Jatengkita.id – Sering kali kita berpikir bahwa tugas menunjukkan kasih sayang kepada anak adalah peran ibu. Ayah cukup hadir sebagai pelindung, penyedia nafkah, dan pemberi arahan. Padahal, keduanya memiliki bahasa cinta masing-masing.
Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, tidak hanya membutuhkan ayah sebagai sosok kuat, tetapi juga sebagai sumber pelukan hangat yang membuat hati mereka merasa aman.
Untuk Anak Perempuan: Pelukan Menumbuhkan Harga Diri
Anak perempuan yang dipeluk ayah akan merasa dirinya berharga. Pelukan itu seperti pesan tanpa kata: “Ayah mencintaimu tanpa syarat, dan kamu layak dicintai dengan cara yang terhormat.”
Psikologi modern menyebutnya sebagai secure attachment, yaitu ikatan emosional yang membuat anak merasa aman dan stabil. Dengan pelukan ini, anak tidak mudah mencari perhatian di luar rumah, karena jiwanya sudah kenyang dengan kasih sayang yang fitri.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ memberi teladan luar biasa. Setiap Fatimah radhiyallahu ‘anha datang, beliau berdiri, memeluknya, dan menciumnya. Ini bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi ajaran bahwa kasih sayang ayah adalah sumber kekuatan anak perempuan.

Untuk Anak Laki-laki: Sentuhan yang Membangun Keperkasaan Jiwa
Banyak ayah merasa canggung memeluk anak laki-lakinya. Padahal, justru pelukan dan tepukan lembut di bahu anak laki-laki adalah cara terbaik membentuk karakter. Sentuhan ayah mengirim pesan: “Ayah bangga padamu. Kamu laki-laki yang kuat, dan ayah ada di belakangmu.”
Anak laki-laki yang terbiasa menerima sentuhan kasih dari ayah, tidak tumbuh menjadi keras tanpa arah, atau dingin secara emosional. Ia kuat secara fisik, tetapi juga lembut hatinya.
Dalam teori psikologi, ini membentuk emosional maturity—kedewasaan emosional yang membuatnya mampu memimpin, namun tetap berempati.
Allah menyebut keluarga ideal dengan tiga kata: sakinah, mawaddah, rahmah. Ketenangan, cinta aktif, dan kasih sayang. Pelukan adalah wujud nyata dari ketiganya dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan urusan budaya atau modernisasi, tetapi bagian dari fitrah.
Di era digital, anak-anak lebih banyak mendapat sentuhan dari layar, bukan dari kehangatan manusia. Mereka bisa tersenyum di depan gawai, tetapi hatinya kosong. Pelukan ayah hadir sebagai jangkar emosi yang meneguhkan hati anak di tengah badai pergaulan.
Pelukan ayah kepada anak perempuan bukan tanda kelemahan, tetapi benteng kehormatan. Sentuhan ayah kepada anak laki-laki bukan bentuk memanjakan, tetapi cara menumbuhkan jiwa pemimpin yang penuh kasih.
Karena pada akhirnya, anak yang dipeluk ayahnya hari ini, akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak perlu memeluk kesedihan secara diam-diam di masa depan.
Baca juga: Menelusuri Peran Ayah dalam Keluarga Modern






