Film Surau dan Silek : Mengenang Konsep Pendidikan yang (Pernah) Gemilang

by
Film Surau dan Silek tayang serentak di Bioskop 27 April 2017

Kiranya sistem surau sudah lama tak berkembang di nagari (kampung) Minang, apalagi di kota besar. Sudah lama parabola menjamur di pekarangan rumah, menyajikan hal yang lebih menarik bagi anak-anak daripada pendidikan di surau. Hati saya miris.

Tapi cerita kegemilangan kebudayaan itu masih beredar hingga kini. Tak sedikit yang bercita-cita untuk menghidupkan kembali metode pendidikan tersebut. Berbagai seminar dan diskusi digelar. Tulisan ilmiah mungkin ada berpuluh jurnal. Karena konsep surau itu dianggap begitu brilian. Sebab itu tak heran hadir film “Surau dan Silek (Silat)” yang beredar di beberapa bioskop-bioskop saat ini yang mencoba bernostalgia dengan sistem pendidikan surau.

Film Surau dan Silek yang diproduseri Dendy Reynando dan Emil Bias ini mengangkat kisah tiga anak kelas 5 SD (Adil, Dayat dan Kurip) yang bagai ayam kehilangan induk setelah ditinggal merantau oleh sang paman (mamak Rustam) yang juga menjadi guru silat mereka. Tapi tiga anak itu pantang surut. Mereka melakukan aksi yang mereka istilahkan dengan “hubungan lua nagari.” Maksudnya adalah mencari guru silat dari luar kampung sendiri. Dan petualangan ini lah yang menghiasi adegan demi adegan dalam film yang berdurasi satu setengah jam tersebut.

Kalau Anda mempunyai hati yang mudah tersentuh dan selera humor yang bagus, film ini akan membuat perasaan Anda tercampur aduk. Siap-siap saja terasa ada yang berdesakan hendak keluar dari sudut mata Anda saat menyaksikan ketegaran hati Adil yang diceritakan tergolong dalam delapan mustahiq penerima zakat. Dan dijamin Anda tak sekali dua kali tergelak melihat kelucuan dialog dan adegan di film ini. Terutama bila Anda mengerti Bahasa Minang, karena percakapan di film ini menggunakan Bahasa Minang. Adegan yang paling lucu menurut saya adalah ketika ketiga anak itu bertemu perguruan silat “hitam” di sebuah kampung.

Tak banyak bintang terkenal bermain di film ini. Mungkin cuma wajah Gilang Dirga yang tak asing di mata. Selebihnya bintang baru dan asli orang Minang. Makanya logatnya terasa khas. Akan berbeda bila dialog berbahasa Minang dibawakan orang luar. Walau begitu, sang sutradara, Arif Malinmudo sukses mengarahkan gaya dan penghayatan para pendatang baru itu. Akting mereka, oleh penilaian saya yang awam, sudah cukup baik.

Diceritakan juga kisah Kakek Johar, seorang dosen berprestasi, memutuskan kembali pulang setelah berpuluh tahun hidup di rantau. Ia tak mau menjadi “rantau cino”. Maksudnya, merantau tapi tak pernah kembali ke kampung seperti masyarakat Tionghoa. Rupanya sang kakek punya motivasi mulia. Ia ingin agar anak-anak di kampungnya merasakan kembali sistem pendidikan yang dahulu ia kecap.

Bisa ditebak lah, bahwa akhirnya ketiga anak itu menjadi murid Kakek Johar. Mudah-mudahan bukan spoiler bila saya tulis di sini. Namun bagaimana cerita pertemuan dengan Kakek Johar itu begitu amat menarik ditonton. Terlebih lagi setelah mereka mulai berlatih dan mendapatkan jurus baru, bertebaran hikmah dan petuah.

Kakek Johar memperkenalkan “tigo tali sapilin” yang merangkai karakter pemuda Minang: Sholat, Shalawat, dan Silat. Kakek Johar juga mengoreksi motivasi anak-anak itu belajar beladiri. Sejak bertemu kakek Johar, anak-anak itu akrab dengan surau.

Saya merekomendasikan film ini untuk Anda yang rindu kampung halaman, atau bagi Anda yang ingin melihat bagaimana Islam mewarnai sebuah budaya, atau yang ingin melihat pesona keindahan alam Sumatera Barat. Keindahan Ngarai Sianok yang menjadi latar dalam beberapa adegan di film ini benar-benar memanjakan mata. Dan sangat bermanfaat ditonton oleh anak-anak agar mereka belajar budaya serta kisah pantang menyerah yang mengagumkan.

Konsep Pendidikan yang (Pernah) Gemilang

Berbicara konsep pendidikan yang pernah gemilang ternyata dalam pendidikan islam ada sistem pendidikan yang dikenal dengan Kuttab. Kuttab ini sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad -salallah alaihi wassalam-, saat itu Rasulullah sallallah alaihi wassalam memberikan keputusan terhadap tawanan perang Badar supaya mereka menebus dengan harta, namun para tawanan tidak memiliki itu, maka kemudian mereka diperintah untuk mengajarkan 12 anak-anak muslimin sebagai gantinya.

Jadi Kuttab adalah lembaga pendidikan Islam untuk usia dini yang muncul pertama kali di zaman Nabi Muhammad, kemudian menyebar ke berbagai negara seiring dengan penyebaran Islam. Menurut Ahmad Amin, dalam Dhuha al-Islam, sebagaimana dikutip Hasan Asari, “…Pendidikan
[Islam] tidak memiliki periodisasi tertentu. Maka, tidak ditemui [apa yang disebut dengan]
pendidikan dasar atau ibtida’iyah, pendidikan menengah, dan sebagainya. Yang ada adalah satu
periode yang utuh. Pendidikan itu berawal dari kuttab atau dengan bimbingan guru khusus, dan
berakhir dengan halaqah di masjid.”

Kedudukan Lembaga Kuttab Zaman Dahulu

Dalam Sejarah Kuttab menyebutkan bahwa keberadaan Kuttab begitu agung dan mulia di hati masyarakat muslim pada saat itu, karna Kuttab adalah tempat utama di dunia Islam. Tempat untuk mengajari anak-anak, di sana juga diajarkan Adab, ilmu-ilmu islam, mengenal lebih dalam tentang Iman, belajar Al-Qur’an dan pengenalan-pengenalan terhadap Rabnya. Dahulu kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru (mu’allim, mu’addib) atau pekarangan sekitar masjid.

Pada saat itu kaum muslimin memliliki semangat yang tinggi supaya anak-anak bisa belajar Al-Qur’an. sehingga banyak di antar mereka yang terdorong untuk membangun Kuttab-Kuttab. Oleh sebab itu pendidikan Kuttab semakin berkembang pesat.

Selamat menonton Film Surau dan Silek!

oleh : ZicoAlviandri ~ dengan berbagai tambahan

About Author: rakamsi

Gravatar Image
bermanfaat, atau hilang tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *