Berita  

Pakar UNNES Jelaskan Alasan Ekologis di Balik Rehabilitasi Mangrove Pidodokulon

Pakar UNNES Jelaskan Alasan Ekologis di Balik Rehabilitasi Mangrove Pidodokulon
(Gambar: Arsip)

Jatengkita.id – Penanaman 60 ribu bibit mangrove oleh PAMA Group di Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, bukan sekadar soal mencari lahan kosong di tepi pantai.

Lokasi ini punya dasar ekologis: kawasan tersebut berada di sekitar Muara Sungai Bodri, tempat air tawar sungai bertemu air laut dari Laut Jawa.

Pertemuan Dua Jenis Air yang Membentuk Estuari

Pertemuan air tawar dan air laut di muara membentuk estuari, yaitu perairan payau. Dasarnya berupa substrat berlumpur hingga berpasir yang terus menerima masukan material organik dan nutrien dari daratan.

Menurut penjelasan akademisi, karakteristik inilah yang menjadi salah satu faktor penting bagi keberadaan dan perkembangan ekosistem mangrove.

Baca juga: Semarang Mangrove Center: Upaya Konservasi Mangrove Berbasis Komunitas

Dengan kata lain, mangrove membutuhkan perpaduan kondisi yang tidak ada di semua garis pantai: air yang tidak sepenuhnya tawar maupun asin, dasar lunak tempat akar bertumpu, serta pasokan nutrien dari hulu. Muara Sungai Bodri menyediakan kombinasi tersebut.

Akresi: Daratan yang Bertambah dari Sedimen

Dosen FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES), Trida Ridho Fariz, menambahkan satu faktor lagi. Menurutnya, kawasan Muara Bodri termasuk wilayah dengan proses akresi yang relatif tinggi, yakni penambahan daratan akibat akumulasi sedimen.

“Muara Bodri memiliki karakteristik estuari karena menjadi wilayah pertemuan antara air tawar Sungai Bodri dan air laut. Selain itu, kawasan ini memiliki proses akresi yang relatif tinggi, sehingga secara geomorfologis terdapat penambahan material sedimen yang dapat mendukung perkembangan habitat mangrove,” jelas Trida.

Baca juga: Ancaman Ketahanan Ekosistem Mangrove Pantura

Artinya, sedimen yang dibawa aliran sungai tidak hanya lewat, tetapi mengendap dan membentuk dasar baru di pesisir. Dasar yang terus bertambah inilah yang dapat menjadi tempat tumbuh bagi habitat mangrove.

Bagi program rehabilitasi, kondisi ini menjadi pertimbangan ekologis yang relevan dalam memilih lokasi penanaman.

(Gambar: Arsip)

Hubungan Timbal Balik: Sedimen Membentuk Mangrove, Mangrove Menahan Sedimen

Hubungan antara mangrove dan muara berjalan dua arah. Sedimen dari sungai yang terakumulasi di pesisir dapat menjadi bagian dari pembentukan habitat mangrove.

Sebaliknya, vegetasi mangrove yang berkembang membantu menangkap dan menahan sedimen, sehingga ikut menstabilkan kawasan pesisir.

Siklus ini menjelaskan mengapa rehabilitasi di muara dipandang lebih menjanjikan secara ekologis. Mangrove yang tumbuh berpotensi memperkuat proses alami yang sudah berlangsung di kawasan tersebut, bukan melawannya.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan Jadi Sebab Banjir Rob di Kendal

Fungsi Ekologis yang Dituju

Di luar soal sedimen, ekosistem mangrove memiliki sejumlah fungsi ekologis yang menjadi alasan program ini dijalankan.

  1. Membantu meredam energi gelombang dan melindungi garis pantai.
  2. Menyediakan habitat bagi berbagai organisme.
  3. Mendukung keanekaragaman hayati.
  4. Berperan dalam penyimpanan karbon pada biomassa dan sedimen.

Menanam Itu Awal, Bukan Akhir

Meski kondisi muara mendukung, Trida mengingatkan bahwa lokasi yang baik belum menjamin keberhasilan. Rehabilitasi tetap perlu ditopang oleh tiga hal. Pertama, pemilihan jenis yang sesuai.

Kedua, kondisi hidrologi yang tepat. Ketiga, pemeliharaan dan pemantauan secara berkelanjutan.

Peringatan ini sejalan dengan arah yang ditegaskan PAMA Group. Perwakilan manajemen PAMA menyatakan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga manfaat lingkungan dan sosial dalam jangka panjang.

Setelah target 60 ribu bibit tercapai, perhatian PAMA Group kini diarahkan pada pemeliharaan, pemantauan, dan keberlanjutan pertumbuhan mangrove.

Keberhasilan program diukur dari kemampuan vegetasi untuk tumbuh dan membentuk ekosistem pesisir yang berfungsi dalam jangka panjang.

(Gambar: Arsip)

64 Mahasiswa Internasional Belajar Langsung di Lumpur Pesisir Kendal Lewat Penanaman Mangrove

Sebanyak 64 mahasiswa internasional peserta NSC Flash turun langsung ke kawasan pesisir Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, untuk ikut menanam bibit mangrove pada Oktober 2026.

Mereka berasal dari belasan negara, antara lain Nigeria, Timor-Leste, Sudan, Pakistan, Yaman, Thailand, Jepang, Kenya, Afghanistan, Uganda, Mali, Gambia, Maroko, Vietnam, Zimbabwe, dan Spanyol.

Kegiatan ini lebih dari sekadar aksi tanam. Para peserta mendapat pengalaman belajar lapangan tentang ekosistem pesisir, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.

Pidodokulon dipilih karena berada di Muara Sungai Bodri, tempat air tawar dan air laut bertemu sehingga membentuk habitat payau yang cocok bagi mangrove.

Kegiatan ini terselenggara lewat kerja sama FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan PAMA Group, dengan dukungan P3MP Kendal sebagai mitra rehabilitasi.

Penanaman Oktober ini menjadi bagian dari target 60 ribu bibit mangrove yang kini telah dituntaskan PAMA Group.

Keterlibatan mahasiswa lintas negara memberi nilai tambah pada program rehabilitasi ini. Pesan tentang kepedulian terhadap pesisir ikut dibawa ke komunitas internasional, sejalan dengan SDG 13, 14, 15, dan 17 yang menjadi rujukan program.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah, klik di sini!

Exit mobile version