Rape Culture Pyramid: Dari Lelucon hingga Kekerasan Seksual

Rape Culture Pyramid: Dari Lelucon hingga Kekerasan Seksual
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Pernahkah kamu mendengar seseorang melontarkan candaan bernuansa seksual, lalu ketika ada yang merasa tidak nyaman, responnya justru, “Santai saja, itu cuma bercanda”? Inilah titik awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Kekerasan seksual bukan selalu bermula dari tindakan ekstrem. Ia tumbuh perlahan, berakar dari perilaku-perilaku kecil yang dibiarkan, dinormalisasi, bahkan ditertawakan. Dan untuk memahami bagaimana proses itu bekerja, ada satu kerangka konsep yang perlu kamu ketahui, yaitu Rape Culture Pyramid.

Apa Itu Rape Culture Pyramid?

Sebelum masuk ke konsepnya, penting untuk memahami dulu apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual.

Merujuk pada kumparan.com, kekerasan seksual adalah segala tindakan yang merendahkan, menghina, melecehkan, atau menyerang tubuh maupun fungsi reproduksi seseorang, dengan dampak serius terhadap kondisi fisik maupun psikologis korban.

Rape Culture Pyramid, atau Piramida Budaya Perkosaan, adalah sebuah kerangka konsep yang menggambarkan bagaimana budaya kekerasan seksual tumbuh subur di tengah masyarakat  seringkali tanpa disadari.

Piramida ini menunjukkan bahwa tindakan-tindakan yang tampak kecil dan sepele, bila terus dibiarkan dan dianggap wajar, dapat menciptakan ekosistem yang memungkinkan terjadinya kekerasan seksual paling ekstrem: pemerkosaan dan penganiayaan.

Penting untuk dipahami, seperti yang dijelaskan dalam Ending Rape Culture Activity Zine oleh Action Alliance, bahwa Rape Culture Pyramid bukan alat untuk membandingkan mana perilaku yang “lebih berbahaya” dari yang lain.

Tujuannya bukan untuk membuat hierarki kejahatan. Sebaliknya, piramida ini hadir untuk memperlihatkan bagaimana berbagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari saling terhubung dan secara kolektif memperkuat terjadinya kekerasan seksual.

Dengan kata lain, selama lapisan bawah piramida terus dibiarkan, lapisan paling atas tidak akan pernah bisa dihilangkan.

Tiga Kategori dalam Rape Culture Pyramid

  1. Normalization: Pewajaran yang Paling Berbahaya

Lapisan paling bawah sekaligus yang paling luas adalah normalization atau pewajaran. Di sinilah segalanya bermula.

Normalization mencakup semua perilaku yang sudah terlanjur dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Perilakunya dimulai dari komentar bernuansa seksual yang dilontarkan seenaknya, sikap seksis yang dibungkus humor, candaan tentang tubuh perempuan yang disambut tawa, hingga stereotip gender yang terus direproduksi dalam percakapan dan konten media.

Justru karena terasa “biasa” itulah lapisan ini menjadi yang paling berbahaya. Normalization tidak memunculkan alarm. Tidak ada yang merasa perlu bereaksi karena semuanya terasa seperti hal lumrah. Padahal, di sinilah pondasi dari seluruh bangunan kekerasan seksual diletakkan.

Ketika masyarakat tertawa bersama atas candaan seksual, ketika komentar merendahkan perempuan dianggap sebagai pujian, ketika sikap seksis dinormalisasi sejak anak-anak maka masyarakat secara tidak sadar sedang membangun toleransi terhadap kekerasan.

rape culture pyramid
(Gambar: istockphoto.com)
  1. Degradation: Ketika Perendahan Menjadi Tindakan

Lapisan kedua adalah degradation, atau perendahan martabat. Jika normalization bergerak di ranah kata-kata dan sikap, degradation sudah masuk ke wilayah tindakan nyata yang secara langsung menyerang harga diri seseorang.

Bentuk-bentuknya bisa sangat beragam. Catcalling di jalan yang membuat orang merasa tidak aman di ruang publik, pengambilan foto atau video seseorang tanpa izin, pengiriman gambar alat kelamin tanpa persetujuan (unsolicited explicit content), menguntit baik secara fisik maupun digital, hingga penyebaran konten intim sebagai bentuk balas dendam yang dikenal dengan istilah revenge porn.

Yang perlu digarisbawahi: tindakan-tindakan dalam kategori degradation ini sering kali masih diremehkan. Catcalling masih sering dianggap sebagai “pujian”. Mengambil foto diam-diam masih dianggap “tidak serius”.

Padahal, setiap tindakan ini meninggalkan luka nyata pada korban. Selain itu, juga rasa tidak aman, trauma, dan hilangnya rasa percaya terhadap lingkungan sekitar.

Di lapisan inilah victim blaming juga mulai bekerja secara aktif. Korban yang melapor justru dipertanyakan “Kenapa kamu ada di sana? Kenapa pakaianmu seperti itu?”, seolah-olah keberadaan atau penampilan korban adalah undangan atas tindakan yang menimpa mereka.

  1. Assault: Ujung dari Piramida yang Tidak Muncul Tiba-Tiba

Lapisan puncak dari Rape Culture Pyramid adalah assault, yaitu kekerasan seksual dalam bentuknya yang paling terang dan tidak terbantahkan. Di lapisan ini, tindakan sudah berupa serangan langsung terhadap tubuh dan integritas seseorang.

Contohnya mencakup pemaksaan hubungan seksual, pemberian obat-obatan atau alkohol tanpa sepengetahuan korban dengan tujuan pemerkosaan. Selain itu juga penganiayaan seksual dalam berbagai bentuknya.

Namun yang perlu dipahami adalah assault tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah produk dari dua lapisan di bawahnya yang dibiarkan tumbuh tanpa perlawanan. Pelaku kekerasan seksual bukan alien dari dunia lain.

Mereka adalah individu yang tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa merendahkan perempuan itu lucu, bahwa batasan orang lain bisa diabaikan, dan bahwa korban tidak perlu dipercaya.

Mengapa Kita Perlu Memahami Rape Culture Pyramid?

Karena selama ini kita sudah terlalu sering salah sasaran. Energi masyarakat lebih banyak dihabiskan untuk memperingatkan calon korban  jangan pulang malam, jangan berpakaian terbuka, jangan pergi sendiri daripada mempersoalkan mengapa pelaku bisa merasa aman melakukan kekerasan.

Rape Culture Pyramid mengajarkan bahwa pencegahan kekerasan seksual tidak bisa hanya berfokus pada puncak piramida.

Selama lapisan normalization terus dibiarkan, selama candaan seksual masih disambut tawa, selama catcalling masih dianggap pujian, selama victim blaming masih jadi respons pertama, maka kekerasan di lapisan atas tidak akan bisa dihentikan.

Perubahan nyata dimulai dari keberanian untuk tidak diam di lapisan paling bawah seperti menegur candaan yang tidak pantas, menolak ikut tertawa atas lelucon seksual, dan memilih untuk percaya pada korban ketika mereka akhirnya berani bersuara.

Karena kekerasan seksual tidak dimulai dari pemerkosaan. Ia dimulai dari tawa yang salah di waktu yang salah dan dibiarkan begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *