Mantan Cewek Tomboy Ini Sekarang Menjadi Aktivis Perempuan

by

Semarang, jatengkita.id_ menjadi seorang ibu rumah tangga dengan 8 orang putra dan putri bukanlah pekerjaan mudah yang bisa dipandang sebelah mata. Membesarkan 8 amanah dari Allah merupakan tugas besar orangtua. Itulah yang disadari benar oleh Ibu Sumartini Dwi Fatmasari yang akrab disapa Titien/Titien SDF.

Ibu tangguh yang selalu ceria ini dulunya adalah cewek tomboy sampai beliau berkenalan dengan majlis taklim di kampusnya. Selain menjadi ibu rumah tangga dengan segala aktivitasnya, beliau juga aktif di masyarakat dan menjadi da’iyah. Beliau pun sangat piawai bermain kata membuat puisi dan menulis banyak artikel untuk dibagikan di media sosial maupun dimuat dalam berbagai media.

Berikut wawancara oleh tim Jatengkita bersama ibu Titien SDF. Selamat terinspirasi!

Bagaimana aktivitas Anda sehari-hari?

Aktivitas saya biasa-biasa saja. Sebagai ibu rumah tangga, bangun tidur, ibadah, habis subuh ya nyiapin sarapan dan segala sesuatu buat anak-anak dan suami yang mau sekolah/kerja. Lanjut beres-beres rumah, mencuci, masak (biasanya belanja sekalian anter anak sekolah). Habis dhuha, kalo ngnggak kegiatan PKK ya pos PAUD. Kadang ada agenda posayaandu atau mendampingi Bu bidan ngisi kelas ibu hamil. Biasanya sampai dhuhur atau jam satu-an saya usahakan ada di rumah. Jadi saat bungsu pulang sekolah ada uminya, cerita-cerita sebentar lalu berlanjut agenda lain, ikut kajian/ngisi kajian sampai maghrib. Selebihnya waktu buat keluarga di rumah, kecuali pas waktu-waktu tertentu (musrenbangdes, misalnya, atau rapat dengan perangkat biasanya malam hari)

Bagaimana anda ‘berkenalan’ dengan dakwah hingga sekarang menjadi seorang da’iyah

Awalnya saya dulu termasuk cewek tomboy. Masuk kuliah tahun 1989 harus kost dan kebetulan kost bareng anak-anak Politek. Di masjid politek ada kajian umum keislaman, kadang ikut mahasiswa Politek daripada boring di kost-an sendirian. Dari situ mulai nyadar buat belajar islam lebih dalam (maklum, ibu saya dulu katolik tulen, baru masuk islam sesudah nikah, itupun nggak dapet transfer ilmu keislaman dari bapak).

Semester awal sekitar tahun 1990 mulai ikut tarbiyah yang intens, pake jilbab dll. Di sini tantangannya mulai muncul, sempat nggak boleh ikut ujian kelulusan gara-gara bandel nggak mau lepas jilbab (aturan kampus keperawatan waktu itu, harus pake sanggul). Alhamdulillah akhirnya dapat kemudahan dari menkes untuk ikut ujian susulan dan lulus).

Selebihnya, tinggal berusaha istiqomah saja, alhamdulillah Allah pertemukan saya dengan aktivis dakwah sebagai jodoh saya, sehingga kita bisa saling menguatkan.

Bagaimana Anda menyeimbangkan antara waktu untuk keluarga, Dakwah dan aktivitas lainnya?

Sudah saya ceritakan di awal kan, saya belum pernah punya khodimat (pembantu_red), jadi sejak awal sampai anak-anak sebesar sekarang, hampir semua pekerjaan rumah masih tertangani dengan baik. Alhamdulillah, anak-anak juga lumayan dekat dan suka curhat sama uminya, walaupun kadang-kadang mereka protes juga karena merasa sering ditinggal-tinggal. Sepekan sekali saya ngisi kajian rutin di Demak, di lain waktu juga ngisi taklim dan kajian umum di Mranggen.

Bagaimana Anda memahamkan dan mensinergikan peran dakwah Anda kepada keluarga?

Alhamdulillah anak-anak sering saya ajak ikut kajian (waktu mereka kecil). Tak jarang saya mengundang teman-teman mereka untuk rujakan bareng, ngobrol-ngobrol, bantuin mereka ngerjain tugas-tugas yang angak susah. Kedekatan kami dengan teman-teman mereka membuat mereka nggak merasa kalau dunia dakwah memonopoli ortu mereka. Yang kuliah pun akhirnya juga suka organisasi dan kegiatan tarbiyah.

Berpose bersama kader posyandu

Bagaimana peran Anda di masyarakat? Apa yang sudah dihasilkan?

Sebagai Bunda PAUD desa, saya juga membawahi 3 Pos PAUD yang dikelola desa. Sebagai ketua pokjanal posyandu, saya bersama 6 bidan desa mengelola 42 posyandu.
Pindah ke rumah yang sekarang sejak tahun 1995. Waktu itu masih pasif di masyarakat, ikut kajian juga harus ke Semarang. 1999 bersama teman-teman mulai ngadakan kajian di Pucang Gading, ngadain baksos. Setelah itu tahun 2001 bareng-bareng bikin TKIT, membuat yayasan Izzatul Muslimah yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan sosial, dan buletin untuk syiar ke masyarakat. Lalu tahun 2003 mendirikan SDIT.

Tahun 2012, mulai bergerak di luar Pucang Gading. Kebetulan sering dimintai tolong Disperindag Demak untuk ngisi pelatihan ketrampilan di desa-desa, kebetulan pas jadi ketua Bidang Perempuan DPD PKS juga, jadi saya manfaatkan sekalian untuk buat pos WK (Pos Wanita Keadilan) di desa-desa yang pernah saya kasih pelatihan.

Di lingkungan sendiri, saya dan suami sering diminta ngisi kajian/yasinan/taklim dan jadi rujukan untuk membantu menyelesaikan masalah warga.

Tahun 2014, saya menggantikan tugas bu lurah sebagai ketua PKK desa Batursari karena beliau meninggal dunia saat melahirkan. Alhamdulillah, PKK kami banyak kegiatan, kalau dulu hanya ada arisan sebulan sekali, sekarang ada kajian ketahanan keluarga, penyuluhan hukum dan politik, pendidikan anak dan remaja, pelatihan ketrampilan, pembinaan kader pos PAUD, pembinaan posyandu, penyuluhan kesehatan, kelas ibu hamil, gerakan penghijauan, dll

Bagaimana pendapat Anda dengan pendidikan anak?

Pendidikan anak harusnya dimulai sejak awal konsepsi, dengan memilih calon ayah yang baik dan sholeh, membiasakan diri dengan adab-adab islami walaupun anak masih berada dalam kandungan. Setelah anak lahir, pendidikan selanjutnya disesuaikan dengan fitrahnya (sesuai usia dan jenis kelamin dan sesuai kebutuhan).

Yang pertama dikenalkan pada anak adalah adanya Allah dan Rasul, mengajarkan dan membiasakannya untuk menyukai apa-apa yang disukai Allah dan Rasul dengan cara yang menyenangkan mereka, bukan dengan hukuman dan menakut-nakuti. Pada dasarnya anak kecil adalah peniru ulung, dan ayah bunda adalah obyek pertama yang akan mereka tirukan, maka jadilah ayah bunda yang berperilaku dan bertutur baik. Jangan mudah marah atau panik, apapun yang terjadi, anak kecil akan merekam dengan cepat apa yang mereka lihat. Banyakin istighfar dan berdzikir.

Sebelum mengajarkan calistung (baca, tulis, hitung), sebaiknya ajarkan dulu adab dan mengaji. Jangan terburu-buru. Sesungguhnya calistung itu mudah dipelajari oleh anak usia 7 tahun ke atas. Jangan dibalik ya. Banyak ortu sekarang mengajarkan calistung dan bahasa pada anak mereka di usia yang sangat dini (3 atau 4 tahun), tapi tidak mengajarkan adab. Mereka baru diajarkan adab setelah masuk SD, ini sebenarnya terlambat.

Di banyak kejadian, banyak ortu yang menganggap setelah anak sekolah maka pendidikan anak menjadi tanggungjawab sekolah dan gurunya, begitu juga dengan anak-anak yang mondok, dianggap sudah menjadi tanggungjawab pondok dan pengasuhnya. Alhasil ketika ada perilaku buruk/menyimpang dari anak, mereka pun menyalahkan pihak sekolah/pondok. Ini sangat keliru, karena tanggungjawab pendidikan anak yang utama di tangan ortu. Kewajiban ortu untuk memantau perkembangan pendidikan anak selama di rumah maupun di sekolah/pondok, jangan putus komunikasi dengan pihak sekolah/pondok. Jadilah sahabat anak-anak anda, agar setiap kali ada masalah langsung bisa ketahuan dan dapat ditangani lebih cepat dan diselesaikan dengan lebih baik.

Bagaimana pendapat Anda tentang kekerasan yang terjadi pada anak/ anak sebagai pelakunya seperti yang terjadi akhir-akhir ini?

Kekerasan pada anak (sebagai obyek ataupun subyek) sebenarnya selalu didasari oleh kurangnya ketahanan keluarga. Misal, ortu ada trauma masa lalu/ salah asuhan sehingga mengadopsi pola pengasuhan yang sama. Atau, bisa juga adanya ketidakharmonisan suami istri yang kemudian dilampiaskan kepada anak, dan anak mengadopsi perlakuan ortunya untuk dilampiaskan kepada orang lain. Kekerasan yang dilakukan anak kepada orang lain, bisa jadi merupakan sarana protes atau pembuktian diri agar diakui sebagai sosok yang disegani/ditakuti.

Bagaimana pendapat Anda tentang kiprah perempuan di masyarakat?

Perempuan punya kewajiban yang sama dalam perbaikan masyarakat. Tentu saja, karena kan dunia ini diisi laki-laki dan perempuan, terlepas ada yang menderita penyimpangan seksual ataupun tidak, secara fisiologis, Allah hanya menciptakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Kebutuhan dan karakter laki-laki dan perempuan tidaklah sama, hanya perempuan yang tahu pasti kebutuhan dan apa yang diinginkan perempuan. Jadi yang bisa merubah mindset perempuan ya pasti perempuan, walaupun andil laki-laki mesti juga ada. Anda lihat bagaimana pekerja perempuan dihargai di bawah standar pekerja laki-laki? Belum lagi hak-hak cutinya sering tidak diberikan. Juga pelecehan seksual di mana-mana, tidak peduli itu anak-anak, pelajar, perempuan dewasa, atau bahkan nenek-nenek sekalipun. Kalau bukan perempuan yang memperjuangkan mereka, siapa lagi? Artinya, perempuan perlu berkiprah di masayaarakat untuk memperjuangkan kebutuhannya dan haknya sebagai perempuan, sebagai ibu dan istri, juga sebagai warga masayaarakat dan negara.

Bagaimana perempuan bisa menjadi bagian dari penentu kebijakan

Perempuan perlu terjun dalam dunia politik. Tanpa terjun dalam dunia politik, mustahil perempuan dapat memperjuangkan hak-hak nya.

Bagaimana tanggapan Anda tentang kasus kriminal yang dilakukan oleh remaja

Banyak kasus kriminal yang dilakukan oleh remaja. Beberapa waktu yang lalu remaja membunuh sopir taksi online karena juga ada anak remaja yang membunuh seorang perempuan disertai pelecehan seksual (ingat mayat perempuan yang ditemukan dengan gagang pacul nancep di kemaluannya), atau pelajar putri yang melahirkan lalu membunuh bayinya sendiri dengan gunting. Sebenarnya masih banyak lagi yang serupa itu yah, benar-benar miris.

Kenapa mereka bisa seperti itu? Banyak faktor sih.

  1. Pendidikan sekolah sekarang lebih didominasi teknologi dan angka-angka, sedang moral dan agama hanya mendapatkan porsi yang sedikit. Anak-anak lebih takut pada orang ketimbang pada Tuhan.
  2. Anak-anak itu mungkin juga kurang pendampingan orang tua, ayah dan bundanya sama2 sibuk bekerja, sampai di rumah sibuk dengan dirinya sendiri sehingga anak mencari perhatian dari orang lain yang dia anggap bisa memahami dirinya. Atau bisa juga karena tumbuh dalam keluarga broken home.
  3. Tontonan yang menjadi tuntunan. Kita lihat acara-acara TV didominasi pola konsumtif, hedonis, pornografis, dan tayangan-tayangan tidak mendidik (drama percintaan, perselingkuhan, pembunuhan, intrik dan sejenisnya)
  4. Kemudahan bermedsos dan gadget canggih. Teknologi memang ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dibutuhkan untuk nenambah wawasan dan ilmu pengetahuan, di sisi yang lain merusak dan dapat membunuh kita pelan-pelan.
  5. Lingkungan yang buruk. Kita bisa lihat di berita, bagaimana di banyak kasus masyarakat main hakim sendiri terhadap orang yang disangka melakukan kejahatan walaupun belum terbukti. Mereka mudah terpancing emosi sampai tega menghilangkan nyawa orang lain di depan umum, bisa jadi banyak anak-anak yang melihat juga dan akhirnya jadi alasan pembenaran untuk menirunya
Ibu Titien bersama suami dan 8 putra-putrinya

Lalu, bagaimana tentang tingginya kasus perceraian di Jateng

Data bulan juni 2017 menunjukkan angka perceraian tertinggi adalah Kabupaten Cilacap disusul Kabupaten Brebes. Dari data tersebut dilihat penyebab utama perceraian adalah masalah ekonomi. Selanjutnya karena perselingkuhan dan pertengkaran terus-menerus.

Perempuan diuji saat suaminya tidak punya apa-apa, sementara laki-laki diuji saat dia punya segalanya.
Sumber utama di sini adalah ekonomi, bila istrinya sabar dan kuat ya masih bisa dipertahankan. Kalau nggak sabar dan nggak kuat, ini yang memicu pertengkaran dan perselingkuhan juga, karena mencari yang lebih mapan secara ekonomi.

Jadi, salah satu kiprah perempuan yang penting adalah juga memberi pelatihan ketrampilan para ibu rumah tangga agar dapat menghemat pengeluaran dan menambah pendapatan keluarga di rumah, tanpa meninggalkan kewajiban mereka sebagai istri bagi dan ibu .

Alhamdulillah, saya masuk dalam kepengurusan BPKK PKS, Jateng. Salah satu produk BPKK di sini adalah RKI. RKI (Rumah Keluarga Indonesia) ini punya banyak program yang sangat bagus untuk keluarga Indonesia, di antaranya adalah pembekalan pra nikah, harmonisasi suami istri, pendidikan anak dan orang tua, sahabat anak dan remaja, pos ekonomi keluarga, konsultasi dan advokasi keluarga, pembinaan lansia dan pendidikan politik bagi perempuan.

Apa harapan besar Anda untuk keluarga Indonesia

Harapan saya untuk keluarga Indonesia adalah, setiap pasangan lebih memperhatikan keluarganya, setiap anak-anak Indonesia tumbuh dalam keluarga yang harmonis, mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup dari ayah bundanya dan memperoleh pendidikan sesuai fitrahnya. Ayah bunda bukan hanya berperan sebagai orang tua dan pemegang kendali ekonomi tapi juga sahabat ananda, teman curhat dan diskusi. anak-anak adalah calon pemimpin masa depan. Anak-anak yang tumbuh dalam pengasuhan yang benar, in syaaa Allah akan bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang baik, adil dan bijaksana. Merekalah yang dibutuhkan untuk membangun negeri ini.

“Ayo gabung RKI”! tambah Ibu Titien sebelum menutup wawancara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *