Bukan Sekadar Ornamen, Ini Makna Kaca Patri Lawang Sewu

Bukan Sekadar Ornamen, Ini Makna Kaca Patri Lawang Sewu
(Gambar: kompas.id)

Jatengkita.id – Kaca patri di Lawang Sewu, Semarang, bukan sekadar hiasan berwarna yang memperindah bangunan bersejarah.

Empat panel kaca yang menghiasi bagian tangga utama menyimpan gambaran tentang kekayaan alam Jawa, perkembangan kota maritim, hubungan dengan Belanda, hingga kejayaan perkeretaapian pada masa kolonial.

Melalui simbol tumbuhan, kota, figur perempuan, dan roda bersayap, kaca patri ini memperlihatkan hubungan antara seni arsitektur dan kepentingan ekonomi pada masa itu.

Karya tersebut dibuat oleh Johannes Lourens Schouten dari studio ’t Prinsenhof di Delft, Belanda.

Keberadaannya menjadi salah satu daya tarik Lawang Sewu, gedung yang dahulu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Menurut PT Kereta Api Indonesia (KAI), salah satu ornamen kaca patri menggambarkan roda bersayap sebagai simbol kejayaan perkeretaapian pada masanya.

Kekayaan Alam dan Kesuburan Jawa

Panel kaca patri di sisi kiri menggambarkan dedaunan yang melambangkan kemakmuran tanah Jawa serta keindahan alamnya.

Motif tersebut merepresentasikan kekayaan flora dan fauna yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan kegiatan ekonomi pada masa kolonial.

Pada periode itu, berbagai hasil bumi dari wilayah pedalaman diangkut menuju kota-kota perdagangan dan pelabuhan. Kereta api mendukung distribusi komoditas dengan menghubungkan daerah penghasil dengan pusat perdagangan di pesisir.

Gambaran alam yang subur dalam kaca patri dapat dibaca sebagai representasi kekayaan sumber daya Jawa. Namun, di balik kemakmuran tersebut, terdapat sejarah pemanfaatan hasil bumi untuk kepentingan ekonomi kolonial.

Baca juga: Misteri Lorong Bawah Tanah Lawang Sewu Semarang

Komoditas dari Nusantara menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan wilayah jajahan dengan pasar internasional.

Semarang dan Batavia sebagai Kota Maritim

Panel lainnya menggambarkan Semarang dan Batavia. Kedua kota tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan dan pelayaran di Hindia Belanda.

Semarang berkembang sebagai kota pelabuhan di pesisir utara Jawa. Letaknya mendukung hubungan perdagangan antara daerah pedalaman dan jalur pelayaran.

Sementara itu, Batavia menjadi pusat administrasi pemerintahan kolonial sekaligus salah satu pusat perdagangan utama.

Dalam susunan kaca patri, kedua kota tersebut merepresentasikan pintu maritim yang menghubungkan wilayah Jawa dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.

Pelabuhan dan kereta api menjadi bagian dari sistem transportasi yang mendukung pergerakan barang dari daerah penghasil menuju pasar.

Kehadiran kedua kota itu juga memperlihatkan hubungan antara infrastruktur dan kepentingan ekonomi kolonial. Jalur kereta api membantu mengangkut hasil bumi, sedangkan pelabuhan menghubungkan komoditas tersebut dengan perdagangan antarpulau dan internasional.

(Gambar: lostandwander1976.com)

Hubungan Jawa dengan Belanda

Kaca patri Lawang Sewu juga memuat gambaran yang berkaitan dengan kota-kota di Belanda, termasuk Amsterdam. Simbol-simbol tersebut memperlihatkan hubungan antara wilayah jajahan dan pusat perdagangan di Eropa.

Amsterdam dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting Belanda, sedangkan Semarang dan Batavia berperan sebagai kota pelabuhan di Hindia Belanda.

Hubungan tersebut mencerminkan jaringan ekonomi yang menghubungkan sumber daya Nusantara dengan kepentingan perdagangan Belanda.

Susunan gambar pada kaca patri dapat ditafsirkan sebagai representasi hubungan ekonomi dan kekuasaan kolonial. Kekayaan alam Jawa serta aktivitas perdagangan kota-kota pelabuhan menjadi bagian dari sistem yang mendukung kepentingan Belanda.

Penafsiran ini perlu ditempatkan dalam konteks sejarah kolonial, ketika pengembangan infrastruktur juga berkaitan dengan kebutuhan distribusi komoditas dan penguasaan wilayah.

Dewi Fortuna, Dewi Venus, dan Roda Bersayap

Bagian tengah bawah kaca patri menampilkan dua figur perempuan yang kerap diidentifikasi sebagai Dewi Fortuna dan Dewi Venus dalam mitologi Romawi. Dewi Fortuna dikaitkan dengan keberuntungan, sedangkan Dewi Venus dikenal sebagai dewi cinta dan kecantikan.

Kehadiran kedua figur tersebut ditafsirkan sebagai simbol harapan atas keberuntungan, kemakmuran, dan kejayaan. Makna itu berkaitan dengan gambaran perkembangan ekonomi serta transportasi pada masa kolonial.

Di antara kedua figur tersebut terdapat roda bersayap yang menjadi simbol penting dalam ornamen kaca patri Lawang Sewu. KAI menjelaskan bahwa simbol ini melambangkan kejayaan perkeretaapian pada masanya.

Perpaduan figur mitologi dan roda bersayap memperlihatkan bagaimana seni dekoratif digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai kemajuan dan kemakmuran.

Kereta api tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga infrastruktur yang mendorong perubahan ekonomi dan perkembangan kota di Jawa.

Warisan Seni dalam Sejarah Perkeretaapian

Lawang Sewu dibangun mulai 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907 sebagai kantor pusat NISM. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouëndag. Pembangunan gedung tambahan berlangsung pada 1916–1918.

Baca juga: Sejarah Lawang Sewu Era Kolonial, dari Kantor hingga Tempat Eksekusi

Kaca patri karya J.L. Schouten menjadi salah satu elemen yang memperkuat karakter arsitektur bangunan tersebut.

Penggunaan kaca berwarna, susunan gambar, dan detail ornamen menunjukkan bahwa seni dekoratif memiliki peran penting dalam membentuk identitas visual gedung.

Kini, Lawang Sewu dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia dan difungsikan sebagai museum yang menyajikan sejarah perkeretaapian Indonesia.

Kaca patri di dalamnya menjadi bagian dari warisan arsitektur yang dapat membantu pengunjung memahami hubungan antara transportasi, perdagangan, dan sejarah kolonial.

Makna kaca patri Lawang Sewu tidak hanya terletak pada keindahan visualnya, tetapi juga pada gambaran sejarah yang terkandung di dalamnya.

Dari kekayaan alam Jawa hingga simbol kejayaan kereta api, ornamen tersebut memperlihatkan bagaimana seni arsitektur merekam kepentingan ekonomi dan perkembangan transportasi pada masa kolonial.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah, klik di sini!

Exit mobile version