5 Hidden Gem Bangunan Peninggalan Belanda di Jawa Tengah

5 Hidden Gem Bangunan Peninggalan Belanda di Jawa Tengah
Pabrik Gula Trangkil, Pati (Gambar: ptkebonagung.com)

Jatengkita.id – Belanda memiliki banyak warisan bangunan yang masih kokoh berdiri di Indonesia, termasuk Jawa Tengah. Banyak peninggalan bangunan Belanda dalam era perkembangan masyarakat Jawa Tengah yang kental dengan budaya Jawa.

Berikut ini deretan bangunan di Jawa Tengah yang masih bisa dinikmati.

  1. Bendungan Wilalung 11 Pintu

Bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908-1918 ini berlokasi di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Agar kita dapat sampai ke lokasi bendungan tertua di Kudus tersebut, kita dapat menempuh jarak kurang lebih 17 km dari pusat kota. Bendungan ini dibangun dengan harapan dapat melindungi Kudus sebagai daerah pusat perdagangan keresidenan Semarang karena akibat banjir yang sering terjadi di zaman dahulu.

Selain itu, Belanda mengharapkan dengan adanya bendungan ini dapat membantu irigasi bagi lahan pertanian tebu saat itu. Bendungan yang mulai dioperasikan tahun 1908 ini memiliki 11 pintu dengan 9 pintu kearah Juwana dan dua pintu kerah Wulan.

Lebih banyak pintu ke arah Juwana dimaksudkan untuk oncoran sedimentasi di rawa–rawa Kudus dan Pati untuk melancarkan penanaman tebu dan menjadi pemasok gula. Namun sayangnya saat ini hanya ada sembilan pintu yang masih beroperasi.

Hal ini dikarenakan adanya sedimentasi di sungai Wulan, Serang dan Juwana. Jejak bangunan peninggalan Belanda ini juga dilengkapi dengan dua katrol pengangkut beton dan sampah di sekitaran bendungan.

Dahulu, bendungan yang kini hanya dapat difungsikan tiga pintu, sering digunakan untuk pemancingan karena melimpahnya ikan yang ada.

Namun kini bendungan yang juga memiliki jembatan penyeberangan dan rel kereta api yang tidak difungsikan ini menjadi salah satu sarana penghubung bagi kemajuan perekonomian antara dua desa dari kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak.

Kini bendungan yang masih terus dijaga perawatannya ini tidak hanya sebagai pengendalian air juga, namun juga sarana objek wisata atau swafoto para wisatawan dan warga sekitar.

Mengambil foto dengan latar belakang matahari tenggelam di atas rel kereta api di sini cukup menarik. Atau juga sekadar menikmati hembusan angin sembari melihat pemandangan sapi mereka mencari rumput.

Jika kamu kehausan dan ingin menikmati jajanan dapat juga ditemukan sejumlah warung kaki lima.

  1. Pabrik Gula Trangkil di Pati

Pabrik Gula peninggalan Belanda yang masih beroperasi ini didirikan oleh H. Muller di Desa Swaduk Kecamatan Wedarijaksa pada 02 Desember 1835.

Semenjak kepemilikan pabrik berubah oleh PAO Waveren Pancras Clifford, pabrik ini kemudian berpindah ke Desa Trangkil pada tahun 1838-1841.

Sempat terjadi beberapa perubahan kepemilikan. Pabrik yang pernah dikelola Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negera ini, semenjak tahun 1993 sampai sekarang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKK-BI) dan berbadan hukum PT Kebon Agung.

Pabrik ini berfokus untuk menghasilkan produksi Gula SHS (Superium Hoofd Suiker). Gula buatan Pabrik Gula Trangkil telah melalui uji coba dan bersertifikast SNI serta berlabel Halal MUI.

Terdapat juga produk Gula Ritel yang dihasilkan oleh pabrik gula ini, biasanya dikemas dalam berat bersih 1 kilogram.

Masih terdapat beberapa warisan zaman Belanda seperti kereta api pengangkut tebu, dan beberapa peralatan pabrik pada masa itu. Sebagai pabrik peninggalan Belanda yang telah lama dibangun ini, banyak dampak yang dirasakan terutama oleh warga sekitar.

Sebut saja meningkatnya pendapatan bagi penduduk terutama wilayah Desa Trangkil dan dampak positif terhadap lingkungan sekitar.

  1. Gedung Papak Salatiga

(Gambar: Harian Merapi)

Berlokasi di Jl. Letjend Sukowati No. 51 Salatiga, gedung  ini berdiri pada abad ke  19 atau tahun 1850 dan menjadi saksi bisu dari perkembangan Kota Salatiga. Bangunan ini berbentuk rata atau papak, yang tampak unik dari bangunan zaman Belanda pada umumnya.

Bagian induk dari gedung ini dilengkapi ruang tamu dan ruang pertemuan yang bernuansa Eropa. Awalnya gedung ini dibangun oleh Baron Van Heeckeren, seorang petinggi militer Belanda dan difungsikan sebagai tempat persinggahan Ratu Juliana dari Belanda.

Namun belum ditemukan literatur mengenai apakah Ratu Juliana sempat datang ke Salatiga dan berkunjung ke Gedung Papak ini, Pada akhirnya bangunan yang begitu kental nuansa Belanda ini, dibeli oleh pihak Pemkot Salatiga pada tahun 1950.

Kemudian dijadikan sebagai Kantor Walikota Salatiga dan tercatat sebagai bangunan cagar budaya.

  1. Fort De Beschermer Pekalongan

Sang Benteng Pelindung yang dijadikan logo Kota Pekalongan ini menjadi saksi bisu liciknya VOC dalam siasat perang Jawa I. Lokasinya di pinggiran Sungai Loji sebagai upaya VOC dalam perluasan wilayah sebelum Perjanjian Giyanti.

Benteng ini digunakan untuk pengamanan jalur perdagangan di Laut Utara Jawa oleh VOC dan pengawasan terhadap pelabuhan di Krapyak. Bangunan yang terkenal disebut Benteng Pekalongan ini memiliki luas 5.170 m2 dibangun pada tahun 1754.

Benteng ini memiliki dua bastion pada salah satu diagonalnya dan memiliki dua ruang pelindung untuk satu penembak. Namun kini hanya dapat ditemukan satu ruang pelindung rahasia.

Sayangnya, kemegahan dari benteng ini tidak dapat lagi dinikmati sebagai bukti peninggalan Belanda yang terawat dikarenakan banyak bagian benteng yang hancur setelah perang kemerdekaan.

Sehingga, semenjak tahun 1985 hingga kini dijadikan sebagai rumah tahanan Negara kelas IIA yang lebih terkenal sebagai Rutan Lodji. Benteng ini telah dilakukan renovasi sampai empat kali.

Renovasi meliputi pembangunan kantor lapas, perbaikan bagian pagar pembatas bloten dan pagar inspeksi, serta terakhir pada tahun 2009 peninggian tembok penjara.

  1. Benteng Pendem Cilacap

Dalam bahasa Belanda disebut Kusbatterij op de Lantong te Cilacap. Bangunan ini terletak di Jl. Benteng, Sentolokawat, Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap dan selesai dibangun pada tahun 1879.

Kata Pendem bermakna terpendam karena bentuk bangunan yang berada dibawah tanah sehingga nampak seperti terpendam.

Benteng ini akhirnya ditemukan berdasarkan proses penggalian yang telah terpendam oleh tanah pesisir pantai Teluk Penyu yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Cilacap.

Awalnya Belanda membangun benteng ini karena lokasinya dianggap strategis  untuk pendaratan dan terlindung oleh Pulau Nusakambangan.

Benteng yang dahulu  dikuasai Belanda sampai tahun 1942 ini, akhirnya direbut oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah untuk dijadikan sebagai latihan perang dan pendaratan.

Awalnya benteng ini memiliki lahan sekitar 10,5 hektar. Namun sampai saat ini hanya tersisa 6.5 hektar saja. Benteng ini memiliki beberapa ruangan meliputi ruang barak, ruang amunisi, penjara dan beberapa terowongan.

Yang unik dari benteng ini adalah adanya terowongan bawah tanah yang tersambung dengan Pulau Nusakambangan. Kini difasilitasi juga area permainan untuk anak–anak  seperti wahana sepeda air dan rusa yang dibiarkan hidup liar di sekitar benteng ini.

Disamping itu disediakan fasilitas toilet dan musala sehingga memudahkan para wisatawan yang akan berkunjung menghabiskan waktu menikmati suasana alami dan sejuk.

Exit mobile version