Infrastruktur Statis vs Beban Masif: DPRD Ungkap “Bom Waktu” Jalur Rawan di Jateng

Semarang — Rentetan kecelakaan di Jalur Silayur, Ngaliyan, menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk segera mengaudit kelaikan seluruh jalur rawan di wilayah ini. Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Much. Muchlis Ariston, menegaskan bahwa tragedi tersebut tidak boleh hanya dianggap sebagai kecelakaan lalu lintas biasa. Baginya, insiden Silayur harus menjadi momentum untuk melakukan Road Safety Audit (RSA) secara menyeluruh pada jalur-jalur dengan karakteristik serupa di seluruh Jawa Tengah guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.

“Kami melihat ada urgensi besar untuk melakukan audit keselamatan jalan serentak di titik-titik lain yang nasibnya sama seperti Silayur. Sebut saja Jalur Kertek di Wonosobo, Tanjakan Jambu di Kabupaten Semarang, hingga Jalur Bayeman di Purbalingga,” ujar Ariston dalam keterangannya di Semarang, Rabu (15/4/2026).

Muchlis Ariston menyoroti adanya ketimpangan yang kian lebar antara standar teknis infrastruktur dan realitas beban jalan saat ini. Hal tersebut tak ubahnya bom waktu yang menghantui pengguna jalan. Ia menilai, geometri jalan di sejumlah jalur ekstrem—seperti kemiringan jalan yang curam dan radius tikungan yang tajam—sudah tidak lagi memadai untuk mengakomodasi lonjakan volume kendaraan berat yang melintas setiap harinya. Kondisi tersebut diperparah dengan penataan tata ruang yang kian sempit akibat menjamurnya permukiman warga yang berdiri tepat di bibir jalur rawan.

“Perlu Kita akui bahwa banyak infrastruktur Kita saat ini bersifat statis, sementara beban kendaraan dan kepadatan penduduk di sekitarnya terus bertambah secara masif. Akibatnya, desain jalan yang mungkin dulu dianggap aman, kini justru menjadi ancaman karena tidak lagi mampu menahan laju kendaraan berat yang mengalami kendala teknis,” tegas Ariston.

Berkaitan dengan hal tersebut Pihaknya mendorong audit menyeluruh dengan kolaborasi antara Pemprov, Pemda, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Polri untuk meninjau kembali aspek teknis, mulai dari kemiringan jalan yang melebihi standar hingga radius tikungan yang membahayakan.

“Mengapa penting, karena hasil dari audit inilah yang nantinya akan menjadi peta jalan rawan kecelakaan tingkat provinsi agar kita punya basis data yang kuat dalam melakukan perbaikan infrastruktur,” ujarnya.

Selain audit, Muchlis Ariston menekankan pentingnya standarisasi pengaman jalan (guardrail) dan pembangunan jalur penyelamat (runaway truck ramp). Ia mengkritik kondisi guardrail saat ini yang dinilainya hanya berfungsi sebagai pembatas visual, bukan sebagai penahan beban kendaraan berat. Menurutnya, jalur-jalur truk harus dilengkapi dengan guardrail kelas heavy-duty atau crash barrier beton yang mampu menahan benturan kendaraan bermuatan 20 hingga 30 ton. Di sisi lain, keberadaan jalur penyelamat berisi pasir atau kerikil di turunan panjang dianggap sudah tidak bisa ditawar lagi untuk mengantisipasi kendaraan yang mengalami gagal rem.

Pendekatan selanjutnya mencakup manajemen lalu lintas kendaraan berat dan penataan tata ruang di sekitar jalan. Muchlis Ariston mendesak perlunya kebijakan yang lebih ketat, mulai dari pembatasan tonase, penyediaan area cek rem (check brake area), hingga pengaturan jam operasional khusus truk. Hal tersebut tentunya harus dibarengi dengan perlindungan terhadap warga yang tinggal di sepanjang jalur maut.

“Kita tidak bisa membiarkan permukiman berada tepat di bibir jalur ekstrem tanpa pengamanan. Harus ada zona aman di sekitar tikungan dan pemasangan pembatas beton permanen untuk melindungi rumah-rumah warga dari risiko kendaraan yang hilang kendali,” tambahnya.

Sebagai penyempurna, Muchlis mendorong pemanfaatan teknologi peringatan dini untuk meminimalisir kesalahan manusia (human error). Penggunaan kamera pemantau kecepatan khusus turunan, sensor suhu rem kendaraan, serta papan informasi digital (Variable Message Sign) dinilai efektif untuk memberikan peringatan real-time bagi pengemudi sebelum memasuki titik kritis jalan. Dengan integrasi teknologi ini, Dirinya berharap pengawasan di jalur tengkorak tidak lagi hanya mengandalkan pantauan fisik, tetapi juga sistem deteksi dini yang modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *