan.

Namun di sisi lain dia tidak mengira akan mendapatkan pembebasan, maka sebagai ungkapan syukurnya dia semakin berkomitmen untuk “tidak meminum khamr untuk selamanya.”

Ditulis Oleh : Solikhin Abu Izzudin, Penulis Buku From Zero to Hero

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *