Jatengkita.id – Perayaan Maulid Nabi menjadi salah satu agenda besar yang membudaya di masyarakat Jawa Tengah. Salah satu tradisi Maulid Nabi yang menarik untuk dibahas adalah Ampyang Maulid di Kudus.
Kegiatan ini diawali dengan kirab gunungan hasil bumi dan makanan tradisional yang dihiasi kerupuk warna-warni khas bernama ampyang serta nasi kepal daun jati. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol sedekah kepada sesama.
Ampyang Maulid tidak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya lokal yang telah mengakar sejak abad ke-16.
Asal-Usul Tradisi Ampyang Maulid
Tradisi Ampyang Maulid memiliki akar sejarah panjang yang bermula pada masa pemerintahan Sultan Hadirin atau dikenal juga sebagai Pangeran Toyib. Ia adalah salah satu tokoh penyebar Islam di wilayah Kudus pada abad ke-16.
Kala itu, masyarakat Loram Kulon mulai memperingati Maulid Nabi dengan cara bersedekah menggunakan hasil bumi yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bahkan di masa sulit seperti penjajahan Belanda, masyarakat tetap mempertahankan semangat berbagi dengan membuat kerupuk sederhana dari ketela, yang diberi pewarna alami dari tumbuhan.
Makanan ini kemudian dikenal sebagai ampyang dan menjadi simbol keikhlasan serta kebersamaan dalam tradisi Maulid Nabi.
Prosesi dan Ciri Khas Tradisi
Gunungan Ampyang menjadi pusat perhatian dalam perayaan ini. Gunungan tersebut merupakan tandu berisi kerupuk ampyang warna-warni, aneka hasil bumi, serta nasi kepal yang dibungkus dengan daun jati. Semua disusun secara estetis dan sakral, menggambarkan rasa syukur atas rezeki yang diterima.
Setelah disiapkan, gunungan diarak dalam sebuah kirab meriah yang melintasi jalan-jalan desa. Kirab ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, perwakilan musala, hingga pelaku UMKM.
Arak-arakan dimulai dari lapangan desa dan berakhir di Masjid Wali At-Taqwa, tempat prosesi doa bersama dilakukan.

Makna dan Tujuan Tradisi
Tradisi Ampyang Maulid tidak hanya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi media edukasi nilai Islam, terutama tentang pentingnya berbagi, bersedekah, dan menjaga kebersamaan.
Setelah kirab, gunungan akan dibongkar dan isinya dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah. Ribuan warga tampak antusias menyambut momen ini, karena dipercaya membawa berkah dan keberkahan bagi keluarga mereka.
Di sisi lain, perayaan ini juga menjadi pemacu ekonomi lokal. Sejumlah produk UMKM dipamerkan melalui kegiatan Loram Expo, yang secara rutin digelar bersamaan dengan tradisi Ampyang Maulid. Hal ini memberikan ruang promosi bagi produk lokal dan memperkuat perekonomian desa.
Simbol Harmoni Islam dan Budaya Lokal
Ampyang Maulid menjadi contoh nyata bagaimana Islam dapat menyatu dengan kearifan lokal tanpa kehilangan esensinya. Melalui budaya yang digemari masyarakat, nilai-nilai Islam diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi ini kini juga telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, menjadikannya tak hanya kebanggaan lokal, tetapi juga nasional.
Ampyang Maulid di Loram Kulon bukan sekadar pesta rakyat atau peringatan keagamaan. Ia adalah wujud syiar, sedekah, gotong royong, serta cinta terhadap budaya dan ajaran Islam. Sebuah warisan yang menyatukan masa lalu dan masa kini dalam bingkai keberkahan dan kebersamaan.
Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk berita terbaru!






